Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Advertorial

Waspada DBD

Semoga bermanfaat agar kita semua terhindar dari bahaya Demam Berdarah Dengue atau DBD.

Kolase/HO
dr. Fredine E.S.Rares, MKes 

Waspada DBD

Oleh:
dr. Fredine E.S.Rares, MKes
Program Studi S3 Entomologi Pascasarjana Unsrat

DEMAM Berdarah Dengue ( DBD ) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (DENV), yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Penyakit ini masuk ke Indonesia pada tahun 1968 melalui Pelabuhan Surabaya dan pada tahun 1980 sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Pada tahun 1988 DBD mulai menyebar keseluruh Indonesia dengan jumlah penderita mencapai 13,45 per 100.000 orang penduduk. Virus Dengue ini ditularkan oleh nyamuk-nyamuk dari famili Stegomya, yaitu Aedes aeggypti, Aedes albopictus, Aedes scuttelaris, Aedes polynesiensis dan Aedes niveus.

Vektor utama DBD di Indonesia , yaitu nyamuk yang dikenal dengan nama Aedes aegypty dan vektor potensialnya yaitu Aedes albopictus.

Nyamuk Aedes, spp adalah spesies nyamuk tropis dan sub tropis di seluruh dunia dalam garis lintang 350 LU dan 350 LS.

Negara beriklim tropis dan subtropis beresiko tinggi terhadap penularan virus tersebut.

Hal ini dikaitkan dengan kenaikan temperatur yang tinggi dan perubahan musim hujan dan kemarau yang disinyalir menjadi faktor resiko penularan virus dengue dan sebagian besar berada di wilayah perkotaan dan semi perkotaan.

Namanya diperoleh dari perkataan Yunani, yaitu Aedes yang berarti "tidak menyenangkan ", karena nyamuk ini menyebarkan beberapa penyakit berbahaya seperti demam berdarah.

Menurut World Health Organization, angka morbiditas DBD mencapai hampir 50 persen juta kasus per tahun.

Sekitar setengah dari populasi dunia kini berisiko terkena demam berdarah dengan perkiraan 100–400 juta infeksi terjadi setiap tahunnya.

Insiden demam berdarah telah meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, dengan kasus yang dilaporkan ke WHO meningkat dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 5,2 juta pada tahun 2019.

Salah satu perkiraan pemodelan menunjukkan 390 juta infeksi virus dengue per tahun dan 96 juta di antaranya bermanifestasi secara klinis Studi lain tentang prevalensi demam berdarah memperkirakan 3,9 miliar orang berisiko tertular virus demam berdarah.

Penyakit ini kini menjadi endemik di lebih dari 100 negara di Wilayah WHO di Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat.

Wilayah Amerika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat merupakan wilayah yang terkena dampak paling parah, dengan Asia mewakili sekitar 70 persen beban penyakit global.

Infeksi virus Dengue telah menyebar merata diantara 33 propinsi di Indonesia, dengan latar belakang interepidemis antara 10.000 - 25.000 kasus setiap tahunnya.

Indonesia sendiri memiliki angka morbiditas yang terus meningkat.

Dilansir dari beberapa sumber, pada tahun 2021 sebanyak 73.518 kasus dengan angka kematian 705 orang.

Tahun 2022 sebanyak 131.265 kasus dengan angka kematian 1.183 orang.

Pada periode Januari – Juli 2023, sebanyak 42.690 orang terinfeksi DBD dan 317 orang meninggal.

Menurut data dari Pemerintah Sulawesi Utara, disepanjang Bulan Januari-Juni 2023 memiliki jumlah kasus DBD sebanyak 1.120 kasus demam berdarah dengue atau DBD yang ditemukan dan dari angka tersebut terdapat 10 kasus kematian.

Manado menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 230 kasus.

Oleh sebab itulah maka kita sebagai warga Kota Manado harus terus berupaya untuk melakukan berbagai hal demi mengantisipasi kejadian luar biasa DBD yang biasanya terjadi lima tahun sekali.

Adapun faktor- faktor yang dapat memicu kejadian DBD ini, adalah

- Lingkungan: Perubahan suhu, kelembaban, dan curah hujan mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur sehingga vektor penular penyakit bertambah dan virus berkembang lebih cepat.

- Kepadatan penduduk, semakin padat penduduk akan semakin mudah terjadi penularan, karena jarak terbang nyamuk dapat mencapai 50 meter.

- Perilaku : Kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal, adanya penampungan buatan ataupun alami di sekitar lingkungan rumah dan tempat pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun di tempat sampah lainny, adanya genangan air yang dapat menjadi tempat hidup dan berkembang biak nyamuk.

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terkena demam berdarah
dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk, seperti :

- Menggunakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh.

- Menggunakan kelambu jika tidur siang hari,mengingat sifat dari nyamuk ini yang aktif di siang hari.

- Menggunakan layar jendela, kasa nyamuk, dll.

- Menggunakan pengusir nyamuk (mengandung DEET, Picaridin atau IR3535)

- Menggunakan kumparan dan alat penguap.

- Sebagai pencegahan primer yang paling efektif adalah dengan melakukan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) yang dapat dilakukan setiap 2 minggu sekali untuk mencegah genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Demikian dan semoga bermanfaat agar kita semua terhindar dari bahaya DBD. (Adv)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved