Manado Sulawesi Utara
Larangan Jual Cabo Buat Pembeli di Manado Sulawesi Utara Resah
Gerald Onibala Warga Kelurahan Bumi Beringin, Manado, Sulawesi Utara, tergolong mapan, tapi suka pakai cabo.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Larangan penjualan Cabo oleh Presiden Jokowi membuat sejumlah warga Manado patah hati.
Salah satunya Gerald Onibala. Warga Kelurahan Bumi Beringin, Manado, Sulawesi Utara, ini tergolong mapan.
Ia bekerja di salah satu perusahaan swasta. Istrinya ASN. Namun keduanya pengemar Cabo.
"Tujuh puluh lima persen pakaian kami dari cabo," kata dia Minggu (19/3/2023).
Gerald mengaku ke tempat cabo sepekan sekali. Di sana ia mencari kameja flanel.
Baju kesukaannya itu diperoleh dengan harga miring.
"Hanya 50 ribu, bandingkan dengan di toko, pasti 250 hingga 300 ribuan," kata dia.
Soal kualitas, sebut dia, tak kalah. Bahkan kerap unggul.
"Baju flanel saya sering dikira beli di Mall, padahal di cabo," kata dia.
Dia sedih dengan pelarangan penjualan cabo.
Dirinya minta agar pelarangan itu dibatalkan.
Harapan yang sama diapungkan Mario.
"Ya mudah mudahan itu tak terjadi," kata dia.
Warga Bitung ini hobi pakai Cabo.
Dengan Cabo, dirinya bisa bergaya dengan sedikit rogoh kocek.
"Saya beli kameja dan celana di Cabo, celana andalan saya yang biasa saya pakai di pesta nikah, harganya tak sampai 100 ribu, harga asalnya bisa sampai setengah jutaan," katanya.
Pakai Cabo juga membuatnya dapat menabung.
Uang untuk beli pakaian memakan porsi kecil dalam pengeluaran.
"Karena harganya murah, tapi kini entah bagaimana lagi," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Pakaian-bekas-atau-Cabo-yang-dijual-di-Pasar-Bersehati-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)