Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

JNE Tunjang UMKM di Sulut, Avan Sumigar dan Meyti Kalalo Sukses Meraih Mimpi

Avan pun makin serius berbinis knalpot dan memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah BUMN

Penulis: Finneke | Editor: David_Kusuma
TRIBUN MANADO/FINNEKE WOLAJAN
Meyti Kalalo 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Avan Sumigar (28) tampak mengamati proses penggantian knalpot mobil oleh salah seorang montir, di bengkel miliknya sore itu. Ia ingin memastikan karyawannya itu menjalankan tugas dengan baik. Rutinitas yang ia lakukan sejak tiga tahun terakhir.

Pria asal Waleure Langowan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini adalah pengusaha knalpot yang membuka bengkel di seputaran Stadion Klabat Manado. Di usia yang terbilang muda ini, Avan telah berhasil menjalankan bisnis dengan omzet rata-rata Rp 60 juta per bulan. Mimpinya memiliki rumah, mobil dan jalan-jalan ke luar negeri sebelum ia berumur 30 tahun, telah dicapainya.

Bisnisnya ini bermula ketika ia membeli knalpot secara online, yang harganya jauh lebih murah dari harga yang ia temui di toko onderdil di Manado. Avan kaget melihat selisih harga mencapai 50 persen. Ia membatin, kenapa tidak ia terjun di bisnis ini. Ada peluang besar meraup untung sebanyak-banyaknya. Ia memulai dengan membeli satu unit knalpot seharga Rp 500 ribu, kemudian menjualnya kembali secara online. Tak butuh waktu lama, knalpot tersebut langsung laku. Ia berkesimpulan bisnis ini menjanjikan.

Selain knalpot, Avan memanfaatkan peluang lain untuk jualan laptop. Ia berani membeli sejumlah unit laptop, untuk dipasarkan kembali. Namun ternyata bisnis tersebut lesu. Tiga bulan barangnya tak jua laku. Avan tak patah arang, ia terus mempromosikannya secara online. Perlahan namun pasti laptopnya habis, namun ia enggan jualan laptop karena pasarnya lesu.

Avan pun makin serius berbinis knalpot dan memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah BUMN. Ia mulai membeli knalpot dalam jumlah banyak dan menjualnya kembali secara online. Pasar ternyata menyambut bisnisnya. Sampai akhirnya ia juga membuka bengkel penggantian knalpot mobil dan mempekerjakan tiga karyawan.

Avan mengakui, jasa perusahaan logistik memang berpengaruh besar dalam bisnisnya. Ia yang sejak awal memasok barang dari luar daerah, tentu harus menggunakan jasa perusahaan logistik juga. Begitu pun sebaliknya, ia yang berjualan secara online harus menjamin kepercayaan konsumen. Jika ternyata pengirimannya tak memuaskan, bisnisnya tak akan selancar sekarang.

Avan telah memenuhi permintaan konsumennya di Sulawesi Utara, Papua, Gorontalo, Palu bahkan hingga ke Thailand dan Brunei. Avan pun memercayakan JNE untuk mengirim pesanan konsumen dari berbagai daerah di dalam negeri. Hal yang sama ketika ia juga memesan barang dagangannya dari distributor. Sejauh ini Avan tak pernah mendapat protes dari pelanggan onlinenya. Alasan Avan memilih JNE karena jangkauan pengiriman JNE begitu luas.

“Jangkauan JNE luas, ada di mana-mana. Apalagi sekarang kita bisa mengecek posisi pengiriman secara realtime dengan nomor resi dari JNE. Dibandingkan dengan jasa logistik lainnya yang belum realtime. Ketika barang sudah saya kirim, tinggal percayakan pada JNE barang akan tiba dengan baik. Pelanggan pun bisa cek kapan saja,” ujarnya.

Baru tiga tahun terakhir ia berbisnis knalpot, namun sudah sejak tahun 2012 ia terjun di dunia bisnis. Mulai dari jualan pisang goreng, jam tangan dan aksesoris ponsel. Berbagai cara ia lakukan untuk mewujudkan mimpinya sukses di usia muda. Jika hanya menjadi karyawan, menurutnya itu takkan terwujud.

Avan pun rajin membaca buku kisah pengusaha sukses yang berhasil mewujudkan mimpnya. Dari situ ia makin termotivasi. “Buku pertama yang saya baca adalah Mimpi Sejuta Dolar dari Merry Riana. Ada juga buku-buku lainnya. Saya awalnya berinvestasi pada buku,” ujarnya saat berbincang dengan Tribun di bengkelnya, (9/10/2018).

Seperti Avan, pasangan suami istri Meyti Kalalo (30) dan Frangky Wagiu (30) juga punya kisah sukses sebagai pengusaha muda. Keduanya sukses membangun usaha sambal dan abon yang terbuat dari ikan roa dan cakalang. Yuki, Amey dan Bunaken, adalah merek produk mereka. Mereka memulai bisnis sejak tahun 2005. Meyti mengaku produk mereka adalah yang pertama di Manado, sebelum produk serupa menjamur seperti sekarang.

Omzet rata-rata per bulan Rp 60 juta, paling banyak Rp 98 juta. Saat ini produk mereka ini telah tersebar di hampir semua toko souvenir, terutama toko-toko besar di Manado. Produk mereka memang paling banyak laku dari pajangan produk di toko. Namun penjualan online juga tak kalah menguntungkan. Mereka juga memasarkan produk mereka di situs-situs penjualan online.

Sambal dan abon mereka telah menyebar di sejumlah daerah seperti di Jawa, Jakarta, Bali dan beberapa daerah lainnya. Tak jarang pula, pelanggan membawa produk mereka hingga ke luar negeri. “Kami sering menggunakan jasa JNE untuk pengiriman barang, karena memang dekat rumah. Kami mengirim barang sesuai permintaan di setiap daerah,” jelasnya.

Masyarakat Sulawesi Utara terkenal dengan daya beli yang signifikan untuk industri logistik, khususnya JNE. Peningkatan dari tahun ke tahun rata-rata di atas 30 persen. Hal ini pun membuat JNE terus berupaya memberikan pelayanan maksimal dan berkualitas setiap hari. Kepala Cabang JNE Manado, Julianus Barthen mengatakan ada parameter dalam mengukur kualitas pelayanan JNE tersebut.

Di antaranya proses pengiriman para kurir telah menggunakan teknologi yang belum dipakai oleh perusahaan logistik lainnya. Pelanggan bisa mengecek kiriman secara realtime. Perusahaan lain menurut Barthen, masih bersistem ontime.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved