Berita Nasional
Kisah dan Karier Laksamana Yudo Margono, Seorang Anak Petani yang Kini Jadi Panglima TNI
Awal kariernya, Yudo menjabat sebagai Asisten Perwira Divisi atau Aspadiv Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332 pada 1988.
Penulis: Gryfid Talumedun | Editor: Gryfid Talumedun
Yudo menduduki jabatan KSAL Lalu, Yudo menjabat sebagai Komandan Lanal Sorong pada 2008-2010 serta mendapatkan tugas dengan menjabat Komandan Satkat Koarmatim pada 2010-2011, Komandan Satkor Koarmatim pada 2011-2012, dan Komandan Kolat Armabar pada 2012-2014.
Yudo juga kemudian diberikan amanah sebagai Paban II Opslat Sops Mabesal pada 2014-2015.
Ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Lantamal I Belawan pada 2015-2016, dan Kepala Staf Koarmabar pada 2016-2017.
Kariernya makin moncer, pada 2017-2018, Yudo dipercaya menjabat Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) dan naik pangkat menjadi bintang dua.
Tak berselang lama, Yudo menjabat Panglima Komando Armada RI Wilayah Barat (Pangarmabar) pada 2018.
Setelah itu, Yudo Margono menjabat sebagai Panglima Kogabwilhan I pada 24 September 2019.
Jabatannya sebagai Pangkogabwilhan I itu membuat karier Yudo makin moncer hingga membawanya menduduki jabatan sebagai KSAL.
Anak petani
Di balik moncernya karier militer Yudo, ternyata ia lahir dari keluarga petani. Latar belakang keluarga inilah yang membuatnya memahami arti penting perjuangan dalam hidup.
Perjuangan ini pula ia tunjukkan untuk bisa menggapai impiannya menjadi seorang tentara. Ketika mendaftar menjadi tentara di AAL, Surabaya, Jawa Timur, Yudo muda harus menempuh perjalanan jauh dari Madiun ke Surabaya menggunakan bus.
Bahkan, karena tak punya sanak saudara, ia rela menumpang tidur di masjid untuk merebahkan tubuhnya setelah berjuang mengikuti proses seleksi AAL.
"Kayak saya, rumah Madiun daftarnya pas itu di Surabaya. Akhirnya saya ngeluarin duit buat naik bus pulang pergi untuk makan," kata Yudo, dikutip dari Tribunnews dalam acara serbuan vaksinasi TNI AL di Balai Samudra, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (2/11/2021). "Terus saya waktu itu tidur di masjid karena kan memang enggak ada saudara. Mungkin ya seperti itu," sambungnya.
Besar di kapal perang
Dalam perjalanan karier militernya, Yudo dapat dikatakan dibesarkan sebagai prajurit TNI AL di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).
Hal ini terlihat dari penugasan awalnya selepas lulus dari Akademi Angkatan Laut (AAL) pada 1988, Yudo langsung mendapat kepercayaan dengan mengemban posisi sebagai Asisten Perwira Divisi (Aspadiv) Senjata Artileri Rudal di KRI Wilhelmus Zakaria Johannes-332.