Bacaan Alkitab
Bacaan Alkitab Roma 15:14-21, Kemegahan Orang Merdeka
Tentu saja dalam arti real burung itu tidak pernah merasa sombong, karena dia tidak punya kesadaran diri seperti manusia.
Penulis: Alpen Martinus | Editor: Alpen Martinus
TRIBUNMANADO.CO.ID - Orang yang percaya kepada Yesus Kristus bisa disebut sebagai orang merdeka.
Nah sebagai orang percaya patut bermegah di dalam Tuhan.
Bacaan Alkitab kali ini diambil dalam Roma 15:14-21.
Baca juga: Bacaan Alkitab Roma 13:1-7, Ketaatan Orang Merdeka
Renungannya berjudul Kemegahan Orang Merdeka.
Firman Tuhan : “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.” (Roma 1:17)
Burung merak sering digambarkan sebagai burung yang angkuh karena merasa memiliki kelebihan dari burung lainnya. Ia memiliki bulu atau sayap yang indah berwarna warni.
Tentu saja dalam arti real burung itu tidak pernah merasa sombong, karena dia tidak punya kesadaran diri seperti manusia.
Baca juga: Bacaan Alkitab 2 Korintus 5:17, Kristus Menjadikanku Baru
Bahkan yang jelas burung itu tidak tahu kalau dia adalah burung.
Berbeda dengan manusia kalau dia bermegah diri, itu datang dari kesadarannya sebagai insan berdosa.
Rasul Paulus dalam bagian ini, juga bicara soal bermegah, namun tidak ada hubungan dengan kesombongan.
Tidak ada yang ia banggakan, kecuali semuanya bagi kemuliaan Kristus.
Baca juga: Bacaan Alkitab Roma 12:9-21, Kasih Orang Merdeka
Seperti Witmer, penafsir kitab Roma, menulis, “This was no boasting in mere human achievements.
Paul recognized that all credit goes to Christ.”
Jadi apapun yang dilakukan oleh setiap orang percaya, tidaklah untuk kemuliaan diri sendiri.
Perhatikan penekanan Paulus, “di dalam Kristus aku boleh bermegah.”
Kemegahan diri yang seringkali terlihat dalam pelayanan, jelas sangat kontras dengan maksud Paulus ini.
Hal yang unik ketika Paulus berkata pula, bahwa ia malah bermegah dalam kesengsaraan (Roma 5:3; Kolose 1:24).
Sebenarnya apa yang kita megahkan dalam pelayanan kita? Semua hanya karena anugerah saja (1 Korintus 15:10).
Memang ada godaan untuk merasa berjasa, merasa sudah bekerja keras, merasa sudah banyak berkorban dalam pelayanan.
Misalnya ada yang berkata “Kalau bukan saya...” atau “Untung ada saya...”, dan sebagainya.
Sikap duniawi ini, kadang-kadang masih bisa berbisik dalam hati kita.
Matthew Henry menulis, “It is common for those that are farthest from God, to boast themselves most of their being near to the Church.
” Ketika memikirkan ini saya teringat lagu klasik, “Kasih itulah yang panjang sabar, kasih itulah penyayang, tak dengki megah diri, tak sombong tak pemarah.
Kasih itulah selama-lamanya.” Kalau begitu, sudahkah kita bersyukur bahwa kita pun boleh bermegah di dalam Dia?
Inspirasi: Orang yang sudah dimerdekakan dari kemegahan diri, akan sangat bebas dan tulus untuk memegahkan Tuhan, satu-satunya yang layak dipuji dan diagungkan itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Bacaan-Alkitab-Minggu-18-September-2022-Yohanes-14-Dalam-Yesus-Ada-Hidup.jpg)