Liga Champion
Pertarungan Bergengsi dan Ukir Sejarah Baru
emaram cahaya ratusan ribu bola lampu Fussball Arena, akan menyinari kota Muenchen, Sabtu (19/5/2012) malam.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Temaram cahaya ratusan ribu bola lampu Fussball Arena, akan menyinari kota Muenchen, Sabtu (19/5/2012) malam. Di dalam kemegahan stadion berukuran total 7992 meter persegi dengan kapasitas 66.000 penonton itu, 22 manusia dengan gigih unjuk kekuatan. Bagi mereka, tidak ada kata selain terus berjuang untuk satu tujuan, membuat sejarah baru.
Ya, di stadion yang terletak di jantung kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa itu akan digelar perhelatan akbar final Liga Champions antara Bayern Muenchen dan Chelsea. Kedua klub dipastikan akan bertarung mati-matian untuk menorehkan namanya dalam sejarah kompetisi tertinggi Eropa tersebut.
Bagi Bayern, laga kali ini adalah kesempatan untuk membayar tuntas performa buruknya di kompetisi Bundesliga musim ini. Dua kali dipecundangi Borrussia Dortmund dan hanya harus puas duduk di peringkat kedua Bundesliga dan kalah 2-5 di DFB Polka, tentu menjadi lecutan keras untuk mereka. Jika sukses, publik Muenchen tentunya dapat menghapus kecewa dengan rasa bangga.
Harapan Chelsea tak kalah istimewa. Bagaimana tidak, rasanya satu-satunya yang pantas mengimbangi gelontoran ratusan juta poundsterling untuk belanja pemain adalah gelar juara dalam liga terelit di Eropa ini. Belum lagi, partai ini adalah satu-satunya kesempatan "The Blues" untuk dapat kembali tampil di Liga Champions musim depan, setelah hanya harus puas duduk di peringkat enam klasemen akhir Premier League musim ini.
Selain itu, kedua klub akan membawa nama besar masing-masing negara untuk berjaya di kancah tertinggi Eropa. Tak ayal, laga kali ini bukan lagi soal gengsi menang atau kalah. Melainkan, urusan rivalitas sejarah kedua negara yang sudah puluhan dekade tercipta.
Rivalitas
Jika menelisik sejarah panjang rivalitas negara kedua klub itu, memang tidak hanya terjadi dalam urusan sepak bola. Politik Lebensraum (perluasan ruang hidup) yang dijadikan acuan Jerman untuk memicu Perang Dunia II, membuat Inggris dengan lantang menyatakan perang. Jerman kuat, tetapi Inggris lebih hebat. Infanteri Jerman memang berhasil menduduki beberapa daratan Eropa. Tapi, jika urusan perang udara, Inggris Raya dapat membusungkan dada.
Kapal perang Jerman Tirpitz di bawah pimpinan Nazi Adolf Hitler pernah merasakan kehebatan angkatan udara Inggris, Royal Air Force (RAF) pada sejumlah operasi udara pada PD II. Hingga akhir perang itu berkecamuk pada 1945, puluhan pabrik dan rumah di seluruh Reich pun menjadi bulan-bulanan oleh angkatan udara Britania Raya. Jerman pun takluk dan akhirnya menyerah.
Walhasil, itu menjadi kenangan pahit tersendiri bagi Jerman. Dendam kesumat kemudian merambah dalam urusan sepak bola. Lihat saja, perseteruan timnas Jerman dan Inggris dalam sejumlah kompetisi internasional. Bahkan, salah satu legenda "The Three Lions", Gary Lineker pernah mengungkapkan kekesalannya terhadap dominasi "Der Panzer" atas negaranya.
"Sepak bola adalah pemainan untuk 22 orang, di mana mereka berlari, bermain bola, dan satu wasit yang beberapa kali membuat kesalahan. Tetapi, pada akhirnya, Jerman selalu menang," ungkap Lineker ketika Inggris dikalahkan Jerman dalam adu penalti pada Piala Eropa 1996.
Akan tetapi, sedikit fakta itu dalam urusan negara. Di level klub sepak bola, Inggris boleh kembali tertawa bangga. Sejarah Liga Champions, terdapat enam final yang mempertemukan klub dua negara tersebut. Hasilnya, Jerman hanya mampu menang sekali, saat Bayern mengalahkan Leeds United pada 1975. Sisanya, Monchengladbach harus mengakui keunggulan Liverpool 0-2 (1977), Hamburg SV 0-1 Nottingham Forest (1980), Bayern 0-1 Aston Villa (1982), Bayern 1-2 Manchester United (1999).
Laga final Liga Champions musim ini antara Chelsea dan Bayern Muenchen dilatarbelakangi sejarah panjang rivalitas negara kedua klub dalam sepak bola. Selain itu, sejarah juga mencatat kenangan pahit dalam rivalitas politik dan militer.
Sejarah baru
Kini dua seteru itu seakan dipertemukan kembali secara dramatis. Ketika semifinal mempertemukan Bayern dan Chelsea masing-masing dengan duo klub raksasa andalan Spanyol, Barcelona dan Real Madrid, tak sedikit publik bola dunia sebelumnya memprediksi bahwa "El Clasico" Barca dan Madrid adalah partai yang pantas untuk menghiasi laga terakhir perhelatan akbar Liga Champions musim ini.
Namun, takdir berkata lain. Jutaan pasang mata pecinta bola menjadi saksi kegemilangan Fernando Torres dan kawan-kawan ketika menjungkalkan tim terbaik di Eropa saat ini, Barcelona di babak semifinal. Begitupun dengan Frank Riberry dan kawan-kawan yang sukses membuat sejumlah bintang "Los Blancos" sakit hati lewat drama adu penalti. Kini kedua klub itu menatap rekor baru di belantara Eropa dengan rivalitas yang menggelora.
Bagi Bayern, jika mampu menang dan juara, mereka akan menjadi tim pertama yang menjuarai Liga Champions di kandang sendiri. Sebelum berubah nama dan format pada 1992, baru dua klub yang mampu menjuarai Piala Eropa di kandang sendiri, yakni Real Madrid (1957) dan Inter Milan. Tim terakhir yang tampil di kandang sendiri, AS Roma kalah dari Liverpool lewat adu penalti pada 1984.