Kementerian Lintas Sektor Kampanyekan Bahaya AMR & PIB di Malang

Kementerian lintas sektor berkumpul di Universitas Brawijaya, Malang pada hari Sabtu (17/11/2018)

Kementerian Lintas Sektor Kampanyekan Bahaya AMR & PIB di Malang
ISTIMEWA
Kementerian lintas sektor berkumpul di Universitas Brawijaya, Malang pada hari Sabtu (17/11/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kementerian lintas sektor, mulai dari Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan organisasi lainnya yaitu FAO, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan Indonesian One Health University Network (INDOHUN) berkumpul di Universitas Brawijaya, Malang pada hari Sabtu (17/11/2018).

Pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik Se-dunia yang diadakan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance / AMR), yang pada acara ini juga membahas ancaman penyakit infeksi baru (PIB).

Baca: Gabriella Natalia Luntungan Sebut Fun Walk Olly Pe Tamang, Spektakuler!

Dalam sambutan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang disampaikan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, drh Syamsul Ma'arif, M.Si mengatakan, sebuah laporan global review yang dirilis pada 2016 menggambarkan model simulasi dimana kejadian resistensi antimikroba diprediksi akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia pada 2050.

Di tahun itu, diperkirakan kematian mencapai 10 juta orang per tahun dan angka tertinggi terjadi di Asia.

Baca: Kebiasaan yang Dilakukan Seseorang Saat Insomnia Sesuai Zodiak, Cancer Akan Jogging Malam-malam

”Karena itu, kita semua berkumpul disini. Mengajak untuk sama-sama memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru. Terutama bagi adik-adik kita yang akan lulus dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kesehatan Masyarakat serta fakultas teknis lainnya agar bisa menjadi agen perubahan untuk mencapai kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan yang optimal,” ujar drh Syamsul Ma'arif MSi dalam rilis yang diterima Tribunmanado.co.id.

Baca: Mor Serahkan Piala Dunia Best Emergency Service in The World Pada Wali Kota

Senada dengan kementan, dr. Yulianto Santoso, Dokter Spesialis Anak yang juga mewakili Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) mengatakan, dirinya sering menghadapi pasien yang tidak bisa disembuhkan hingga meninggal dunia karena obat-obatan tidak lagi mempan membunuh kuman penyakit. Perilaku petugas kesehatan yang mudah memberikan antibiotik, termasuk kemudahan masyarakat untuk membelinya dinilai dr. Yulianto sebagai pemicu terjadinya resistensi antimikroba.

Baca: Hati-hati Curhat Masalah Pribadi pada 4 Zodiak Ini Berbahaya, Privasimu Bisa Menyebar Cepat

“Kita pernah melakukan suvey yang hasilnya menyatakan dari tahun ke tahun penggunaan antibiotik untuk batuk pilek, dan diare tetap tinggi yaitu sekitar 60 persen. Ke puskesmas orang sakit karena batuk pilek, juga dikasih antibiotik. Kalau tidak dikendalikan, 10 juta jiwa akan meninggal setiap tahun pada 2050. Itu berarti setiap satu menit ada 19 kematian akibat infeksi bakteri yang tidak bisa disembuhkan" jelasnya.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Minggu 18 November 2018: Gemini Ambil Langkah Perubahan, Virgo Kebetulan

Sementara itu Kemenko PMK dalam paparanya menyebutkan, para pakar kesehatan hewan dunia telah mengelompokan pathogen (kuman berbahaya penyebab penyakit) dari 3 area, yaitu 1.415 pathogen pada manusia, 372 pathogen pada karnivora domestik (anjing,kuncing, dsb) dan 616 pathogen penyakit pada ternak.

Baca: Wali Kota Ajak Rohaniawan Lawan Berita Hoaks

“Dalam dekade terakhir memang wabah akibat virus menjadi sorotan dunia seperti virus flu H1N1, Ebola, Mers-CoV dan Zika. Namun ternyata perubahan karakter pathogen juga sedang terjadi pada bakteri, yang secara terus menerus bertambah kebal dari berbagai golongan antibiotik,” jelas drh Rama Fauzi dari Kemenko PMK.

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Indry Panigoro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved