Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ceramah Islam

Inilah Cara Mengetahui Kebenaran Dalam Islam, Berikut Hikmah Ustad Adi Hidayat

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia beriman kepada Allah Swt, ia percaya tanpa keraguan akan semua ketentuan yang ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Indry Panigoro
YouTube Adi Hidayat Official
Ustadz Adi Hidayat 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Al Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hal yang paling penting dalam Al Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Membaca dan menafsirkannya secara mendalam akan memberikan wawasan ke dalam keimanan yang benar.

Logika dan akal sehat menggunakan akal sehat untuk merenungkan dan merefleksikan ajaran-ajaran Islam.

Banyak ajaran yang selaras dengan logika dan dapat dipahami secara rasional.

Konsensus Ulama Mengacu pada pandangan para ulama dan ahli hukum yang diakui.

Konsensus ini sering kali memandu pemahaman tentang isu-isu agama.

Pengalaman pribadi dan spiritual mengalami praktik ibadah dan doa dapat mengarah pada kedamaian dan keyakinan dalam iman seseorang.

Pengalaman spiritual sering kali menjadi indikator kekuatan iman seseorang.

Diskusi dan dialog dengan berpartisipasi dalam diskusi dengan sesama muslim dan menghadiri pertemuan-pertemuan ilmu, seseorang akan mendapatkan perspektif yang lebih luas dan lebih dalam mengenai keimanan.

Kehidupan sehari-hari menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari dan melihat hasilnya. Ketulusan dan ketaatan akan memperkuat keimanan.

Pendekatan-pendekatan ini memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi dan memahami kebenaran iman dalam Islam dengan cara yang lebih komprehensif.

Penjelasan tersebut ada dalam akun Yuotube Adi Hidayat Official tentang ‘Cara Mengetahui Kebenaran Iman-Hikmah Ustadz Adi Hidayat’. telah ditayangkan (19/08/2021).

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia beriman kepada Allah Swt, ia percaya tanpa keraguan akan semua ketentuan yang ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Bukti keimanannya ditunjukkan dengan amal perbuatannya.

Jadi, jika ada nol orang yang mengatakan dirinya beriman, ciri-ciri keimanannya dapat dilihat dari bukti perbuatan baiknya.

Apakah ini berasal dari praktik ritual atau konvensi sosial, iman terwujud melalui tindakan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai contoh, Allah Swt meminta kita untuk membuktikan keimanan yang telah kita ikrarkan dalam diri kita.

Ketika kita mengatakan bahwa kita beriman, Allah Swt meminta orang-orang yang beriman untuk membuktikan keimanan mereka melalui doa.

Maka Allah Swt berfirman di akhir surah ke empat dari Al-Qur'an pada ayat 103 surah ke empat dari Al-Qur'an, “Shalat itu adalah kewajiban bagi orang-orang yang meyakini bahwa hari kiamat itu sudah dekat.

Jadi orang-orang yang beriman memahami waktu shalat dan juga shalat. Jadi kriteria salat adalah dia tahu kapan dia harus salat subuh besok, dan dia sudah siap.

Sehingga sering kali Ustadh Adi Hidayat mengatakan bahwa standar mukmin dapat diukur dari azan ketika nama Allah Swt disebut dalam Al Qur'an Surat 8 ayat 2.

Ketika nama Allah Swt disebut, ada getaran yang terjadi dalam jiwa seseorang.

Ketika kalimat tersebut dikumandangkan, ada getaran dalam jiwa kita yang mendorong kita untuk mengingat Allah swt dan mengingat Allah swt untuk melakukan ketauhidan dengan mengucapkannya.

Itulah sebabnya ketika adzan dikumandangkan, yang kita ingat adalah doa dan janji untuk beribadah kepada Allah swt.

Hal ini karena dalam Al-Qur'an Surat 20 ayat 14, setelah kalimat Lailaha Illallah, disebutkan untuk menyembah Allah swt.

Jika kamu telah menyatakan aku sebagai Tuhan, maka buktikanlah bahwa kamu menyembahku.

Bagaimana kamu menyembah, lanjutkan ayat tersebut dan shalatlah untuk mengingatku.

Inilah sebabnya mengapa dalam himne Al-Anfal, jawabannya terdapat pada ayat kedua dari himne Taha di ayat 14.

Itulah sebabnya ketika seorang mukmin sejati menyebut nama Allah Swt, jiwanya bergetar.

Jika kita shalat ketika azan berkumandang, ada getaran yang merupakan kriteria iman dan menunjukkan bahwa iman itu masih ada di dalam diri kita.

Buktinya bukan berarti semakin cepat menjawab adzan, semakin baik imannya, tetapi dia menunjukkan kekuatan imannya dari segi ritual, terutama melihat waktu sebelum adzan, ketika dia harus bersiap-siap terlebih dahulu, penampilannya bagus, shalatnya bagus, dll.

Ada juga bagian tentang aspek sosial, dari perilaku pribadi hingga sosial.

Dia menggunakan lidahnya, matanya, anggota tubuhnya, dan dia menyebutkan kalimat-kalimat keimanan sebelum pekerjaan anggota tubuhnya untuk menjelaskan bagaimana dia harus berperilaku.

Bagi orang beriman, pertama-tama iman, kemudian amal saleh dari mata, mata mereka harus melihat hal-hal yang baik ketika yang dilihatnya adalah hal yang tidak baik.

Jadi iman akan mendorong pemiliknya untuk beramal shaleh, karena melihat yang tidak baik saja sudah berpaling.

(Mahasiswa Magang Unima / Asari Jupuri)

Baca Berita Lainnya di: Google News

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved