Breaking News
Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga Bapok

Harga Bawang Merah dan Cabe Rawit Masih Mahal di Manado, Penjual Makanan Putar Otak

Kenaikan harga bahan pokok kembali dikeluhkan warga dan pelaku usaha kuliner di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Tayang:
Tribun Manado/Petrick Imanuel Sasauw
PUTAR OTAK - Potret warung makan di area Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Rabu (10/6/2026). Sejumlah penjual mengaku harus putar otak ditengah kenaikan harga bahan dapur demi menjaga harga makanan yang dijual. 
Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga bahan pokok kembali dikeluhkan warga dan pelaku usaha kuliner di Kota Manado, Sulawesi Utara
  • Harga bawang merah dan cabe rawit mengalami lonjakan cukup signifikan di sejumlah pasar tradisional, Rabu (10/6/2026)
  • Di Pasar Pinasungkulan Karombasan, harga bawang merah berada di angka Rp 80 ribu per kilogram

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kenaikan harga bahan pokok kembali dikeluhkan warga dan pelaku usaha kuliner di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Harga bawang merah dan cabe rawit mengalami lonjakan cukup signifikan di sejumlah pasar tradisional, Rabu (10/6/2026).

Di Pasar Pinasungkulan Karombasan, harga bawang merah berada di angka Rp 80 ribu per kilogram.

Sementara untuk cabe rawit menembus Rp 110 ribu per kilogram.

Sedangkan di Pasar Bersehati Manado, harga cabe rawit tercatat mencapai Rp 120 ribu per kilogram dan bawang merah dijual Rp 90 ribu per kilogram.

Kenaikan harga dua komoditas tersebut pun berdampak langsung terhadap para pelaku usaha makanan di Kota Manado, khususnya di area Malalayang.

Sejumlah penjual warung makan mengaku kesulitan menjaga kestabilan biaya produksi di tengah melonjaknya harga bahan dapur.

Bahkan, harga bawang merah dan cabe rawit disebut naik hingga 100 persen dibandingkan harga normal.

Vivi, salah satu penjual makanan di sekitar RSUP Prof Kandou Malalayang, mengatakan dirinya harus memutar otak agar tetap bisa menjual makanan dengan harga terjangkau tanpa mengurangi kualitas.

“Memang cukup sulit karena dua bahan pokok ini mengalami kenaikan cukup tinggi. Jadi kami harus cari cara supaya harga makanan tetap sama,” ujar Vivi saat diwawancara Tribun Manado.

Ia mengaku terpaksa mengurangi penggunaan cabe rawit dan bawang merah dalam beberapa menu makanan.

Menurutnya, makanan yang biasanya memiliki cita rasa lebih pedas kini sedikit dikurangi tingkat kepedasannya.

Begitu juga untuk sambal dan dabu-dabu yang umumnya menggunakan banyak cabe rawit dan bawang merah.

“Biasanya sambal dan dabu-dabu pakai banyak cabe dan bawang merah. Sekarang sedikit dikurangi supaya biaya tidak terlalu tinggi,” katanya.

Meski begitu, Vivi memastikan kualitas makanan yang dijualnya tetap dipertahankan.

Hal serupa juga disampaikan Fitri, penjual makanan lainnya di area Bahu, Malalayang.

Ia mengatakan tidak mungkin menaikkan harga makanan karena sebagian besar menu yang dijual hanya berada di kisaran Rp 15 - 20 ribu per paket.

“Kalau harga makanan dinaikkan, nanti pembeli bisa berkurang. Jadi kami juga pakai strategi yang sama, kurangi bahan yang naik tapi kualitas tetap dijaga,” ujar Fitri. (Pet)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved