Selasa, 12 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prabowo di Miangas

Jems Meyer Edam, Sosok Guru Perbatasan yang Bangga Sambut Presiden Prabowo di Miangas Talaud

Kunjungan Presiden Prabowo ke Pulau Miangas meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.

Tayang:
Tribun Manado/Handout
BANGGA - Di balik penyambutan meriah warga, terdapat sosok kepala sekolah yang turut menjadi perhatian, yakni Jems Meyer Edam. Kepala SMK Negeri 2 Talaud tersebut merasa bangga karena sekolah yang dipimpinnya menjadi salah satu lokasi kunjungan Presiden Prabowo. 
Ringkasan Berita:
  • Kunjungan Presiden Prabowo ke Pulau Miangas meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat
  • Kepala SMK Negeri 2 Talaud, Jems Meyer Edam, bangga karena sekolah yang dipimpinnya menjadi salah satu lokasi kunjungan Prabowo
  • Jems Meyer Edam mengaku sejak lama memiliki keinginan untuk mengajar di daerah terpencil dan wilayah perbatasan

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (9/5/2026), meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina.

Kehadiran Presiden di pulau terluar itu menjadi simbol nyata perhatian pemerintah terhadap daerah paling utara Nusantara.

Di balik penyambutan meriah warga, terdapat sosok kepala sekolah yang turut menjadi perhatian, yakni Jems Meyer Edam.

Kepala SMK Negeri 2 Talaud tersebut merasa bangga karena sekolah yang dipimpinnya menjadi salah satu lokasi kunjungan Presiden Prabowo.

Dalam kunjungan itu, Presiden menyapa masyarakat dan para pelajar dengan penuh kehangatan.

Jems Meyer Edam sambut Prabowo
BANGGA - Di balik penyambutan meriah warga, terdapat sosok kepala sekolah yang turut menjadi perhatian, yakni Jems Meyer Edam. Kepala SMK Negeri 2 Talaud tersebut merasa bangga karena sekolah yang dipimpinnya menjadi salah satu lokasi kunjungan Presiden Prabowo.

Suasana semakin meriah ketika Presiden bersama warga menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar” dan “Di Sini Senang Di Sana Senang”, lalu berjoget bersama diiringi lagu daerah “Tabola Bale”.

Bagi Jems, pengabdian di Miangas bukan hanya tugas biasa sebagai aparatur pendidikan.

Ia mengaku sejak lama memiliki keinginan untuk mengajar di daerah terpencil dan wilayah perbatasan.

Sejak dipercayakan memimpin sekolah pada April 2023, ia memilih tetap bertahan demi memberikan perubahan bagi dunia pendidikan di pulau tersebut.

“Ditempatkan di sini bukan sekadar pilihan, tetapi amanat yang harus dijalankan. Saya memang sejak dulu ingin mengabdi di daerah perbatasan,” ungkapnya kepada Tribun Manado.

Ia menuturkan, tantangan terbesar sebagai kepala sekolah adalah mengambil keputusan penting yang berdampak langsung terhadap masa depan sekolah dan siswa.

Menurutnya, tugas itu membutuhkan kesiapan mental dan tanggung jawab besar.

Meski berada di wilayah terpencil, perkembangan sekolah perlahan mulai terlihat.

Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah berhasil melakukan rehabilitasi ruang kelas, memperbaiki toilet, serta menambah fasilitas penunjang pendidikan lainnya.

Bantuan digitalisasi pendidikan juga mulai membantu proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

“Fasilitas belajar sekarang jauh lebih baik dan itu membuat siswa lebih nyaman saat belajar,” katanya.

Namun di balik keterbatasan wilayah perbatasan, Jems melihat potensi besar pada para siswa Miangas.

Ia menilai anak-anak di pulau terluar memiliki kemampuan dan bakat yang tidak kalah dibanding pelajar di kota besar.

Semangat belajar mereka juga didukung tenaga pengajar muda yang mendominasi sekolah tersebut.

Saat mendengar kabar Presiden akan datang ke Miangas, Jems mengaku sempat merasa gugup dan khawatir masih banyak kekurangan yang akan terlihat.

Namun rasa cemas itu perlahan berubah menjadi semangat setelah seluruh pihak bersama-sama mempersiapkan penyambutan terbaik.

“Kami merasa ini kesempatan langka dan sangat berharga. Tidak semua orang bisa menyambut Presiden secara langsung. Saya sangat bersyukur dan bangga,” ujarnya.

Jems pun mengaku semakin yakin untuk terus mengabdi di Miangas.

Salah satu alasan terbesarnya adalah kedekatan dengan para siswa yang sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka.

“Bapak jangan pindah. Kalau bapak pindah, kami juga mau pindah,” kata Jems menirukan ucapan para muridnya.

Ke depan, ia berharap pemerintah semakin memberi perhatian terhadap pendidikan di daerah perbatasan, terutama terkait pemenuhan tenaga pengajar dan peningkatan kemampuan dasar siswa.

Menurutnya, apabila kebutuhan guru dapat terpenuhi, maka anak-anak di wilayah perbatasan akan mampu bersaing dengan pelajar dari daerah mana pun di Indonesia.

(TribunManado.co.id/Edu)

Baca Berita Tribun Manado di Google News

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved