Sabtu, 13 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun Manado Road to Jerman

Dresden, Pesona Dunia dari Timur Jerman

Kegiatan Seminar Internasional “Civil and Human Right” kali ini sampai di Kota Dresden.

Tayang:
Penulis: | Editor:
Dresden, Pesona Dunia dari Timur Jerman - anton_di_dresden.JPG
TRIBUNMANADO/ANTONIUS IWAN ADHIPRAJA
Wartawan Tribun Manado di Dresden
Dresden, Pesona Dunia dari Timur Jerman - anton_di_dresden_(1).JPG
TRIBUNMANADO/ANTONIUS IWAN ADHIPRAJA
Dresden, Pesona Dunia dari Timur Jerman - anton_di_dresden_(2).JPG
TRIBUNMANADO/ANTONIUS IWAN ADHIPRAJA

Laporan Wartawan Tribun Manado Anthonius Iwan Adhipraja dari Jerman

Di suatu petang pada 13 Februari 1945, ratusan pesawat-pesawat perang sekutu Inggris-Amerika terbang di atas kota Dresden, kota dengan ratusan bangunan barok nan indah yang menyimpan nilai sejarah tak ternilai. Dan inilah kejamnya perang, pesawat-pesawat itu tanpa ampun menjatuhkan puluhan kilo bom di atas Kota Dresden sedemikian dahsyatnya. 135 ribu orang mati dan kota luluh lantak.

Lebih dari 34 ribu ton bahan peledak dari 800 pesawat perang Inggris-Amerika menghujam Dresden.  Selama dua hari berturut-turut Dresden bagaikan neraka berapi dengan dentuman bom bertubi-tubi. Selama berhari-hari api terus menyala di setiap sudut kota.

Erich Kästner, saksi mata, memberi pengakuan dalam sebuah cerita di www.13februar.dresden.de. "Dresden dulu adalah kota yang sangat indah, percayalah. Tapi dalam sekejab semua itu hilang. Dresden tak ada lagi di permukaan bumi. Butuh waktu berabad-abad untuk membuat kota ini sedemikian indahnya, tetapi hanya dalam semalam, perang dunia II membuat Dresden menjadi debu”.

Kegiatan Seminar Internasional “Civil and Human Right” kali ini sampai di Kota Dresden. Di sini kami diajak untuk menyelami bagaimana perang benar-benar menginjak harkat dan martabat manusia, dan sebaliknya, bagaimana kedamaian membawa manusia pada keindahan dan keadaban.

Penulis, sebagai satu dari 23 peserta seminar, berkesempatan menikmati kota Dresden yang pernah dinobatkan sebagai world heritage oleh UNESCO. Setelah melewati perjalanan panjang dari Koln di Jerman bagian barat, rombongan seminar akhirnya sampai di Hotel Elbflorenz, Sabtu (15/9/2012) malam. Kami akan berada di sini selama 2 malam tiga hari.

Sedikit cerita mengenai pelayanan hotel. Kami, para peserta seminar, agak mengeluh dengan pelayanan hotel yang “terpisah-pisah”. Maksudnya, tarif kamar tidak sekaligus mencakup layanan internet gratis. Masing-masing peserta harus membayar 8 euro untuk layanan internet selama satu hari (1 euro kurang lebih Rp 12 ribu). “Jangankan di kamar, bahkan di lobi pun tak ada wifi!” seru Adam Dubove, peserta dari Argentina.

Di ruang makan, kami masih saja mengeluarkan uneg-uneg soal bagaimana kami kesulitan mendapatkan akses internet. Bahkan Irene Kuntjoro, partisipan dari Indonesia mengaku rela menukar jatah makan malamnya demi akses internet. “Saya rela menukar makan ini demi bisa berinternet. Saya harus buka email,” tuturnya ketus dalam bahasa Inggris sembari membawa piring.

Pun demikian, peserta lain berusaha menenangkan situasi. “Ayo sudahlah, jangan terus menerus mengeluh soal internet,” seru Sharna Johardien, peserta dari Afrika Selatan. Tetap saja, Alan Schamber, yang pembawaanya ekspresif, menumpahkan kekesalannya. “8 euro satu hari?! Ini sangat tak masuk akal, terlalu mahal. Saya tak akan membayar 8 euro untuk sebuah koneksi internet satu hari,” serunya.

Saya, yang juga merasa butuh berinternet untuk mengirim berita, akhirnya memutuskan mengambil paket internet yang disediakan olah T-Mobile Jerman. Kendatipun agak mahal, saya tetap memutuskan untuk membali mengingat saya benar-benar butuh akses internet, terutama ketika nanti saya menjalani liputan dua hari seusai seminar di Munich. Berbekal kartu kredit, saya pun mantap membayar Rp 20 euro untuk paket internet selama 10 jam, ya hanya 10 jam!

Cukup cerita mengenai pelayanan hotel, kini kembali ke cerita soal kota yang kami kunjungi.

Dresden yang hancur total 67 tahun yang lalu kini kembali membuat mata dunia terpana. Pelahan tapi pasti, pemerintah Jerman kembali membangun kota Dresden seperti semula. Tidak semua dapat dikembalikan seperti semula, tetapi bangunan-bangunan penting seperti Frauenkirche, Semperoper, Zwinger, Schlossplatz, dan Hofkirche dapat kembali memanjakan mata pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Setiap hari Gereja Frauenkirche banyak dipadati pengunjung. Saya pun tak melewatkan kesempatan berfoto di depan bangunan-bangunan megah nan indah tersebut, termasuk di Zwinger Palace. Nama bangunan yang disebut terakhir adalah bangunan bergaya baroque yang paling menakjubkan, dan menjadi kebanggaan masyarakat Kota Dresden.

Zwinger dirancang oleh Matthaeus Daniel Poepplemann dan ukiran-ukiran dinding batunya dibuat oleh seniman Balthasar Permoser. Sekarang, Zwinger difungsikan sebagai museum.

Berbeda dari Jerman di bagian barat dengan kultur historis Bavaria-nya, Dresden merupakan ibukota negara bagian Saxony yang memiliki sejarah sebagai tempat kediaman raja-raja Saxony. Setelah melewati perjalanan panjang, Kini Dresden telah kembali menjadi salah satu pusat budaya, pendidikan, politik dan ekonomi Jerman.

Resmi berdiri tahun 1206 dengan nama Drezdany, kota ini berpisah dari kota tetangga Leipzig tahun 1485. Baru tahun 1530 dimulai pembangunan besar-besaran dibawah Kurfürst Moritz yang menjadikannya ibukota di tahun 1547. Selama pemerintahan August dem Starken dan putranya Friedrich August II antara tahun 1694 hingga 1783, Dresden berkembang menjadi kota residen bergaya baroque terindah di dunia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved