Manado Sulawesi Utara
Ardi Putra Penjual Cilok Asal Solo Ceritakan Awal Mula Bisa Datang di Manado
Ardi Solo Putra, penjual cilok di di Jalan Politeknik, Buha, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Ardi Solo Putra, penjual cilok di di Jalan Politeknik, Buha, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara menceritakan awal mula bisa datang ke Manado saat diwawancarai Tribun Manado, Jumat (9/6/2023).
Pria asal Solo tersebut merantau ke Manado sudah 10 tahun lalu bersama dengan kakaknya.
"Saya datang ke Manado karena ikut kakak saya yang sudah bekerja disini," ucap Ardi sambil menggoreng cilok.
"Waktu itu saya ikut kakak saya karena penasaran bagaimana Kota Manado, sekalian cari pengalaman juga," sambungnya.
Waktu di Solo, Pria 44 tahun ini bekerja sebagai kuli bangunan untuk menopang kehidupan keluarganya.
Dia akhirnya datang di Manado pada 2013 sebagai penjual kain.
"Waktu itu saya bantu kakak buat jualan kain, karena itu pekerjaannya," kata Ayah dua anak ini.
Selama tiga tahun berjualan kain di Manado, dia mengaku terus memikirkan keluarga kecilnya yang berada di Solo.
"Selama tiga tahun berjualan kain di Manado, saya rindu anak istri saya di Solo," ucapnya sambil melayani pembeli.
"Walaupun bisa saling telpon tapi saya terus ingat keluarga disana," tambahnya.
Dia ini juga pernah berjualan sayur keliling untuk menambah penghasilannya.
"Dulu juga sempat jualan sayur, cuman capek harus keliling apalagi dengan gerobak," kata Ardi.
Pada 2017, dia akhirnya membawa istri dan anaknya untuk datang ke Manado.
"Waktu itu saya dapat uang lebih, jadi saya ke Solo dan ajak mereka untuk datang ke Manado," sebutnya.
Walaupun hanya beberapa minggu, tapi dia merasa sangat senang bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Mereka disini hanya dua minggu, tapi itu sudah cukup untuk melepas rindu bersama mereka," ucapnya lalu tertawa.
Dari situlah Ardi memutuskan untuk berjualan cilok karena merasa pekerjaan itu tidak terlalu lelah.
"Saya akhirnya jualan cilok, karena kata istri saya supaya tidak capek karena cuman mangkal saja di satu tempat," sebutnya.
Jadi, sejak 2017 sampai sekarang Ardi kemudian menekuni untuk berjualan cilok.
"Walaupun penghasilan hanya Rp 150 - 200 ribu per hari tapi itu sudah cukup," ungkapnya.
Saat wawancara bersama Tribun Manado, dia mengatakan ingin mencari uang untuk pulang ke Solo.
"Saya sudah rindu mereka, karena sudah lama tidak bertemu. Jadi saya jualan cilok sekalian kumpul uang buat pulang ke Solo, susah kalau jauh dengan keluarga," ujarnya.
Di akhir wawancara dia mengatakan jika keluarga kecilnya adalah harta terbaik.
"Keluarga bagi saya adalah harta terbaik yang tidak bisa diambil oleh siapapun, jadi mau saya sekarang seperti ini, saya masih bersyukur karena punya keluarga kecil di Solo yang menunggu saya pulang," tutupnya.
Baca juga: Final Liga Champions 2023, Kapolsek Sitim AKP Berty Baliung Jagokan Manchester City
Baca juga: Kecelakaan Maut Pukul 05.46 WIB, Seorang Pemuda Tewas, Korban Terserempet Kereta Api
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Ardi-Putra-Penjual-Cilok-di-Jalan-Politeknikgjghjghjghj.jpg)