Sulut Maju

Begini Penjelasan Dinas Kesehatan Sulut Terkait Prevalensi Stunting di Daerah Kabupaten/Kota

Tribunmanado.co.id/Rhendi Umar
PEMPROV SULUT - Kantor Gubernur Sulut di Jalan 17 Agustus, Teling Atas, Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memberikan penjelasan terkait perbandingan Prevalensi Stunting di beberapa daerah Kabupaten/Kota, Rabu (16/7/2025). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memberikan penjelasan terkait perbandingan Prevalensi Stunting di beberapa daerah Kabupaten/Kota.

Kadis Kesehatan dr Rima F Lolong mengatakan Pravelensi itu merupakan data hasil survei yang dilakukan oleh petugas yang terlatih.

"Survei itu dilakukan oleh kementerian, mereka membuat dan mengukurnya di lapangan," kata Rima Rabu (16/7/2025)

Menurut dr Rima, data Pravelensi stunting tersebut bisa berubah selalu.

"Jadi yang lalu stunting sudah terkoreksi kemudian hari ini bisa ada stunting baru dan data Pravelensi itu survey," jelasnya.

Selain itu dr Rima mengatakan bahwa anak usia 5 tahun sudah tidak lagi diukur sebagai acuan pengukuran stunting.

"Sasarannya ini kan adalah balita untuk stunting," jelasnya

Enam Daerah Dengan Tingkat Prevalensi Stunting Terendah di Sulut

Sebelumnya Rembuk Stunting Provinsi Sulut tahun 2025 digelar di Hotel Arya Duta 
Manado, Sulut, Rabu (16/7/2025).

Dari fata yang dihimpun Tribunmanado.com di Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Pemprov Sulut, Enam daerah tertinggi Prevalensi terendah di Sulut adalah Tomohon, Talaud,  Manado, Minut, Bolmong dan Minahasa.

Tomohon memiliki tingkat Prevalensi sebesar 10,8. Talaud 11,6, Manado 18,8.l, Minut 18,9, Bolmong 19,3, Minahasa 19.4.

Daerah lainnya adalah Sangihe 24.2, Minsel 28,1, Bolmut 26,3, Bolsel 23,6, Bitung 25,1 dan Kotamobagu 23,2.

Wagub Sulut Victor Mailangkay dalam sambutannya optimistis angka stunting dapat diturunkan.

"Dengan komitmen kuat, gotong royong serta kerja bersama yang merupakan budaya kita, angka stunting dapat diturunkan," katanya. (Ren/Art)