Kamis, 30 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah

Begini Penuturan Saksi Mata Peristiwa Merah Putih di Teling Manado

Peristiwa Merah Putih di Manado pada 14 Februari 1946 membikin gempar. 

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
Tribun Manado/Chintya Rantung
ILUSTRASI - Bendera Merah Putih. Penuturan saksi mata peristiwa merah putih di Teling Manado. 
Ringkasan Berita:
  • Peristiwa Merah Putih di Manado pada 14 Februari 1946 membikin gempar
  • Dunia tahu bahwa Indonesia masih ada, bahkan telah memunculkan pemerintahan sipil di Manado pro Republik - hal pertama di Indonesia
  • Tribunmanado berhasil mewawancarai Robby Lapian, salah satu saksi mata peristiwa itu, beberapa tahun lalu

TRIBUNMANADO.CO.ID - Peristiwa Merah Putih di Manado pada 14 Februari 1946 membikin gempar. 

Media luar negeri menyiarkannya dan peristiwa itu pun "viral" di masa itu. 

Dunia tahu bahwa Indonesia masih ada, bahkan telah memunculkan pemerintahan sipil di Manado pro Republik - hal pertama di Indonesia. 

Belanda hilang muka. 

Propaganda mereka hancur lebur. 

Sebaliknya, gengsi Indonesia naik. Bung Karno tak tahan untuk memuji para pejuang yang terlibat dalam peristiwa Merah Putih. 

Tribunmanado berhasil mewawancarai Robby Lapian, salah satu saksi mata peristiwa itu, beberapa tahun lalu. 

Kala itu, usianya sudah 90 an. 

Dari Robby meluncur kesaksian, sebagian besar mirip dengan narasi buku sejarah. 

Namun ada pula yang sedikit berbeda. 

Sejarah menyebut itu peristiwa kudeta yang saling mulusnya hingga disebut sunyi. 

Tanpa ketegangan berarti. 

"Terdengar bunyi tembakan dari tangsi," kata dia. 

Suasana kala itu pun penuh ketegangan. 

Siapa kawan dan lawan, tak diketahui. "Semua berhati hati," katanya. 

Kala itu, ia tergabung dalam Trisu yakni Tentara Republik Indonesia Sulut. 

Pasukan itu dibawah pimpinan Ch Taulu. 

Ini Lokasi Tepat Eks Tangsi Belanda di Teling, Saksi Sejarah Peristiwa Merah Putih Manado

Dini hari 14 Februari 1946. 

Para pemuda asal Manado menyerang Tangsi Belanda di Teling

Dalam tempo singkat, tentara Belanda dilumpuhkan. 

Pemimpinnya ditawan. 

Sembari itu, para pejuang yang ditahan dibebaskan. 

Aksi sudah berjalan sesuai rencana. Tapi para pemuda ini merasa masih ada yang kurang. 

Ternyata bendera merah, putih dan biru masih berkibar di tangsi. 

Aksi teriak lantas dilakukan para pemuda. 

Mereka merobek warna biru dan jadilah merah putih. 

Inilah epic peristiwa itu, yang lantas viral di kala itu karena diberitakan BBC. 

Kini, tahun 2026, tangsi Belanda tersebut telah berubah menjadi markas militer di kawasan Teling.

Akademisi Unsrat Raymond Mawikere yang juga ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulut memperkirakan Tangsi militer Belanda tersebut berada di kompleks militer tak jauh dari perempatan Teling

"Itu markas yang berada depan Zipur," katanya. 

Sebut dia, itu kompleks Kodam Merdeka yang lama. 

Kodam Merdeka yang baru berada sekira 1 kilometer dari lokasi tersebut. 

"Jadi bukan di Kodam yang baru," katanya. 

Raymond menduga masih ada bagian yang dirawat dari markas tersebut. 

Sementara sejarawan Ivan Kaunang menyebut lokasi eks tangsi Belanda tersebut kerap digunakan oleh militer. 

Informasi lainnya yang dihimpun Tribunmanado, alasan Belanda membangun tangsi militer di Teling adalah karena tempat itu berada di ketinggian dan strategis. 

Teling sendiri merupakan salah satu wilayah yang paling aman dari banjir di kota Manado

Dikutip dari berbagai sumber, Peristiwa Merah Putih tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Mereka menolak provokasi tentara Belanda yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hanya untuk Pulau Sumatera dan Jawa semata.

Berita prokamasi kemerdekaan Indonesia baru terdengar oleh rakyat di Sulawesi Utara pada 21 Agustus 1945.

Mereka dengan segera mengibarkan bendera merah putih di setiap area dan menduduki kantor-kantor yang sebelumnya dikuasai oleh tentara Jepang serta melucuti semua senjatanya.

Namun kedatangan tentara sekutu bersama NICA pada awal Oktober 1945 di Sulawesi Utara membawa suasana rakyat kembali ricuh.

Belanda menginginkan kekuasaan sepenuhnya atas Sulawesi Utara terutama Manado.

Namun rakyat Manado menolak dan memilih untuk melawan.

Kemudian serangan dari sekutu dan Belanda membuat Manado dan sekitarnya kembali diduduki oleh tentara Belanda.

Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu, seorang pemimpin di kalangan militer bersama Sersan S.D. Wuisan menggerakkan pasukannya dan para pejuang rakyat untuk ikut mengambil alih markas pusat militer Belanda.

Rencana tersebut telah disusun sejak tanggal 7 Februari 1946. Mereka mendapatkan bantuan seorang politisi dari kalangan sipil, Bernard Wilhelm Lapian (BW Lapian).

Puncak penyerbuan terjadi pada tanggal 14 Februari. Namun sebelum penyerbuan terlaksana, para pimpinan pasukan tertangkap  Belanda termasuk Charles C Taulu dan S.D. Wuisan.

Akibatnya pemberontakan ke tangsi militer Belanda dialihtugaskan kepada Mambi Runtukahu yang memimpin anggota KNIL dari orang Minahasa.

Bersama rakyat Manado mereka berhasil membebaskan Charlis Choesj Taulu, Wim Tamburian, serta beberapa pimpinan lainnya yang ditawan.

Puncak penyerbuan tersebut ditandai dengan perobekan bendera Belanda yang awalnya berwarna merah, putih, dan biru menjadi merah dan putih lalu dikibarkan diatas gedung markas Belanda.

Mereka juga berhasil menahan pimpinan pasukan Belanda di antaranya adalah pimpinan tangsi militer Letnan Verwaayen, pemimpin garnisun Manado Kapten Blom, Komandan KNIL Sulawesi Utara Letnan Kolonel de Vries dan seorang Residen Coomans de Ruyter beserta seluruh anggota NICA. Namun pengambilalihan kekuasaan Belanda tersebut hanya sementara. (Art) 

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado, Youtube Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

 

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved