Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Piala Dunia Brasil 2014

Hiburan dari Sarajevo

Bola menghibur dunia, begitulah pesona cabang olahraga sepak kulit bundar ini sejak abad yang lalu, hari ini dan hingga kapan pun

Penulis: | Editor:

Catatan Sepakbola Dion DB Putra*

SREBRENICA melambungkan nama  Ratko Mladic. Srebrenica, kota kecil pegunungan di sisi timur Bosnia-Herzegovina, oleh kenyataan sejarah, oleh kekejian nafsu hewani manusia, kurang lebih sama dan sebangun dengan kamp penyiksaan warga Yahudi di Auschwitz Jerman, tempat yang membuatku merinding saat mengunjunginya dalam lawatan ke Jerman, Maret 2010 silam.

Srebrenica-Ratko Mladic,  Adolf  Hitler-kamp Auschwitz  sama-sama menjadi nama yang menakutkan, sama-sama menebarkan horor,  nama yang akan lama dikenang dunia. Bahkan mungkin hingga akhir zaman (jika itu memang ada).

Di Srebenica medio Juli 1995,  kurang tiga tahun pasca kemerdekaan Bosnia, di hadapan wajah-wajah tak berdaya, wajah-wajah polos tak bersalah, dengan gagah berani Jenderal  Ratko Mladic memerintahkan para algojo menghamburkan peluru. Lebih dari 120 jam, para penjagal Mladic, anggota angkatan bersenjata Serbia membombardir Srebrenica dengan granat berat dan  roket.

Lima hari setelah Srebrenica berlumuran darah, Mladic memasuki kota itu sambil mengajak juru kamera guna merekam hasil kerja para alogojonya. Tanpa rasa bersalah secuil pun, jenderal tambun dengan wajah sangar itu menyaksikan ribuan kepala manusia berlubang,  tumpukan jasad yang dibantai hanya karena mereka punya  asal-usul berbeda, suku berbeda, agama berbeda dengan Mladic yang berdarah Serbia. Sedikitnya 7.500 warga  Bosnia tewas dalam pembantaian selama lima hari di bulan berdarah Juli 1995 itu.

Puas meninggalkan jejak tengik di Srebrenica, bersamaan dengan berakhirnya perang saudara di semenanjung Balkan, Mladic kembali ke Beograd, menikmati dukungan dan perlindungan terbuka dari Pemimpin Serbia Slobodan Milosevic. Ia tinggal di rumah mewah, rajin mengunjungi tempat umum, menonton opera, balet, konser musik simfoni  dan makan di restoran mahal.

Enam tahun lamanya Mladic menikmati kemewahan hidup sebagai veteran perang Bosnia sampai penahanan Slobodan Milosevic tahun 2001 atas desakan masyarakat internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Milosevic diajukan ke Pengadilan Kejahatan Perang PBB di den Haag Belanda atas kejahatan perang, atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Milosevic digelandang ke den Haag bersama dua prajurit binaan Mladic yang menjadi algojo di Srebrenica tahun 1995.

Ke mana Mladic?  Jenderal licik dan licin itu berhasil lolos dari kepungan polisi yang menggrebeknya di Beograd. Mladic buron. Dia tidak pernah menetap lama di suatu tempat, selalu berpindah-pindah lewat penyamaran, lewat bantuan kaki tangannya yang masih setia.  Beberapa laporan menyebutkan ia tinggal di bunker masa perang Bosnia di Han Pijesak, tak jauh dari Sarajevo atau di Montenegro. Laporan lain menyebut ia tetap di berada atau sekitar Belgrade.

Pada tanggal 21 Februari 2006 berembus isu Mladic  telah ditahan di Beograd,  ibu kota Serbia lalu  dipindahkan ke Kota Tuzla di timur laut Bosnia atas permintaan pengadilan  PBB di den Haag. Penahanan itu disangkal pemerintah Serbia. Ketua Penuntut Pengadilan PBB di den Haag Carla Del Ponte pun  menyangkal kabar burung itu. Mladic lagi-lagi lolos dari tangkapan.

Mladic masih bebas berkelana hingga Serbia-Montenego resmi berpisah sebagai negara merdeka, masing-masing sebagai negara Serbia dan negara Montenegro lewat referendum tanggal  21 Mei 2006. Referendum Mei 2006  itu melahirkan tiga negara baru pecahan Yugoslavia yaitu Bosnia-Herzegovina, Serbia dan Montenegro.

Ya, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Selicin-licinnya Mladic, dia akhirnya menyerah juga. Mladic ditangkap pasukan keamanan Serbia di Lazarevo, dekat Zrenjanin di wilayah Banat, Provinsi Vojvodina pada 26 Mei 2011. Mladic bertekuk lutu saat dikepung dua lusin pasukan khusus kepolisian yang memakai seragam hitam dan cadar serta tanpa tanda pengenal apapun.

Lengannya yang lumpuh akibat stroke serta usia tua (Mladic lahir di Bosnia 12 Maret 1943), membuat buronan kelas kakap itu menyerah. Selama  persembunyian, Mladic menggunakan nama samaran Milorad Komadic. Dia tidak memelihara janggut, kumis  atau tanda pengenal apapun.  Seperti Milosevic,  Mladic kemudian diborgol ke den Haag menjalani persidangan atas kasus paling mengerikan, genosida! Dia menanam, dia menuai hasilnya.

Horor Mladic di Srebrenica. Demikianlah genosida terburuk menjelang ujung abad ke-20 ketika dunia begitu getol berteriak tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Tragedi  Srebrenica terjadi  karena orang seperti Mladic tak sudi mengakui bahwa pluralisme, bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan. Bahwa kemanusiaan itu satu dan universal  tapi sang Khalik yang empunya kehidupan, yang sejatinya seniman agung itu,  menciptakan pelangi kemanusiaan  agar dunia ini indah.

Tak pernah ada manusia yang meminta jadi minoritas, tak ada yang patut merasa hebat karena klaim mayoritas.  Pembunuhan sesama karena perbedaan etnis, agama, latar politik  tidak dapat dibenarkan. Dan, tidak boleh terjadi lagi.

                                                                                                   ***
DI balik wajahnya yang sangar, kulitnya yang kasar dan hatinya yang sejahat Adolf Hitler  itu, Ratko Mladic adalah penggemar sepakbola sejati. Sebelum menjadi buronan penjahat perang dan penjagal genosida, jenderal  angkatan bersenjata Serbia ini hampir selalu menonton pertandingan sepakbola setiap  akhir pekan. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved