Sangihe Sulawesi Utara
Sebanyak 13 Rumah di Sangihe Sulut Terbakar Sepanjang Tahun 2025
Sebanyak 13 rumah terbakar akibat musibah kebakaran yang terjadi sejak Januari hingga November 2025 di Sangihe.
Penulis: Eduard Joanly Tahulending | Editor: Ventrico Nonutu
Ringkasan Berita:
TRIBUNMANADO.CO.ID, Sangihe - Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat sebanyak 13 rumah terbakar akibat musibah kebakaran yang terjadi sejak Januari hingga November 2025.
Data tersebut dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, yang menyoroti masih tingginya potensi kebakaran akibat kelalaian aktivitas masyarakat.
Dalam wawancara Tribun Manado, Senin (1/12/2025), Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe Wandu Labesi menjelaskan bahwa langkah pencegahan kebakaran secara rutin menjadi tanggung jawab Satpol PP dan Damkar, karena hal tersebut masuk dalam urusan wajib layanan dasar serta bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Sosialisasi terkait pencegahan musibah kebakaran itu adalah tanggung jawab Satpol PP dan Damkar. Itu kewajiban setiap tahun untuk dilakukan kepada masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa BPBD akan mengambil alih penanganan setelah kebakaran terjadi.
“Kalau sudah terjadi musibah kebakaran itu menjadi wilayah kewenangannya BPBD. Ketika kami menerima laporan kebakaran, maka akan ditindaklanjuti dengan asesmen lapangan,” ujarnya.
Berdasarkan hasil asesmen lapangan, jika sebuah rumah dinyatakan terbakar habis, pemerintah daerah langsung menyalurkan bantuan darurat pada hari yang sama.
“Pemerintah daerah akan memberikan bantuan peralatan seperti kasur, selimut, dan kebutuhan harian lainnya agar keluarga terdampak tetap bisa bertahan. Untuk bahan bangunan rumah, itu akan berproses kemudian,” jelasnya.
Bantuan tersebut bertujuan memastikan warga yang kehilangan rumah tidak semakin terbebani akibat hilangnya seluruh kebutuhan dasar mereka.
Kebakaran Banyak Dipicu Kelalaian, Termasuk Aktivitas Pemanggangan Kopra
Dalam keterangannya, BPBD memberi himbauan agar masyarakat lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, terutama pada kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Banyak kebakaran terjadi karena kelalaian, termasuk aktivitas memanaskan atau memanggang kopra. Masyarakat tidak memastikan tempat itu benar-benar tidak ada api lagi, sehingga saat ditinggalkan atau saat tidur, api dapat memicu kebakaran,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun faktor cuaca seperti angin dan hujan dapat memengaruhi, sebagian besar kasus tetap dipicu oleh kurangnya kewaspadaan.
Imbauan BPBD: Pastikan Api Padam Sebelum Ditinggalkan
BPBD menekankan pentingnya pemeriksaan ulang sebelum meninggalkan lokasi aktivitas yang menggunakan api.
“Kami sangat berharap masyarakat memastikan bahwa tempat pemanggangan kopra atau aktivitas lain yang memakai api sudah benar-benar padam. Ini penting untuk meminimalisir potensi musibah kebakaran,” tegasnya.
Pemerintah daerah berharap edukasi dan kewaspadaan masyarakat dapat menekan angka kebakaran di Kabupaten Kepulauan Sangihe, terutama memasuki musim cuaca ekstrem pada akhir tahun.
(TribunManado.co.id/Edu)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
| Warga Keluhkan Jalan Berlubang di Boulevard Pasar Towo’e Sangihe, Rawan Kecelakaan dan Sering Macet |
|
|---|
| Sampah yang Menumpuk di Jalan Boulevard Tahuna Sangihe Dikeluhkan Warga: Bau Menyengat Tercium Jelas |
|
|---|
| Cerita Fikri Bagoe, Penjual Petasan Asal Gorontalo yang Bertahan 12 Tahun di Tahuna Sangihe |
|
|---|
| Jalan Berlubang di Perempatan Kota Tahuna Sangihe Dikeluhkan Warga, Pengendara: Ini Sangat Berbahaya |
|
|---|
| Warga Kawio Tidur di Pinggir Toko Tunggu Kapal Sabuk Nusantara, Sudah Dua Minggu Terlantar di Tahuna |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/KASUS-KEBAKARAN-Kepala-BPBD-Kabupaten-Kepulauan-Sangihe-Wandu-Labesi.jpg)