Breaking News
Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel Palestina

Korban Tewas Perang Israel dan Hamas Palestina Capai 4.000 Orang

Data terbaru korban tewas perang Israel dan Hamas Palestina capai 4.000 Orang. Sebanyak 120 orang Israel diculik oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober

Editor: Frandi Piring
Tribunnews.com/BBC Indonesia
Data terbaru korban tewas perang Israel dan Hamas Palestina capai 4.000 Orang. Sebanyak 120 orang Israel diculik oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Data terbaru jumlah korban tewas perang Israel dan Hamas Palestina mendekati angka 4.000 orang di kedua belah pihak hingga Minggu (15/10/2023).

Adapun sebanyak 120 orang Israel diculik oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober.

Perang Hamas dan Israel pecah pada Sabtu (7/10/2023) lalu.

Diberitakan Kompas.com, Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu melaporkan, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan sedikitnya 2.450 orang sejak serangan Hamas ke Israel selatan dimulai pada Sabtu (7/10/2023).

Kementerian yang dikuasai Hamas itu menambahkan, sebanyak 9.200 orang lainnya juga terluka ketika Israel melanjutkan kampanye udara terhadap target-target di wilayah Jalur Gaza.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel pada Minggu, menyebut lebih dari 1.400 orang telah tewas di Israel sejak Hamas menyerang.

"Lebih dari 1.400 orang tewas (dan) lebih dari 120 orang Israel diculik oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober," kata Tal Heinrich, Juru bicara kantor PM Israel kepada para wartawan, dikutip dari AFP.

Dengan ini, jumlah korban tewas dalam perang Hamas-Israel di kedua belah pihak sudah mencapai 3.850 orang.

Pasukan Hizbullah Lebanon Serang israel, Bantu Hamas Palestina, Lontarkan Mortir di Perbatasan, Oktober 2023.
Pihak Hamas Lontarkan Mortir di Perbatasan Israel, Oktober 2023. (Al Jazeera)

Baca juga: Mengenal Mohammed Deif, Komandan Sayap Militer Hamas Paling Dicari Israel, Berjuluk Kucing 9 Nyawa

Sejarah Hamas

Ada banyak gerakan perlawanan di Palestina

Ada yang berpaham sekuler, nasional, komunis hingga Islam.

Satu di antara yang saat ini amat dikenal dunia adalah Hamas, akronim dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah atau dalam terjemahan Indonesia disebut Gerakan Perlawanan Islam. 

Hamas merupakan gerakan Islam Sunni dan nasionalisme Palestina yang menentang keras zionisme dan penduduka Israel di wilayah Palestina

Hamas meyakini, gerakan mereka adalah satu langkah besar menuju pembebasan Palestina

Hamas menguasai wilayah Gaza Palestina sejak tahun 2007, setelah memenangkan mayoritas kursi di parlemen Palestina

pada pemilihan parlemen Palestina tahun 2006 plus memenangkan bentrok dengan gerakan perlawanan Palestina lainnya yakni Fatah. 

Hamas lahir dari sebuah organisasi Islam yang lebih tua dan lebih besar, yaitu Ikhwanul Muslimin.

Bagaimana kisah berdirinya Hamas dan apa hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin?

Berikut ulasan singkatnya.

Nama Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah, dipilih oleh para pendiri Hamas pada tahun 1987, ketika mereka memutuskan untuk memisahkan diri dari Gerakan Amal, sebuah sayap sosial dari Ikhwanul Muslimin di Palestina.

Gerakan Amal didirikan pada tahun 1973 oleh Syaikh Ahmad Yasin, seorang ulama dan aktivis Islam yang juga merupakan anggota Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul Muslimin sendiri adalah sebuah organisasi Islam transnasional yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928.

Organisasi ini memiliki tujuan untuk mengembalikan kejayaan Islam dengan menerapkan syariah dan mendirikan negara Islam.

Ikhwanul Muslimin kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Palestina, yang saat itu berada di bawah mandat Inggris.

Di Palestina, Ikhwanul Muslimin bergerak di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan dakwah.

Mereka juga terlibat dalam perlawanan bersenjata melawan Inggris dan Zionis, tetapi tidak seaktif dan seorganisir gerakan nasionalis sekuler seperti Fatah.

Hal ini berubah ketika Israel menduduki Gaza dan Tepi Barat pada tahun 1967, yang memicu kemarahan dan frustrasi rakyat Palestina.

 Syaikh Ahmad Yasin, yang saat itu menjadi pemimpin Gerakan Amal, melihat peluang untuk menggalang dukungan rakyat dengan menawarkan bantuan sosial dan layanan kesehatan kepada para pengungsi dan korban pendudukan Israel.

Selain itu, ia juga mulai membentuk kelompok-kelompok milisi yang terlatih dan bersenjata untuk melawan Israel secara diam-diam.

Pada tahun 1987, ketika terjadi Intifadhah Pertama, sebuah pemberontakan rakyat Palestina melawan Israel, Syaikh Ahmad Yasin dan para pengikutnya memutuskan untuk mendeklarasikan diri sebagai Hamas, sebuah gerakan perlawanan Islam yang independen dari Ikhwanul Muslimin.

Mereka mengeluarkan Piagam Hamas, sebuah dokumen yang menyatakan tujuan dan prinsip mereka, termasuk penolakan terhadap solusi dua negara dan komitmen untuk menghancurkan Israel.

Meskipun Hamas lahir dari Ikhwanul Muslimin, mereka tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Ikhwanul Muslimin

Hamas memiliki struktur organisasi, strategi politik, dan agenda militer yang berbeda dari Ikhwanul Muslimin.

Hamas juga lebih fokus pada isu Palestina daripada isu global Islam.

Israel kembali serang jalur Gaza, Palestina. PM Israel Benjamin Netanyahu janji hancurkan tempat persembunyian Hamas.
Perang Israel dan Hamas Palestina. (Al Jazeera)

Namun, Hamas tetap menjalin hubungan baik dengan Ikhwanul Muslimin di berbagai negara, terutama di Mesir, Qatar, dan Turki.

Hamas saat ini merupakan salah satu aktor politik dan militer utama di Palestina.

Mereka menguasai Jalur Gaza sejak tahun 2007, setelah mengalahkan Fatah dalam pertempuran sengit.

Mereka juga berpartisipasi dalam pemilihan umum Palestina pada tahun 2006 dan 2021, meskipun hasilnya kontroversial dan tidak diakui oleh Israel dan sebagian besar negara Barat.

Hamas terus berkonflik dengan Israel, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan menggunakan berbagai cara, mulai dari roket, bom bunuh diri, hingga balon api.

Baca juga: Mengenal Syekh Ahmad Yasin Pendiri Hamas, dari Imam Masjid Jadi Pemimpin Gerakan Perlawanan

Tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved