Kasus Campak di Sulut
Ini Data Dinkes Sulut, Kasus Campak dan Rubela di Sulawesi Utara Januari - Maret 2024
Berikut rincian lengkap data kasus campak dan rubela di Sulawesi Utara tahun 2023 dan 2024 (Januari-Maret).
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Handhika Dawangi
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebanyak 15 kasus campak dan 1 kasus Rubela terjadi di provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada periode Januari hingga Maret 2024.
Data Dinas Kesehatan Sulut menyebut, terdapat 9 kasus campak di kota Bitung.
Kasus lainnya terdapat di kota Manado. Yakni 4 kasus.
Kemudian Kabupaten Minut dan Kabupaten Boltim masing - masing 1 kasus.
Satu - satunya kasus Rubela di awal tahun 2024 terjadi di Kabupaten Mitra.
Kasus di tiga bulan pertama 2024 ini lebih banyak dibanding 2023.
Sepanjang 2023, terdapat 10 kasus yang terjadi di enam daerah.
Kota Bitung mengoleksi tiga kasus. Kota Manado dan Minsel dua kasus.
Kabupaten Minut, Minahasa dan Tomohon masing - masing 1 kasus. (Art)
Daftar Kasus Campak di Sulut (Januari - Maret 2024):
-Bitung 9 Kasus
-Manado 4 Kasus
-Minahasa Utara 1 Kasus
-Boltim 1 Kasus
Daftar Kasus Campak di Sulut Tahun 2023:
-Bitung 3 Kasus
-Manado 2 Kasus
-Minahasa Selatan 2 Kasus
-Minahasa Utara 1 Kasus
-Minahasa 1 Kasus
-Tomohon 1 Kasus
Daftar Kasus Rubela di Sulut (Januari-Maret 2024):
-Minahasa Tenggara 1 Kasus
Daftar Kasus Rubela di Sulut Tahun 2023:
-Minahasa 2 Kasus
KLB Campak, Bitung Imunisasi Massal
Pemerintah Kota Bitung akan memulai imunisasi massal pada Jumat (5/4/2024) hari ini setelah daerah ini ditetapkan kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak atau sarampa.
Ada 77 kasus dugaan campak di Bitung dengan 9 di antaranya positif.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Bitung Viktor Tumbuan mengatakan, pelaksanaan outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi massal diawali di Kecamatan Maesa.
Kecamatan ini paling tinggi kasus campak berdasar hasil penyelidikan epidemiologis (PE).
Imunisasi dilakukan serempak di beberapa kelurahan di Kecamatan Maesa.
Sebelum pelaksanaan imunisasi massal itu, Dinkes Bitung melaksanakan sosialisasi di aula Kantor Camat Maesa, Kamis (4/4).
“Sasaran ORI Jumat besok (hari ini) 1.000 orang lebih,” kata Viktor.
Imunisasi tambahan ini akan diberikan kepada semua anak usia 9 bulan, 18 bulan dan usia Kelas 1 SD.
Viktor menjelaskan, imunisasi harus cepat dilakukan dan warga diharapkan bisa menerima untuk mencegah lebih banyak kasus baru.
Ia bermohon peran serta dan kerja sama pihak pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk bergotong royong melaksanakan imunisasi.
Status KLB ditetapkan jika terdapat 5 kasus suspek campak yang memiliki hubungan epidemiologis atau jika terdapat 2 kasus positif campak yang memiliki hubungan epidemiologis.
Viktor menjelaskan, ada 77 kasus dugaan campak di Bitung selang Januari hingga Maret. Sebanyak 9 kasus di antaranya positif.
Dari 34 yang dikirim sampel darah untuk diperiksa, hanya ada empat yang pernah diimunisasi campak.
Dalam 4 tahun terakhir, cakupan imunisasi di Kota Bitung mengalami penurunan yang sebagian disebabkan oleh pandemi, kurangnya peran lintas sektor dan perubahan psikologis masyarakat terhadap imunisasi.
Ia mengingatkan, penyakit campak sangat menular.
Penularannya melalui cipratan liur (droplet), ludah atau cairan hidung. Sangat berbahaya bila tidak ditangani secara serius.
“Komplikasinya bisa infeksi telinga, buta, radang otak dan radang paru,” jelas dia.
Untuk sementara, kasus campak hanya didapati di Kota Bitung.
Di Minahasa, Kepala Dinas Kesehatan Olviane Rattu menyebut tidak ada kasus campak di daerahnya.
"Dalam arti kasus campak di Minahasa masih dalam batas normal dan tidak mengarah ke KLB," kata dia, Kamis (4/4).
Hal ini, kata dia, berdasarkan laporan dari puskesmas bahwa beberapa bulan terakhir tidak ada laporan kasus campak di Minahasa.
Begitu juga di Kota Kotamobagu, kasus campak tidak ada pada tahun ini.
"Tahun 2023 juga tidak ada," ujar Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotamobagu Hariyanti Sutarjo.
Sementara di Minahasa Utara, menurut Kepala Dinas Kesehatan Stella Safitri, ada satu kasus campak yang ditangani pada Januari lalu. “Itu di wilayah kerja Puskesmas Kolongan," kata dia.
Lanjut dia, pasien campak sekarang sudah sehat dan tidak terjadi penularan.
Vaksin DPT
Saat ini terjadi kekosongan stok vaksin DPT di beberapa daerah. Di Minut, seorang warga mengeluh anaknya belum dapat diimunisasi DPT di Puskesmas Kolongan karena stok vaksin masih kosong. Ia mengaku beberapa kali datang ke puskesmas itu tapi belum dapat dilayani.
Kepala Puskesmas Kolongan dr Cicilia Paat membenarkan stok vaksin DPT kosong. Ia berharap warga terus mengecek bila stok vaksin sudah ada.
Di Kotamobagu, Kepala P2P Dinas Kesehatan Hariyanti Sutarjo menyebut vaksin DPT belum tersedia. "Masih kosong dari provinsi. Satu bulan (kosong)," kata dia.
Ia mengatakan, vaksin disediakan oleh Dinas Kesehatan Sulut. "Kalau vaksin samua harus provinsi, kami tidak bisa pengadaan sandiri. Jadi penundaan imunisasi sampai vaksin tersedia," kata dia.
Dokter Umum RSUD Maria Walanda Maramis, dr Gianno Just Eman mengatakan, vaksin DPT yang tidak tersedia dalam jangka waktu lama sangat berbahaya. “Ini membuka peluang yang lebih besar bagi anak-anak tertular, meningkatkan risiko kesehatan di masyarakat," kata dia.
"Sebenarnya vaksin dasar tidak boleh tidak tersedia. Saran saya bagi dinkes, setiap bulan harus list vaksin tersebut. Saat mau habis harus dibuat permintaan ke pemerintah pusat untuk pengadaan vaksin," ujarnya. (Tribunmanado.co.id/Art/crz/fis/pet/gob/jer)
| Siap-siap 8 Jam Mati Lampu, Info PLN Ini Lokasi Terdampak Mulai Pukul 09.00 Wita |
|
|---|
| Chord Gitar Lagu Takdir Tuk Berpisah - Ziell Ferdian - Kunci G |
|
|---|
| Gempa Bumi Terkini di Sulut Rabu 29 April 2026, Info BMKG Magnitudo dan Lokasinya |
|
|---|
| Gempa Bumi Terkini di Jawa TImur Rabu 29 April 2026, Info BMKG Magnitudo dan Lokasinya |
|
|---|
| Peringatan Dini BMKG Sulut Cuaca Rabu 29 April 2026, Ini Daerah Waspada Angin Kencang dan Hujan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Data-kasus-campak-dan-rubela-di-Sulawesi-Utara-Update-April-2024.jpg)