Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Sepakbola

Oh Mace, Ya Yabes!

Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya, kalau over dosis malah menjadi bau

Penulis: | Editor: Fernando_Lumowa
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pemain Timnas Indonesia U-19 asal NTT, Yabes Roni Malaifani (dua kanan) bersama Muchlis Hadi Ning Syaifulloh (kiri), Evan Dimas Darmono (dua kiri), dan Putu Gede Juti Antara (kanan) berselebrasi usai membobol gawang Filipina pada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2013). Indonesia unggul dengan skor 2-0. 

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

TRIBUNMANADO.CO.ID - Anak Flobamora, nama gaul komunitas masyarakat Provinsi  Nusa Tenggara Timur (NTT)  itu  punya mimpi. Mimpi memberi diri demi Ibu Pertiwi lewat olahraga berprestasi. Maka sejak berpuluh-puluh  tahun yang lalu, di dusun-dusun yang sunyi,  di antara lembah dan ngarai serta gunung-gemunung Nusa Nipa, Nusa Lote, Timor, Alor, Sabu dan padang meringkik Savana Sumba, anak-anak NTT tak pernah berhenti bergerak.

Mereka bergelora,  bergoyang seirama alam kampung, berolahraga apa saja, dari sekadar menepuk bulu angsa meniru kehebatan Rudi Hartono, meninju pohon pisang sambil membayangkan kerasnya kepalan Ellyas Pical hingga menendang buah jeruk besar sembari berangan sebagai Pele, laksana Armando Maradona.

Nusa Tenggara Timur bukanlah yang terpencil di antara gemagaung olahraga berprestasi Indonesia. Bertahun-tahun kampung jauh dari Jakarta itu, yang kerap pula terlupakan dalam kampanye pembangunan itu,  menyumbang putra-putri terbaiknya untuk membela  panji Merah Putih, memberi diri untuk kehormatan  bangsa ini tanpa pamrih berlebih.

Jejak bersejarah NTT pertama ditorehkan Wempy Foenay tahun 1955,  pada zaman Provinsi Sunda Kecil di nomor lempar cakram. Dia memegang rekor  nasional dengan skor 33,2 meter  yang baru pecah tahun 1973 oleh atlet DKI Jakarta, Sri Numini. Berturut-turut lahir olahragawan legendaris daerah kepulauan itu seperti Mathilda Fanggidae,  Rony Mello, Ratmini,  Mace Siahainenia, Welmince Sonbay, Theo Rodja, Ruben Ludji, Amos Kamesah, Eduardus Nabunome, Hermensen Ballo.

Mace Siahainenia boleh disebut secara spesial. Tatkala radio adalah satu-satunya media andalan yang merangsek hingga pelosok, nama Mace sudah tersohor. Itu tahun 1970-an ketika Nusa Tenggara Timur baru sebatas dusun, sekadar kampung besar yang pesawat televisi  merupakan barang mewah dan masih jarang amat.

Bulu kuduk merinding mendengar reportase penyiar  RRI mengelu-elukan nama Mace dari arena PON, dari ajang SEA Games. Amboi!  Mace.... Mace... Oh  Mace Siahainenia  merebut emas lagi! Emas dari tolak peluru, emas dari lempar cakram dari arena Pekan Olahraga Nasional (PON) selama tiga kali berturut-turut . Dari PON ke PON, nama Mace selalu terpampang di papan skor.  Emas SEA Games pun menjadi lazim. Persembahan Mace untuk Merah Putih.

Itu berlangsung selama hampir dua dasawarsa. Mace tak terkalahkan, Mace tak tergantikan di cabang sunyi atletik khususnya nomor lempar cakram dan tolak peluru putri . Hingga detik ini pun, ketika nona-nona cantik  Indonesia jauh lebih sehat oleh makanan bergizi tinggi,  belum ada atlet putri Indonesia sehebat Mace Siahainenia.

Dia tidak cuma mengharumkan nama  Flobamora, tetapi Indonesia hingga level Asia. Di semesta Nusantara, nama Mace melambung jauh sebelum hadir generasi yang lebih muda seperti Eduardus Nabunome atau dua jagoan ring tinju, Johny Asadoma dan Hermensen Ballo menembus Olimpic Games (olimpiade).

Bagi yang mengenalnya,  Mace mestinya layak dan sepantasnya dinobatkan sebagai srikandi terbaik Nusa Tenggara Timur di jagat olahraga sampai saat ini. Dia duta olahraga Flobamora. Tapi Mace, tanta Mace yang rendah hati itu tidak pernah meminta lebih. Dia tetaplah gadis NTT kelahiran Sumba yang enggan jumawa.  

Maka ketika Mace Siahainenia menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Kupang 5 Mei 2011, saya menyaksikan begitu banyak orang menitikkan air mata.
Di sudut rumah duka di  Jalan Sam Ratulangi, Kota Baru, Kupang kala itu, Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si berkali-kali mengambil sapu tangan, mengusap lelehan air bening di pipinya.

Air mata duka atas kepergian Mace. Tapi Esthon dan semua yang hadir kala itu bangga atas dedikasi tanta Mace untuk ini negeri hingga akhir hayatnya. Di luar nama besarnya sebagai atlet, Mace adalah abdi negara, pegawai negeri sipil yang berbakti melalui  Bidang Keolahragaan Dinas PPO Provinsi NTT.

Banyak nian kenangan indah yang terungkap dari sesepuh atletik NTT seperti Wellem Radja, Fredik Tunliu, Eduard Setty, Saturnus Serajawa, hingga mantan atlet atletik  Anton Fallo dan Tersiana Riwu Rohi. Pribadi Mace dikenal sangat bersahaja. Tapi dia sangat disiplin dalam berlatih. Disiplinlah yang bikin Mace tetap berprestasi belasan tahun, sampai batas usia atlet  tak bisa lagi kompromi.

Beberapa yang masih terbayang dalam ingatan, Mace memulai prestasi di PON VIII tahun 1975 dengan merebut medali perak lempar cakram. PON IX 1977 Jakarta,  emas tolak peluru dan perunggu lempar cakram. Medali emas PON X 1981, medali perak PON XI 1985,   perunggu PON XIII 1993 dan perunggu PON XII 1989.  

Kesederhaan, ketekunan berlatih serta konsistensi menjaga kebugaran tubuh hingga prestasi bertahan lama, itulah warisan terindah Mace Siahainenia. Siapapun atlet Indonesia yang masih aktif saat ini di cabang olahraga manapun mestinya meniru jejak Mace. Mengambil warisannya yang tetap relevan sampai kapan pun!

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved