Tribun Manado - Selasa, 26 Juni 2012 07:47 WITA
"Les Miserables" adalah novel karya sastrawan Perancis Victor Hugo
yang diluncurkan pada 1862. Novel yang disebut-sebut sebagai karya
sastra terbaik abad ke-19. Dan, segala derita dalam novel fiksi historis
itu seolah menjadi kenyataan dalam diri timnas Perancis saat ini.
Yang
terbaru adalah cekcok antarpemain dan pelatih di ruang ganti hingga di
markas "Les Bleus" di Donetsk. Peletupnya adalah kekalahan 0-2 dari
Swedia di laga terakhir Grup B, Kamis (19/6/2012).
Entah siapa
yang bersalah, dua pemain yang biasanya mengisi posisi pemain inti,
dicadangkan saat berlaga melawan jawara bertahan Spanyol, Sabtu
(23/6/2012). Benar, Samir Nasri dan Jeremy Menez malah harus memulai
pertandingan penting itu dari bangku cadangan.
Hasilnya bisa ditebak. Tim "Ayam Jantan" kehilangan tajinya dan dilibas tuntas oleh dua gol borongan Xabi Alonso.
Seusai laga, temperamen Nasri meletup hingga
beradu kata-kata yang tak sepantasnya terucap dengan jurnalis Perancis.
Laurent Blanc
menyayangkan kejadian itu. Maklum saja, kejadian buruk itu pasti akan memperburuk citra Nasri dan juga timnas Perancis.
Sehabis
insiden itu, Nasri mungkin akan jadi kambing hitam utama. Karena, ia
yang disorot media setelah Perancis terdepak dari Euro 2012. Padahal,
belum tentu Nasri yang memantik sumbu dinamit di tubuh Perancis.
Yang pasti, cekcok dalam tubuh "Les Bleus" memiliki sejarah panjang.
Paling
tidak sudah terjadi sejak Piala Dunia Spanyol 1982. Jean-Francois
Larios dan Michel Platini adalah dua inti Perancis. Keduanya dipuja
kendati akhirnya "Les Bleus" disikat Jerman 4-5 melalui drama adu
penalti di semifinal.
Setelah itu, Larios tersingkir dari timnas
Perancis akibat cekcok dengan kapten Platini. Namun, sebabnya sangat
jelas, moral Larios dipertanyakan setelah terlibat skandal dengan istri
Platini.
Meski berstatus bintang St. Etienne, klub yang
gilang-gemilang pada kurun 1970-80-an, nama Larios temaram pelan-pelan
di timnas Perancis. Setelah kejadian memalukan itu, Larios tak pernah
mengenakan kostum biru kebanggaan "Negeri Eiffel".
Berikutnya adalah saat era '90-an. Nama Eric Cantona begitu membahana bersama Leeds United dan kemudian Manchester United.
Pada
saat berusia 22 tahun dan memperkuat Olympique Marseille, karier
Cantona di timnas tuntas setelah melontarkan kata-kata tak sepantasnya
kepada Pelatih Henri Michel.
Air susu, dibalas dengan air tuba.
Michel yang memberi kesempatan pertama bermain di timnas untuk Cantona,
Michel pula yang memungkasi karier internasionalnya sepanjang timnas
dinakhodainya.
Dunia masih ingat tatkala Raymond Domenech
kehilangan wibawa di depan anak asuhnya. Sebabnya kala itu nyaris sama
dengan apa yang dialami Blanc pekan lalu.
Perancis kalah dua gol tanpa balas dari Meksiko dalam laga penyisihan grup Piala Dunia Afrika Selatan 2010.
Emosi Nicolas Anelka meledak dan semuanya dilampiaskan kepada Domenech. Seperti diberitakan koran ternama Perancis
L'
Equipe, Domenech merasa "dikebiri" wibawanya, hingga mengusir Anelka dari markas tim dan memulangkannya.
Para
pemain lainnya menganggap itu sebagai hukuman indisipliner biasa, namun
sekelompok lainnya merasa sependapat dengan Anelka. Grup itulah yang
tak mau turun dari bus tim saat akan melakukan perjalanan pertandingan
dengan kereta api.
"Mogok main adalah keputusan kelompok yang merasa terkucilkan dan tak dilindungi. Itu pesan sebenarnya," Hugo Lloris mengakui.
"Kami terlalu berlebihan. Itu memang keputusan ceroboh, kesalahan besar. Sangat bodoh," keluh Lloris yang dikutip ABS.
Yang pasti, apa yang dituai Blanc di Euro 2012 merupakan buah yang ditanamnya pada Piala Dunia 2010.
Saat itu, ia juga dikucilkan Domenech karena dianggap menjadi pihak yang memengaruhi grup pemberontak di tubuh timnas Perancis.
Ironisnya
lagi, Blanc pula yang memanggil Nasri setelah tak pernah mendapatkan
undangan timnas dari Domenech. Persis dengan yang dilakukan Michel
terhadap Cantona.
Komplet sudah drama "Les Miserables" Perancis.