IMF Menilai Kebijakan Tarif Impor Bisa Hancurkan Ekonomi Amerika Serikat

IMF mendorong negara-negara untuk menyelesaikan sengketa perdagangan tanpa melakukan kebijakan balas dendam.

IMF Menilai Kebijakan Tarif Impor Bisa Hancurkan Ekonomi Amerika Serikat
AP PHOTO
Direktur IMF Christine Lagarde. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dana Moneter Internasional ( IMF) menyatakan, kebijakan tarif impor baja dan alumunium yang diterapkan AS akan membuat ekonomi negara tersebut hancur.

Selain itu, kebijakan ini juga akan berdampak pada ekonomi negara-negara mitra dagang AS. '

Oleh karena itu, IMF mendorong negara-negara untuk menyelesaikan sengketa perdagangan tanpa melakukan kebijakan balas dendam.

"Pembatasan impor yang diumumkan Presiden AS (Donald Trump) cenderung menyebabkan kerusakan tidak hanya di luar AS, tapi juga pada ekonomi AS sendiri, termasuk sektor manufaktur dan konstruksinya, yang merupakan pengguna utama baja dan alumunium," tulis IMF dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Reuters, Senin (5/3/2018).

Pada pekan lalu, Trump menyatakan pihaknya berencana mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk impor baja dan 10 persen untuk impor alumunium.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi lapangan kerja di AS dalam menghadapi produk asing yang lebih murah.

Kebijakan ini menuai kritik tajam dari sejumlah negara, termasuk Kanada dan Uni Eropa. Selain itu, China juga mengecam keras rencana tersebut.

IMF tidak mengelaborasi lebih lanjut mengenai kerusakan ekonomi yang dimaksud.

Saat ini, IMF telah melakukan pembaruan proyeksi ekonomi sebelum pertemuan dengan 189 negara anggotanya pada April 2018 mendatang.

Sejumlah negara pun menebar ancaman untuk melawan kebijakan Trump tersebut.

China menyatakan tidak segan menerbitkan kebijakan untuk merespon kebijakan Trump itu, sementara Uni Eropa mengancam bakal menerapkan tarif untuk impor sejumlah produk dari AS.

Berita ini sudah terbit di Kompas.com dengan judul IMF: Kebijakan Tarif Impor Bisa Hancurkan Ekonomi AS

Editor: Siti Nurjanah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help