Guguk Terkesan Kerukunan Beragama di Sulut
Siang ini, Rabu (18/9) akan diadakan serah terima jabatan Komandan Pangkalan Utama (Danlantamal) TNI AL VIII Manado.
Penulis: Finneke | Editor: Andrew_Pattymahu

Siang ini, Rabu (18/9) akan diadakan serah terima jabatan Komandan Pangkalan Utama (Danlantamal) TNI AL VIII Manado, di Lapangan Upacara Mako Lantamal VIII.
SERTIJAB dipimpin Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Surabaya Laksamana Muda TNI Agung Pramono SH MHum.
Laksamana TNI Guguk Handayani akan dimutasi ke Markas Besar (Mabes) TNI Jakarta pada bagian Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI dengan jabatan Direktur Umum. Sedangkan penggantinya Laksamana TNI Raja Morni Harahap, sebelumnya menjabat Direktur Kodiklat Mabes TNI.
Laksamana TNI Guguk Handayani merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 28 tahun 1983. Lahir di Probolinggo 4 Maret 1960.
Kurang lebih satu tahun tujuh bulan, Guguk menjadi Danlantamal VII, sejak 28 Maret 2011 hingga 18 September 2013.
Sudah cukup banyak yang telah diperbuat Jenderal bintang satu ini dalam melaksanakan tugas pokok Lantamal VIII seperti pelayanan terhadap unsur-unsur TNI AL baik KRI maupun Pesud yang berpatroli di Wilayah Sulut.
Pengamanan laut terbatas dari tindak pidana di laut dengan mengerahkan unsur patroli Satkamla Bitung, serta tugas tambahan dalam mendukung kebijakan pemerintah daerah Provinsi Sulut dalam melaksanakan pembangunan berupa perundingan diplomasi dengan Filipina mengenai Border Crosing Agreement (BCA) yang lebih dikenal dengan RI-RPBC.
Mendukung pemerintah Provinsi Sulut dalam melaksanakan pembangunan di wilayah perbatasan dengan melakukan rehabilitasi 155 rumah di Pulau Marore, Pulang Miangas dan Pulau Matutuang. Membantu penyaluras bantuan pemerintah berupa 1700 ton beras untuk masyarakat Filipina yang terkena badai Bopha dan melaksanakan bakti sosial di kabupaten yang ada di Provinsi Sulut, terakhir dilaksanakan di Desa Jiko Molobok Boltim.
Dari berbagai program yang sudah terlaksana, ada program Guguk yang belum terealisasi yakni pembebasan lahan TNI yang diduduki warga.
"Sertifikat ada pada kita dan semua lengkap. Awalnya mereka diizinkan untuk tinggal, tapi lama kelamaan sudah merasa enak dan merasa memiliki. Kalau mau pakai cara kasar sebenarnya kita bisa, tapi kita lebih memilih untuk pelan-pelan. Tanah-tanah itu akan dibangun sarana dan prasarana prajurit. Hal itu akan terus ditindaki.
Nanti pemimpin baru akan menuntaskannya, tapi pasti punya program lainnya," kata Guguk Senin (16/9) saat ditemui di ruangannya.
Guguk memiliki kesannya tersendiri di Manado. Baginya Manado merupakan daerah kondusif, dengan keramahan orang-orang yang
tinggal di dalamnya. "Orang Manado memiliki harapan yang tinggi, tidak mau jadi susah, yang ada dipikirannya kaya, sukses dan mapan.
Tapi itu merupakan sifat positif thinking yang harus di contoh. Seperti saat berdoa pasti digiring pada hal-hal positif tersebut," ungkapnya.
Selain itu, hal yang paling berkesan baginya yakni kerukunan beragama di Sulut. Dikatakannya, apa yang dipelajarinya dalam rumah tangga, ditemuinya di Manado. "Seperti yang bapak saya katakan, bergaul jangan melihat agamanya apa tapi bagaimana ia beragama. Ada ayat-ayat di sini yang tidak disebutkan di Jawa sana tentang kerukunan. Orang Islam masuk gereja biasa, begitu juga sebaliknya. Alangkah indahnya hidup seperti itu. Kalau beragama dengan cara kriminal hukum yang menyelesaikan," ungkapnya.
Guguk berharap agar Sulawesi Utara bisa mempertahankan situasi kondusifnya. "Harus tetap waspada karena dalam situasi kondusif ada kerawanan di dalamnya, jangan sampai lengah," tandasnya. Selain itu, Guguk berharap agar bisa mengelola kekayaan alam di Sulut lebih serius. Dikatakannya, Sulut memiliki potensi yang luar biasa.
"Di sini laut kaya ikan, tanahnya subur. Saya rasa orang Manado tidak akan mungkin ada yang kelaparan. Sulut kaya raya, kalau banyak pengucapan syukur yah pantas. Saya melihat bukan lebih ke makan-makannya tapi lebih ke ucapan syukur atas berkat sang Maha Kuasa. SDM-nya pun mumpuni, tinggal bagaimana jalannya untuk mewujudkan hal-hal yang luar biasa. Banyak masyarakat yang hanya mau yang mudah-mudah saja, tanpa mau berusaha," terangnya.
Ia berkata, di tempat barunya nanti dia akan berlatih, berlatih dan berlatih. "Lebih baik mandi keringat dalam latihan, daripada mandi darah dalam medan perang. Saya tetap bersyukur masih bisa dipindah ke tempat kerja lain bukan ke neraka," ucapnya sembari tertawa.
Sedangkan pejabat baru Laksamana TNI Raja Morni Harahap adalah lulusan Akademi Angkata Laut (AAL) angkatan 28 tahun 1983, merupakan teman satu angkatan ketika di AAL, lahir di Padang Sidempuan 15 Maret 1959.
Serah terima jabatan di lingkungan TNI AL pada hakekatnya merupakan wujud dari tuntutan dinamika berorganisasi yang memiliki makna penting bagfi kesinambungan kepemimpinan dalam melaksanakan manajemen di lingkungan TNI AL. Luasnya wilayah kerja Lantamal VII meliputi wilayah Tarakan, Nunukan, Gorontalo, Toli-toli, Tahuna, Melonguane serta perairan Laut Sulawesi menuntut perhatian ekstra dalam upaya mengamankan perairan Indonesia yang berbatasa langsung dengan Filipina.
Pergantian orang nomor satu di lingkungan Lantamal VIII Manado dilaksanakan dalam upacara militer yang dihadiri oleh pejabat forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Provinsi Sulut, SKPD, Danlantamal V-VII, jajaran Koartim, Gaduspurlatim, Gaguskamlatim, Kadis Hidros, Danlanal jajaran Lantamal VIII serta undangan sipil lainnya.(finneke wolajan)