Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Liputan UMKM

Penjual Takjil di Jalan Raya Kelurahan Tidore Diserbu Pembeli

Aktivitas penjualan takjil di Jalan Raya Kelurahan Tidore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mulai ramai pada Jumat (20/2/2026).

Tayang:
Tribun Manado/Eduard Tahulending
TAKJIL - Aktivitas penjualan takjil di Jalan Raya Kelurahan Tidore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mulai ramai pada Jumat (20/2/2026). Salah satu penjual, Nuryani Machmud, mengaku dagangannya banyak diminati masyarakat yang berburu menu berbuka puasa. 
Ringkasan Berita:
  • Aktivitas penjualan takjil di Jalan Raya Kelurahan Tidore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mulai ramai pada Jumat (20/2/2026).
  • Salah satu penjual, Nuryani Machmud, mengaku dagangannya banyak diminati masyarakat yang berburu menu berbuka puasa.
  • Nuryani membuka lapak setiap hari mulai pukul 14.30 WITA hingga dagangan habis. Menurutnya, aneka kue tradisional dan makanan ringan menjadi favorit pembeli.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, SANGIHE -- Aktivitas penjualan takjil di Jalan Raya Kelurahan Tidore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mulai ramai pada Jumat (20/2/2026).

Salah satu penjual, Nuryani Machmud, mengaku dagangannya banyak diminati masyarakat yang berburu menu berbuka puasa.

Nuryani membuka lapak setiap hari mulai pukul 14.30 WITA hingga dagangan habis.

Menurutnya, aneka kue tradisional dan makanan ringan menjadi favorit pembeli.

“Yang paling banyak dicari itu risoles, bronis, dan lalampa,” ujarnya.

Ia menawarkan berbagai pilihan takjil dengan harga terjangkau.

Untuk bronis dijual Rp10 ribu per 4 biji, risoles Rp10 ribu per 3 biji, dan lalampa Rp10 ribu per 3 biji. Sementara kue bolu dibanderol Rp5 ribu per 3 biji.

Selain itu, tersedia pula kue pisang ijo seharga Rp15 ribu, puding Rp10 ribu, buah segar Rp15 ribu, serta kolak kacang hijau Rp10 ribu per gelas.

Ada juga pangkol dan herkules yang masing-masing dijual Rp10 ribu per 6 biji.

Dengan harga yang ramah di kantong dan pilihan menu yang beragam, lapak takjil Nuryani setiap sore ramai dikunjungi warga yang bersiap menyambut waktu berbuka puasa.

Tentang Takjil

Istilah takjil secara etimologi berasal dari bahasa Arab ajila yang berarti menyegerakan, namun dalam budaya Indonesia, kata ini telah bergeser maknanya menjadi hidangan pembuka saat berbuka puasa. Tradisi berburu atau berbagi takjil telah menjadi fenomena sosial yang unik di setiap bulan Ramadan.

Momen ini tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan fisik setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan yang mempererat silaturahmi antarwarga dari berbagai kalangan. 

Secara jenis, takjil di Indonesia sangat beragam dan didominasi oleh cita rasa manis serta segar.

Pilihan favorit biasanya jatuh pada kudapan tradisional seperti kurma, kolak pisang, biji salak, hingga aneka gorengan yang disandingkan dengan es buah atau teh hangat.

Rasa manis pada takjil berfungsi untuk meningkatkan kadar gula darah secara cepat agar tubuh kembali bertenaga, sementara teksturnya yang ringan bertujuan untuk menyiapkan sistem pencernaan sebelum mengonsumsi makanan berat. 

Lebih dari sekadar makanan, takjil memiliki dimensi ekonomi dan spiritual yang signifikan.

Di sisi ekonomi, munculnya pasar takjil musiman membantu menggerakkan roda ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari sisi spiritual, memberikan takjil kepada orang yang berpuasa dianggap sebagai amalan mulia yang mendatangkan pahala besar.

Hal ini menjadikan budaya takjil sebagai perpaduan harmonis antara ketaatan beragama, kearifan lokal, dan semangat berbagi kepada sesama.

Baca Berita Tribun Manado di Google News

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

 

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved