Selasa, 28 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Peristiwa Merah Putih

Pasang Surut Peringatan Peristiwa Merah Putih di Manado

Pemprov Sulut telah menginstruksikan warga Sulut untuk memasang bendera merah putih pada 14 Februari 2026.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
Tribun Manado
MERAH PUTIH - Kapal perang Belanda Piet Hein, tempat perundingan antara perwakilan dari Manado dengan tentara Belanda. 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menginstruksikan pemasangan bendera merah putih dan menggelar pentas kolosal kejuangan di Lapangan KONI Sario Manado untuk mengenang aksi heroik pemuda Manado merebut tangsi Belanda pada 1946.
  • Pada 14 Februari 1946, pemuda Manado menyerbu Tangsi Belanda di Teling, menawan pimpinan Belanda, membebaskan rekan-rekannya, dan merobek warna biru pada bendera Belanda sehingga menjadi merah putih.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Warga Sulut akan kembali memperingati Peristiwa 

Merah Putih pada 14 Februari 2026.

Peringatan tahun ini dipastikan lebih heroik dan meriah. 

Pemprov Sulut telah menginstruksikan warga Sulut untuk memasang bendera merah putih pada 14 Februari 2026.

Baca juga: Ini Lokasi Tepat Eks Tangsi Belanda di Teling, Saksi Sejarah Peristiwa Merah Putih Manado

Pentas kolosal kejuangan dalam peristiwa Merah Putih akan ditampilkan di lapangan KONI Sario Manado

Sejarawan dan akademisi Unsrat Ivan Kaunang menyatakan, peringatan hari Merah Putih di Sulut mengalami pasang surut. 

Ada saat dimana peristiwa heroik itu dirayakan dengan meriah, ada kalanya seperti terlupakan. 

"Ada pasang surutnya," kata dia kepada Tribunmanado via WA, Jumat (13/2/2026). 

Dikatakannya pada era Gubernur Sulut GH Mantik dan Sarundajang, peristiwa Merah Putih beroleh perhatian. 

Saat itu, 14 Februari ditetapkan sebagai hari Sulawesi Utara.

"Dan bendera merah putih juga ditancapkan," katanya. 

Sebut dia, semangat kejuangan dari peristiwa Merah Putih saat ini seakan luntur. Ia mengakui pewarisannya memang tak mudah. 

"Perlu upaya yang sustainable dan holistik untuk mewariskannya ke generasi muda," kata dia. 

Dirinya menyambut baik upaya dari Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling yang menginstruksikan pemasangan bendera merah putih dan menggelar sejumlah kegiatan untuk memperingati peristiwa Merah Putih

Namun ia mengingatkan agar dapat disosialisasikan secara luas kepada masyarakat. 

"Juga harus berkelanjutan, jangan sporadis, juga harus dijawab stakeholder lainnya misalnya ada kegiatan di sekolah memperingati hari Merah Putih dan lainnya," katanya. 

Menurut dia, peringatan hari Merah putih sangat berguna bagi Gen Z dan milenial Sulut. 

Hal tersebut akan memunculkan kesadaran akan nilai nilai kejuangan. 

"Dan ini akan membangkitkan etos kerja mereka untuk berjuang dalam hidup guna mengisi kemerdekaan," katanya. 

Dini hari 14 Februari 1946. 

Para pemuda asal Manado menyerang Tangsi Belanda di Teling. 

Dalam tempo singkat, tentara Belanda dilumpuhkan. 

Pemimpinnya ditawan. 

Sembari itu, para pejuang yang ditahan dibebaskan. 

Aksi sudah berjalan sesuai rencana. Tapi para pemuda ini merasa masih ada yang kurang. 

Ternyata bendera merah, putih dan biru masih berkibar di tangsi. 

Aksi teriak lantas dilakukan para pemuda. 

Mereka merobek warna biru dan jadilah merah putih. 

Inilah epic peristiwa itu, yang lantas viral di kala itu karena diberitakan BBC. 

Kini, tahun 2026, tangsi Belanda tersebut telah berubah menjadi markas militer di kawasan Teling.

Akademisi Unsrat Raymond Mawikere yang juga ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulut memperkirakan Tangsi militer Belanda tersebut berada di kompleks militer tak jauh dari perempatan Teling. 

"Itu markas yang berada depan Zipur," katanya. 

Sebut dia, itu kompleks Kodam Merdeka yang lama. 

Kodam Merdeka yang baru berada sekira 1 kilometer dari lokasi tersebut. 

"Jadi bukan di Kodam yang baru," katanya. 

Raymond menduga masih ada bagian yang dirawat dari markas tersebut. 

Sementara sejarawan Ivan Kaunang menyebut lokasi eks tangsi 

Belanda tersebut kerap digunakan oleh militer. 

Informasi lainnya yang dihimpun Tribunmanado, alasan Belanda membangun tangsi militer di Teling adalah karena tempat itu berada di ketinggian dan strategis. 

Teling sendiri merupakan salah satu wilayah yang paling aman dari banjir di kota Manado

Dikutip dari berbagai sumber, Peristiwa Merah Putih tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Mereka menolak provokasi tentara Belanda yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hanya untuk Pulau Sumatera dan Jawa semata

Berita prokamasi kemerdekaan Indonesia baru terdengar oleh rakyat di Sulawesi Utara pada 21 Agustus 1945.

Mereka dengan segera mengibarkan bendera merah putih di setiap area dan menduduki kantor-kantor yang sebelumnya dikuasai oleh tentara Jepang serta melucuti semua senjatanya.

Namun kedatangan tentara sekutu bersama NICA pada awal Oktober 1945 di Sulawesi Utara membawa suasana rakyat kembali ricuh.

Belanda menginginkan kekuasaan sepenuhnya atas Sulawesi Utara terutama Manado.

Namun rakyat Manado menolak dan memilih untuk melawan.

Kemudian serangan dari sekutu dan Belanda membuat Manado dan sekitarnya kembali diduduki oleh tentara Belanda.

Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu, seorang pemimpin di kalangan militer bersama Sersan S.D. Wuisan menggerakkan pasukannya dan para pejuang rakyat untuk ikut mengambil alih markas pusat militer Belanda.

Rencana tersebut telah disusun sejak tanggal 7 Februari 1946.

Mereka mendapatkan bantuan seorang politisi dari kalangan sipil, Bernard Wilhelm Lapian (BW Lapian).

Puncak penyerbuan terjadi pada tanggal 14 Februari.

Namun sebelum penyerbuan terlaksana, para pimpinan pasukan tertangkap  Belanda termasuk Charles C Taulu dan S.D. Wuisan.

Akibatnya pemberontakan ke tangsi militer Belanda dialihtugaskan kepada Mambi Runtukahu yang memimpin anggota KNIL dari orang Minahasa.

Bersama rakyat Manado mereka berhasil membebaskan Charlis Choesj Taulu, Wim Tamburian, serta beberapa pimpinan lainnya yang ditawan.

Puncak penyerbuan tersebut ditandai dengan perobekan bendera Belanda yang awalnya berwarna merah, putih, dan biru menjadi merah dan putih lalu dikibarkan diatas gedung markas Belanda.

Mereka juga berhasil menahan pimpinan pasukan Belanda di antaranya adalah pimpinan tangsi militer Letnan Verwaayen, pemimpin garnisun Manado Kapten Blom, Komandan KNIL Sulawesi Utara Letnan Kolonel de Vries dan seorang Residen Coomans de Ruyter beserta seluruh anggota NICA.

Namun pengambilalihan kekuasaan Belanda tersebut hanya sementara. (Art) 

-

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved