Renungan Harian Kristen
Renungan Harian Kristen Mazmur 72:7-8, Keadilan dan Damai Sejahtera
Selain itu, rasa keadilan yang seadil-adilnya selalu menjadi kerinduan masyarakat bahkan semua stakeholder dalam suatu sistem kebangsaan.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alpen Martinus
TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian Kristen kali ini berjudul Keadilan dan Damai Sejahtera Berlimpah
Ayat Alkitab diambil dalam Mazmur 72:7-8.
Dalam pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) baik itu Pilpres (pemilihan presiden), Pileg (pemilihan legislatif) maupun yang baru saja dilaksanakan di seluruh wilayah kesatuan RI, yakni Pilkada (pemilihan kepala daerah), salah satu azasnya adalah Jurdil (jujur dan adil).
Baca juga: Renungan Harian Kristen Mazmur 72:5, Doakan Pemimpin Agar Lanjut Umur
Baik penyelenggara (Komisi Pemilihan Umum) maupun pengawas (Badan Pengawas Pemilu), diharapkan melaksanakan tugasnya secara jujur dan adil, tidak memihak salah satu kontestan ataupun peserta Pemilu, baik partai maupun para calonnya.
Juga pemerintah dan petugas keamanan (TNI dan Polri) serta lembaga pemerintah lainnya, haruslah berlaku adil dan jujur, tidak memihak dan tidak melakukan intervensi apalagi intimidasi dalam pelaksanaan Pemilu, baik Pilpres, Pileg maupun Pilkada.
Keadilan, menjadi "barang" yang paling berharga dan paling diidam-idamkan oleh masyarakat dan semua peserta Pemilu.
Selain itu, rasa keadilan yang seadil-adilnya selalu menjadi kerinduan masyarakat bahkan semua stakeholder dalam suatu sistem kebangsaan.
Diharapkan bahwa keadilan berlaku menyeluruh, sama dan tanpa pilih buluh. Jangan sampai keadilan atau hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Juga jangan memihak atau membela kepada kaum kapitalis (orang kaya) pemodal tetapi mengabaikan bahkan mengorbankan kaum proletar, orang miskin, orang terlantar atau termarginalisasi dan orang-orang lemah lainnya.
Hal yang sama juga diharapkan terjadi dalam lingkungan gereja dan organisasi/lembaga baik pemerintahan maupun swasta, dan lainnya.
Keadilan harus menjamin dan berlaku bagi seluruh anggotanya tanpa kecuali.
Demonstrasi, perlawanan atau protes sering terjadi dan dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa dirugikan karena tidak diperlakukan secara tidak adil oleh pemimpin, pejabat, pemerintah atau para pengambil keputusan.
Raja Salomo mendoakan agar raja Israel, tidak seperti itu.
Tapi raja benar-benar menjadi pemimpin yang adil yang menjamin hak-hak tetapi juga menegakkan kewajiban rakyatnya.
Berlaku adil kepada semua orang tanpa pilih apakah kalangan pejabat, kapitalis (orang kaya), keluarga maupun kroni-kroninya, baik kroni bisnis maupun partai atau golongannya.
Itulah doa raja Salomo. Dia berdoa kepada Tuhan dan berharap bahwa raja akan menjadi lokomotif sekaligus teladan dalam membangun kehidupan yang berkeadilan dalam segala hal.
Di zaman kepemimpinan raja Israel, hal keadilan harus terus berkembang dan mendatangkan rasa nyaman bagi rakyatnya.
Raja harus bertindak adil dalam segala hal, sehingga hati rakyat bersukacita karena mereka mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang sama dari raja.
Hal ini didoakan oleh Salomo agar terus berkembang dan terpelihara dalam kepemimpinan raja seterusnya dan selamanya.
Sebab jika raja mempertahankan keadilan yang seadil-adilnya dalam tindakan nyata, maka hal ini pasti akan mendatangkan damai sejahtera melimpah.
Mengapa? Karena mereka memiliki hak hidup yang sama dengan yang lain sehingga mereka semua bisa mengekspresikan karya dan kerjanya dengan baik yang pasti mendatangkan kebaikan baik bagi dirinya sendiri, bangsanya maupun bagi raja.
Sukacita dan damai sejahtera melimpah, itulah yang akhirnya akan mereka nikmati dan rasakan dalam hidup mereka sebagai satu bangsa.
Jika kehidupan umat sudah terjamin oleh rasa keadilan, maka selanjutnya raja akan diberkati. Kerajaan maupun kekuasaannya diberkati oleh Tuhan menjadi besar dan menjadi berkat bagi segala bangsa di muka bumi ini.
Oleh kepribadian raja yang bijaksana dalam keadilannya itu, Salomo yakin kerajaan Israel akan mencapai ketenarannya dengan menguasai wilayah pemerintahan dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi.
Demikianlah doa Salomo bagi kepemimpinan raja, sehingga benar-benar raja Israel selain menjadi berkat bagi bangsanya dan bangsa-bangsa lain, juga terutama menjadi kemuliaan dan keagungan nama Tuhan, karena bangsa ini selalu mendasari segala sesuatunya di dalam Tuhan Allah.
Demikian firman Tuhan hari ini.
"Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!
Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!" (ay 7-8)
Hidup jujur dan adil, menjadi dambaan semua orang. Kunci keberhasilan dalam suatu organisasi, termasuk pemerintah adalah keadilan.
Keadilan berarti kita hidup sesuai hukum yang berlaku dan tidak memihak ataupun merugikan orang lain. Tapi berlaku adil.
Hal yang terpenting dalam "keadilan" adalah memulainya dari diri kita sendiri. Sudahkan kita berlaku adil pada diri kita di hadapan Tuhan?
Bukankah hidup kita adalah anugerah Tuhan?
Sudahkah kita berlaku adil dengan melakukan kehendak Sang Pencipta dalam hidup kita?
Jadi, keadilan bukan dimulai dari tuntutan kepada orang lain, tapi dengan memberlakukannya dalam diri kita sendiri, keluarga, jemaat dan masyarakat.
Termasuk tidak suka mengganggu orang lain (bully), menyebarkan hoax, fitnah dll, adalah bentuk prilaku yang tidak adil.
Jangan memelihara ketidakadilan, jauhilah ketidakadilan. Hiduplah dalam keadilan. Takutlah akan Tuhan, lakukan kasih tanpa pilih kasih.
Itulah keadilan yang nyata dan sesungguhnya. Mulailah itu dari diri kita sendiri, kita doakan dan harapkan agar pemerintah dan semua jajarannya melakukan hal yang sama.
Sehingga damai sejahtera melimpah sebagai anugerah Kristus, terus mengalir dalam hidup kita. Amin
| Renungan Kaum Ibu Kristen, 1 Yohanes 2:18-27, Tidak Ada Dusta yang Berasal dari Kebenaran |
|
|---|
| Renungan Malam Mazmur 55:23, Menyerahkan Kuatir dan Hidup dalam Pemeliharaan Tuhan |
|
|---|
| Renungan Malam 1 Yohanes 2:21, Memilih Kebenaran dan Menolak Dusta |
|
|---|
| Renungan Harian Kristen Selasa 5 Mei 2026, 1 Yohanes 2:21, Tidak Ada Dusta Berasal Dari Kebenaran |
|
|---|
| Renungan Pemuda GMIM 3-9 Mei 2026, 1 Yohanes 2:18-27, Tidak Ada Dusta yang Berasal dari Kebenaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Renungan-Harian-Kristen-Yoel-223-24.jpg)