Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga BBM

Harga Pertalite Eceran Capai Rp14 Ribu Per Liter, Warga Boltim Sulut Minta Polisi Tak Tutup Mata

Pasalnya, harga BBM jenis pertalite yang dijual secara eceran mencapai Rp14 ribu perliternya

Penulis: Nielton Durado | Editor: Alpen Martinus
Tribun Manado/Nielton Durado
Pertamini di salah satu kecamatan Kotabunan, Kabupaten Boltim, Sulawesi Utara (Sulut). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Harga eceran bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut), dikeluhkan oleh warga.

Pasalnya, harga BBM jenis pertalite yang dijual secara eceran mencapai Rp14 ribu perliternya.

Pantauan Tribunmanado.co.id, Jumat 3 Januari 2025, hampir semua penjual eceran di Kecamatan Kotabunan menjual pertalite dengan harga Rp14 ribu perliternya. 

Angka ini jauh di atas harga resmi yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), yakni Rp10 ribu perliternya. 

“Di sini harga Pertalite di mesin pompa mini (Pertamini) Rp14.000 per liter,” ujar seorang pedagang. 

Menurutnya, harga tersebut memang berbeda dengan yang ada di SPBU.

"Kami juga cari untung," kata dia. 

Harga bensin pertalite eceran yang menjulang tinggi ini membuat warga resah. 

Ridel seorang pengendara asal Tutuyan yang hendak ke Manado mengaku terkejut dengan kenaikan BBM eceran tersebut.

“Biasanya harga eceran hanya sekitar Rp12 ribu perliternya. Sekarang tiba-tiba jadi Rp14 ribu,” ujarnya.

Ia mengatakan para penjual terlalu memasang harga yang tidak rasional. 

"Ini sudah tak masuk akal," tuturnya. 

Maraknya penjual Pertamini dengan harga tinggi ini dinilai bertentangan dengan program pemerintah mengenai BBM satu harga.

Masyarakat berharap Polres Boltim dapat segera menertibkan praktik pengecer nakal yang memanfaatkan situasi tersebut. 

"Kami harap polisi jangan tinggal diam. Karena ini sudah di luar batas," kata dia. 

Sebelumnya, antrean panjang sempat terjadi di SPBU Tutuyan.

Banyak kendaraan mengantre untuk membeli BBM, yang diduga untuk ditimbun dan dijual kembali dengan harga tinggi.

“Kami yang hanya membeli untuk kebutuhan harian jadi terhambat," kata salah seorang warga. 

"Antreannya panjang, pakai barcode pula, sementara mobil-mobil besar antre hanya untuk menjual kembali,” keluhnya lagi. (Nie)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved