Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Cinta Sejati

Riwayat Pelayanan Pasutri di Minut yang Meninggal Hanya Selang Dua Jam

Sepasang suami istri, Leonard Matheis Sahuburua (57) dan DNinerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang 2 jam.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Arthur_Rompis
KARANGAN BUNGA - Potret karangan bunga di depan rumah duka pasangan suami istri, yang meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut. Hanya berselang dua jam. 
Ringkasan Berita:
  • Janji sehidup semati benar-benar terjadi di Minahasa Utara
  • Sepasang suami istri, Mantan Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam
  • Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA

TRIBUNMANADO.CO.ID - Janji sehidup semati benar-benar terjadi di Minahasa Utara.

Sepasang suami istri, Mantan Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.

Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.

Selang dua jam kemudian, sang suami tercinta, Leonard Sahuburua atau Leo, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom, menyusul berpulang pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.

Leo sebelumnya adalah Penatua di kolom 4. Ia menjabat selama dua periode. 

Kepala Lingkungan di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut Alan Sasue, menyebut kedua pasutri tersebut sangat giat dalam pelayanan Gereja. 

"Sebelumnya Leo menjabat Penatua dua periode, setelah itu sang istri menjadi Diaken, Leo sendiri tetap aktif dalam pelayanan dengan menjadi Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom," kata dia kepada Tribun manado Senin (30/3/2026) di rumah duka Perumahan Maumbi Indah di Desa Watutumou, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minut, provinsi Sulut.

Dalam keseharian, kata dia, kedua pasutri tersebut dikenal sangat baik. 

Bahkan terlalu baik. 

"Mereka tak pernah ada musuh, dalam forum forum keduanya tampil sebagai pembawa damai, tak pernah menciptakan friksi," katanya. 

Ia mengaku sangat kehilangan dua sosok yang jadi teladan di gereja dan di masyarakat. 

Janji sehidup semati benar-benar terjadi di Minahasa Utara. Sepasang suami istri, Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.

Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.

Selang dua jam kemudian, sang suami tercinta, Leonard Sahuburua atau Leo, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom, menyusul berpulang pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.

Leo sebelumnya adalah Penatua di kolom 4. Ia menjabat selama dua periode. 

Duka mendalam menyelimuti rumah keluarga di Perumahan Maumbi Indah, Watutumou.

Sejak kabar kepergian keduanya tersebar, warga terus berdatangan untuk melayat dan mengenang jejak pelayanan pasangan tersebut.

Peristiwa langka ini pun dimaknai dengan iman oleh warga. Banyak yang meyakini bahwa keduanya kini telah bersama di sisi Yesus Kristus.

Suasana duka terasa kian mendalam. Langit yang sebelumnya cerah tampak mendung, seolah turut berbelasungkawa.

Saat disambangi pada Senin (30/3/2026) pagi, rumah duka dipenuhi karangan bunga. Dua jenazah disemayamkan berdampingan di ruang tamu, masing-masing dalam peti.

Leo tampak mengenakan jas hitam, sementara Eva mengenakan gaun putih. Keduanya terlihat tenang, seolah damai dalam pelukan keabadian.

Kaur Kesra Desa Watutumou, Agusta Allow, mengungkapkan bahwa Leo meninggal dunia di saat penantian waktu dua jam untuk memastikan kematian sang istri secara medis. 

“Tiba-tiba ia merasa sesak napas dan dibawa ke UGD. Ia wafat saat pendeta sedang menyelesaikan doa untuk istrinya di ruang jenazah,” ujarnya.

Menurutnya, cinta kasih keduanya begitu nyata hingga detik-detik terakhir. Bahkan dalam kondisi kritis, Eva sempat meminta agar suaminya tidur bersamanya.

“Dokter mengizinkan. Keduanya pun tidur. Suaminya tertidur lelap, bahkan mendengkur, dan Eva bisa beristirahat dengan tenang,” katanya.

Kebersamaan itu, lanjutnya, memang selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat beribadah.

“Keduanya selalu bersama-sama ke gereja,” tambahnya.

Putri mereka, Valentine Grieda Sahuburua, juga mengenang ketelatenan sang ayah dalam merawat ibunya selama sakit.

“Ayah terus menjaga ibu dengan sabar, tanpa pernah mengeluh,” ungkapnya.

Ia juga mengingat momen-momen kecil penuh kasih di rumah sakit, termasuk saat ayahnya yang kelelahan tetap ingin menemani sang ibu.

“Papa bahkan masih meminta izin kepada mama untuk beristirahat,” tuturnya.

Menurutnya, kedua orang tuanya memiliki sifat yang berbeda. Sang ibu dikenal aktif, sementara ayahnya pendiam dan penyabar.

Namun, perbedaan itu justru menjadi kekuatan dalam rumah tangga mereka.

“Ibu pernah bilang, kunci rumah tangga bukan pada cinta, tapi pada fokus kepada pasangan. Cinta bisa hilang, tapi penerimaan membuat hidup penuh kasih,” katanya. (Arthur Rompis)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved