Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen, Baca Markus 14:47, Kasih, Bukan Kekerasan.

Renungan Harian Kristen kali ini akan belajar tentang Kasih, Bukan Kekerasan. Baca Markus 14:47

Tayang:
Penulis: Alpen Martinus | Editor: Alpen Martinus
Pexels.com
Renungan Harian Kristen, Kasih Bukan Kekerasan 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Tuhan Yesus adalah sumber kasih, dan Ia juga yang mengajarkan kasih kepada manusia.

semua ajaranNya tentang kasih tertulis dalam Alkitab.

Renungan Harian Kristen kali ini akan belajar tentang Kasih, Bukan Kekerasan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen, 1 Yohanes 4:4 TB, Seseorang yang Lebih Besar

Baca Markus 14:47

Penangkapan Yesus oleh Yudas cs terjadi di taman seberang sungai Kidron. Itulah "markas" tempat biasa Yesus bertemu para murid-Nya. Yudas tahu, Yesus pasti di situ.

Maka dia mengarahkan pasukan para prajurit bersama imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua ke situ. Memang benar, Yesus ada di sana. Ketika mereka tiba, dan mencari Yesus, Yesus tampil ke depan dan mengatakan, "Akulah Dia." Merekapun mundur dan jatuh ke tanah (Yoh 28:1-9).

Setelah 'drama' ciuman Yudas dan situasi memanas, Petrus tampil ke depan, mengambil pedang dan menetakkannya ke telinga kanan Malkhus, hamba Imam Besar yang menyerang dan menangkap Yesus

Baca juga: Renungan Harian Kristen, Markus 14:45-46, Membunuh dengan Ciuman

Akibatnya, putuslah telinga kanan Malkhus. Yesus menegor Petrus sebab Dia harus menanggung semuanya sesuai firman Allah. Yesus kemudian mengambil telinga kanan Malkhus yang jatuh ke tanah itu dan menempelkannya kembali sehingga melekat seperti semula.

Yesus meminta Petrus menyarungkan pedangnya. Sebab siapa yang bermain pedang, akan binasa oleh pedang. Itulah Yesus. Meski dalam penderitaan, tetap masih menunjukkan kasih kepada yang memusuhi-Nya. Dia masih melakukan mujizat dengan mengembalikan telinga yang Malkhus.

Toh, tetap mereka yang sudah dikuasai iblis itu tidak bergeming. Mereka melanjutkan rancangan jahatnya menyiksa dan membunuh Yesus dengan keji. Hamba Imam Besar itu menikmati kebaikan Yesus, tapi semuanya sudah tak mengubah situasi.

Baca juga: Renungan Harian Kristen, 3 Yohanes 1:11, Hati yang Mengikuti Tuhan

Mereka tetap menyeret dan mengadili-Nya dengan sangat tidak adil. Pasukan prajurit dan perwira Romawi serta penjaga-penjaga yang ditugaskan oleh orang Yahudi menangkap dan membelenggu Yesus.

Dia dibawa kepada Hanas, mertua Kayafas, Imam Besar pada waktu itu (Yoh 18:10-12).

Yesus sebenarnya bukan tidak mampu melawan mereka. Yesus dapat saja berseru kepada Allah untuk mengirim pasukan Malaikat yang akan menolong dan menyelamatkan Dia serta mengalahkan mereka.

Tapi, Yesus dalam ketaatan-Nya kepada Allah dan kesetiaan pada firman-Nya, serta kasih-Nya yang tulus dan tak terbatas bagi umat manusia, Dia menerima semuanya itu dengan kepasrahan penuh. Dia siap dikorbankan, demi kita. Dia berkorban bukan untuk diri-Nya, tapi untuk kita.

Maka ketika Petrus membela Yesus dengan menghunus pedang dan menetakkannya ke telinga Malkhus, Yesus mengulurkan tangan-Nya menolong hamba Imam Besar itu dengan keajaiban kuasa-Nya. Yah mujizat Dia lakukan untuk menolong musuh-Nya atau tepatnya lagi, mereka yang memusuhi-Nya.

Karena Yesus mengasihi semua orang, termasuk yang memusuhi-Nya. Itulah kisah kasih Yesus yang sempurna untuk kita. Demi cinta-Nya yang tiada akhir bagi kita milik kepunyaan-Nya.

Demikian firman Tuhan hari ini.

Salah seorang dari mereka yang ada di situ menghunus pedangnya, lalu menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. (ay 47)

Pedang adalah Sajam (senjata tajam). Yesus mengingatkan kita agar jangan menggunakan Sajam ataupun cara kekerasan menghadapi masalah, sepelik dan seberat apapun.

Dan sekalipun Sajam adalah senjata terakhir yang dapat digunakan untuk menolong kita, kita tidak boleh menggunakannya. Sebab siapa yang menggunakan Sajam (pedang), akan binasa oleh Sajam.

Yesus mengingatkan agar kita tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan termasuk Sajam. Dia telah memberi teladan untuk menyelesaikan masalah tetap dengan kasih, seperti yang Dia lakukan kepada Malkhus.

Malkhus yang diparang oleh Petrus dan telinganya jatuh, justeru diambil dan dipasang kembali oleh Yesus.

Dia tidak merasa besar kepala dengan pembelaan Petrus. Dia justeru menegur Petrus agar tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Sekali lagi, harus dengan kasih. Yesus malah menolong musuh yang menyerang-Nya.

Kebesaran kuasa kasih Kristus tiada berhingga bagi semua orang. Termasuk yang memusuhi Dia. Kasih-Nya, tiada berkesudahan, tiada berbatas dan tiada memandang situasi atau kondisi.

Kasih-Nya dilakukan dalam segala hal, baik suka maupun duka, susah atau senang, menderita dan bahagia. Kasih tetap harus dilakukan. Itulah teladan di tengah penderitaan dan kesengsaraan-Nya. Dia tetap mengasihi.

Kasihilah meski susah dan menderita. Lakukan kasih secara sempurna. Kasih harus diuji oleh kesusahan, tantangan, penderitaan dan berbagai persoalan pelik.

Yesus mengajarkan kita mengasihi semua orang meskipun dimusuhi dan dibuat menderita. Tetap sabar, setia dan taat mengasihi semua orang.

Sebagai murid dan hamba Kristus, lakukanlah kasih, walau tersakiti. Bukan dendam, kedengkian, apalagi kekerasan. Tapi kasih. Kasihilah, maka kita akan terus dikasihi dan diberkati oleh Sang Kasih, yakni Tuhan Yesus selamanya, di bumi dan di sorga. Amin

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved