Jumat, 29 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Profil

Sosok Hitler Rompas, Pengacara Muda Asal Sulawesi Utara yang Merintis Karier dari Nol

Hitler Willyam Rompas adalah seorang pengacara muda asal Sulawesi Utara. Di usia 34 tahun, ia telah mencatat berbagai pencapaian di dalam kariernya.

Tayang:
Dok. Pribadi Hitler Rompas
SOSOK - Potret Pengacara Hitler Rompas, Juli 2025. Hitler Willyam Rompas adalah seorang pengacara muda asal Sulawesi Utara. Di usia 34 tahun, ia telah mencatat berbagai pencapaian di dalam kariernya. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hitler Willyam Rompas adalah seorang pengacara muda asal Sulawesi Utara. Di usia 34 tahun, ia telah mencatat berbagai pencapaian di dalam kariernya. 

Di balik kesuksesan saat ini, perjalanan hidupnya dimulai dari titik nol. 

Setelah lulus SMA pada 2009, Hitler tidak langsung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya. 

Ia sempat bekerja serabutan selama tiga tahun, hingga akhirnya, pada 2012, dapat melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. 

Ketertarikannya terhadap profesi pengacara baru tumbuh ketika ia menginjak semester lima. 

“Semua mengalir begitu saja. Barulah pada semester kelima muncul keinginan kuat untuk menjadi seorang pengacara,” katanya kepada Tribunmanado.co.id, Selasa (29/7/2025). 

Merintis Karier dengan Kerja Keras dan Integritas 

Hitler memulai kariernya sebagai advokat dari bawah. Ia sempat bekerja sebagai jurnalis, staf HRD perusahaan, hingga menjadi petugas pengawas pemilu. 

Semua pengalaman itu membentuk pondasi karier hukumnya yang kokoh hari ini. 

Menjadi pengacara bukanlah hal mudah. Di awal karier, ia menyadari sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien. 

Namun, semangat untuk terus belajar serta selalu menjunjung tinggi integritas membuatnya mampu untuk terus berkembang. 

Ia pun aktif belajar dari para seniornya. Mulai dari mengamati bagaimana menyusun gugatan, replik, hingga menyampaikan pembelaan dalam perkara pidana. 

Baginya, menjadi pengacara bukan hanya soal pintar bicara di ruang sidang, tapi juga tentang membangun kepercayaan. 

"Saya terinspirasi oleh pesan Ketua Umum PERADI, Prof Otto Hasibuan, bahwa seorang advokat hebat harus memiliki dua hal, yaitu bisa dipercaya dan punya kemampuan," ungkap ayah empat anak ini. 

Dua nilai itulah yang selalu ia kejar dalam kariernya. 

Kini, Hitler menjabat sebagai Area Litigation Manager di sebuah perusahaan pembiayaan nasional yang menangani wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulteng, Maluku hingga Papua. 

Wakil Ketua Young Lawyer Committee DPC PERADI Manado ini pun menjalankan firma hukum miliknya sendiri, yakni HRP Law Office, sebagai Managing Partners. 

Selain terus mengasah diri lewat praktik hukum, Hitler juga aktif dalam organisasi profesi. 

Menangkan Perkara di Tingkat PK Jadi Hal yang Paling Berkesan 

Salah satu perkara yang paling berkesan dalam kariernya adalah saat menang di tingkat Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung pada September 2024 lalu. 

Ia awalnya mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Palu, tapi ditolak. 

Ia kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi dan kasasi ke Mahkamah Agung, tetapi hasilnya tetap ditolak. 

Tak lantas menyerah, alumnus Unsrat Manado ini pun menempuh langkah terakhir, Peninjauan Kembali (PK). 

Tak disangka, Mahkamah Agung akhirnya mengabulkan permohonannya pada 5 September 2024, lewat putusan PK Nomor 1069 PK/Pdt/2024. 

“Perkara ini sangat berkesan karena saya kalah di semua tingkat, tapi akhirnya menang di ujung perjuangan,” katanya. 

Penghargaan Jadi Motivasi untuk Jadi Lebih Baik 

Pada tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan dari Ketua Mahkamah Agung RI sebagai Peringkat III Advokat/Pengguna Terbaik dalam Pemanfaatan Prosedur Gugatan Sederhana di Pengadilan Negeri. 

Namun, penghargaan itu tak lantas membuatnya berpuas diri. 

Hitler, yang resmi diangkat sebagai pengacara pada 2019 lalu, justru semakin terpacu untuk terus mengasah kemampuan dan menjaga prinsip-prinsip etik profesinya. 

Baginya, pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika ia dapat menyelesaikan perkara dengan baik, jujur, dan profesional. 

"Nilai utama yang selalu saya pegang teguh adalah harus jujur dalam membela klien. Kita tidak boleh menjanjikan kemenangan. Kita harus membela perkara secara profesional, dengan selalu berpegang teguh pada Undang-Undang Advokat dan Kode Etik Advokat Indonesia," kata dia. 

Setia pada Profesi, Tulus untuk Sesama 

Bagi Hitler, menjadi pengacara bukan semata soal perkara besar atau sorotan publik. 

Di balik jubah hitam yang dikenakannya di ruang sidang, ada komitmen kuat untuk membantu mereka yang tidak mampu. 

Ia sadar, mungkin belum banyak hal besar yang ia lakukan untuk masyarakat secara luas. Tapi lewat profesinya, ia bisa hadir bagi orang-orang kecil yang membutuhkan bantuan hukum. 

Beberapa perkara ketenagakerjaan menjadi contoh nyata. Dalam kasus perselisihan hubungan industrial, Hitler pernah mewakili para pekerja melawan perusahaan tempat mereka bekerja. 

Untuk kasus-kasus ini, ia tidak menerima bayaran sepeser pun. Semuanya ia lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib para buruh. 

“Kalau saya bisa kembali ke titik awal, saya akan memilih jalan yang sama. Karena saya begitu mencintai profesi ini,” ucapnya.

Sematkan Nilai Hukum dalam Nama Anak-Anaknya 

Kecintaan Hitler terhadap dunia hukum juga tercermin dari nama keempat anaknya. 

Semuanya mengandung makna mendalam tentang hukum dan keadilan. 

Anak pertamanya diberi nama Justicia Rompas, diambil dari kata Justicia yang berarti keadilan. 

Anak kedua, Lawyeria Rompas, membawa kata Lawyer yang berarti pengacara.  

Anak ketiga, Justice Rompas, juga mengandung arti keadilan. 

Sementara anak keempat, Rechtnata Rompas, mengandung kata Recht, yang dalam bahasa Belanda berarti hukum. 

"Nama-nama mereka saya pilih bukan sekadar indah didengar, tapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai yang saya perjuangkan dalam hidup—hukum, keadilan, dan pengabdian," ujar suami dari Sicilia Watuseke tersebut. 

Prinsip Iman di Balik Perjalanan Karier 

Hitler memegang teguh filosofi hidup yang ia kutip dari Alkitab, Lukas 16:10. 

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara besar," bunyi ayat tersebut. 

Bagi Hitler, kesetiaan dan kejujuran dalam hal kecil menjadi dasar utama untuk meraih kepercayaan dan kesuksesan. 

“Makna kesuksesan bagi saya adalah ketika cita-cita bisa tercapai. Itu harus disyukuri. Dan jika masih ada mimpi yang belum terwujud, kita tetap harus berdoa dan berusaha untuk mencapainya,” tutupnya. 

Pesan untuk Mahasiswa Hukum 

Kepada para mahasiswa hukum yang sedang menempuh pendidikan dan bercita-cita menjadi advokat, Hitler berpesan agar menyiapkan diri sejak dini. 

Tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga secara mental dan etika. 

“Jangan kejar profesi ini karena ingin hidup mewah. Belajar hukum itu bukan cuma soal menghafal pasal. Lebih penting lagi adalah memahami keadilan dan bagaimana menegakkannya secara bertanggung jawab,” ujarnya. 

Ia juga menekankan pentingnya membentuk karakter selama kuliah, yakni jujur, disiplin, dan rendah hati. 

“Jangan terburu-buru ingin terkenal atau cepat kaya. Bentuk dulu diri kita jadi pribadi yang bisa dipercaya. Karena di dunia hukum, reputasi itu segalanya,” tutupnya.

(Tribunmanado.co.id/Yes)

Baca juga: Sosok Angelica Theresia Boyangan, Cewek Manado yang Bercita-cita Jadi Pengacara: Ingin Bantu Orang

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved