TribunManado/

(Travelling) Belajar Arti Kerukunan dari Warga Mopuya

Tanahnya subur dan kaya. Kandungan perut bumi Dumoga membuatnya tersohor karena begitu kaya mineral berharga.

(Travelling) Belajar Arti Kerukunan dari Warga Mopuya
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Rumah ibadah berdampingan di Warga Mopuya di Dumoga, Bolaang Mongondow 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOLMONG - Warga Mopuya di Dumoga, Bolaang Mongondow boleh berbangga. Warisan leluhur, indahnya bersama dalam perbedaan terus dirawat. Oase di tengah kehidupan berbangsa yang acap diganggu intoleransi.

Dataran Dumoga memang kaya. Daerah ini lumbung berasnya Sulawesi Utara.

Tanahnya subur dan kaya. Kandungan perut bumi Dumoga membuatnya tersohor karena begitu kaya mineral berharga.

Tapi tak cuma itu. Ada harta yang jauh lebih berharga. Warisan budaya keberagaman. Sebuah kekayaan yang tak akan pernah habis karena terus dijaga.

Dumoga layak menjadi lokasi yang tepat untuk wisata pluralisme. Indahnya kerukunan warga dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda.

Kerukunan itu tersimbol jelas dari indahnya jejeran masjid, gereja dan pura yang berdampingan. Tak sekadar megah, justru benar-benar menggambarkan kehidupan keseharian warga Mopuya yang menjunjung Torang Samua Basudara.

Warga Muslim dari suku Mongondow dan Jawa, Hindu dari Bali serta Kristen dari Minahasa hidup rukun dan damai. Anda bisa melihat bagaimana kehidupan plural membawa warga pada kehidupan yang makmur.

Itu ditandai dengan Tugu Tani yang berada di tengah Mopuya. Tugu ini melambangkan kemakmuran Dumoga sebagai lumbung beras di Bolaang Mongondow.

Kawasan ini juga tengah diincar Pemkab Bolmong sebagai destinasi wisata budaya dan religi andalan di Bolmong. Datang ke sini akan membuka mata wisatawan lebar-lebar, betapa indahnya hidup rukun di tengah perbedaan.

Wisatawan akan mendapat informasi bagaimana rumah-rumah ibadah ini bersikap saat jam ibadah bertepatan. Dan itu sering terjadi.

Di Dumoga, tradisi warga Hindu dengan ritual mereka sangat mudah ditemui. Serasa berada di Bali, saat mereka merayakan Hari Raya Nyepi, Galungan, Kuningan atau semacamnya.

Yang uniknya lagi, warga Muslim dan Kristen bahkan turut meramaikan perayaan mereka saat Nyepi. Sebaliknya, begitu pula saat Muslim dan Kristen merayakan hari raya. Warga dan pemuda setempat saling menjaga jalannya ibadah masing-masing.

Sempatkan waktu berkunjung ke Mopuya. Selain wisata pluralisme, dataran Dumoga juga menyajikan pemandangan alam nan indah.

Barisan bukit dan persawahan yang berdampingan memberi pengalaman tersendiri. Dumoga surga pluralisme di Indonesia. 

Penulis: Finneke_Wolajan
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help