RHK Senin 5 Desember 2022

BACAAN ALKITAB - Yesaya 7:12 Ketaatan yang Palsu

Kata pepatah: _"kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu."_ Begitulah prilaku raja Ahas. Dia menjadi raja di Yehuda menggantikan ayahnya Yotam

Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
Ist
Kisah Nabi Yesaya, Penasehat Raja Hizkia yang Miliki Pengaruh Keagamaan hingga Panggilan Kenabian 

  Yesaya 7:12
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kata pepatah: _"kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu."_ Begitulah prilaku raja Ahas. Dia menjadi raja di Yehuda menggantikan ayahnya Yotam di usia 20 tahun. 16 tahun lamanya dia menjadi raja.

Dia berlaku jahat di hadapan Tuhan. Bahkan dia menyerahkan anaknya untuk dipersembahkan sebagai korban dalam api. Itulah kekejiannya. Dia berlaku tidak benar di hadapan Allah (2 Raja-raja 16:2,3).

Nabi Yesaya yang adalah penasihat raja menegur dia. Sebab Ahas sebenarnya dalam bahaya besar karena akan diserang dan dihancurkan oleh raja Aram dan raja Israel. Mereka berniat menghabisi keturunan Daud dari Yehuda. Yesaya mengatakan bahwa Ahas akan dibela oleh Allah, dia akan menang. Karena itu Ahas diminta untuk meminta tanda kepada Tuhan sebagai bukti bahwa Allah akan menyertai dan membelanya. Agar amanlah keturunan Daud.

Nabi Yesaya, dalam sebuah ilustrasi
Nabi Yesaya, dalam sebuah ilustrasi (Timesofisrael.com)

Namun, Ahas menolak. Dia menjawab dengan diplomatis tetapi sesungguhnya penuh kemunafikan dan kepura-puraan bahwa dia tidak mau meminta kepada Tuhan karena dia tidak mau mencobai Tuhan.

Terkesan bahwa dia sangat menghormati Tuhan. Padahal tidak. Dia tidak mau bersandar kepada Tuhan. Dia meragukan kekuatan Tuhan. Sebab dia akan meminta bantuan raja Asyur untuk membelanya. Jadi dia meletakkan kekuatannya pada manusia. Bukan kepada Allah.

Dia menolak perkataan Yesaya yang adalah firman Tuhan. Menolak Yesaya, berarti menolak Allah yang mengutusnya. Dia bertindak munafik di hadapan Yesaya, seakan-akan dia taat kepada Tuhan, padahal dia mengkhianati Allah nenek moyangnya Daud. Dia berpura-pura di hadapan Yesaya bahwa dia tidak mau mencobai Tuhan. Padahal ada pikiran akal bulus di benaknya, yakni meragukan Tuhan dan mengandalkan kekuatan manusia.

Di depan manusia dia berkata seolah-olah taat, padahal sesungguhnya hatinya busuk. Dia tidak benar-benar mengikuti teladan leluhurnya Daud yang hidup setia dan taat pada Allah dan bersandar penuh pada kekuatan Allah.

Dia bukan takut kepada Allah, tapi kepada manusia. Dia bersandiwara kepada hamba Tuhan, padahal hatinya menyimpan siasat dan rencana jahat, yakni merendahkan kekuasaan dan kasih Allah dan memilih pembelaan dan pertolongan manusia. Padahal, manusia apapun dan siapapun dia, hanyalah ciptaan dan milik Allah. Tidak lebih dari itu.

Ahas menjadi raja atau pemimpin yang hipokrit (munafik). Dia tidak jujur. Bahkan dia adalah pengkhianat kepada Sang Pencipta. Karena dia telah menghina Allah dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Inilah prilaku pemimpin yang lalim, munafik, jahat dan tipe pengkhianat.
Berpura-pura baik padahal, niatnya jahat. Rancangannya yang tersembunyi adalah kelicikan, kemunafikan dan kelaliman. Dia memanfaatkan kata-kata yang manis dan terdengar sangat rohani, padahal itu tidak tulus. Itu hanya sebuah kebohongan yang tersimpan indah dan rapi.

Demikian firman Tuhan hari ini.

 "Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." (ay 12)

Baca juga: Ibadah Pra Natal Pemprov Sulawesi Utara di Pasar Bersehati, Gubernur: Refleksi Layani Masyarakat

Baca juga: RENUNGAN HARIAN KELUARGA - Yesaya 7:12 Kepekaan Terhadap Kehendak Allah

Raja Ahas menunjukan dirinya kepada nabi Yesaya seakan-akan dia orang baik, setia dan taat kepada Allah. Padahal itu sebuah siasat menyembunyikan kejahatan. Kejahatan yang terselimut rapih oleh kemunafikan dengan menggunakan kata-kata kebaikan sebagai pembungkus dan pelindungnya.

Begitulah cara kerja raja atau pemimpin yang munafik, pura-pura, lalim dan penuh tipu muslihat. Hidupnya penuh dengan siasat dan rancangan jahat. Ada saja yang dia lakukan untuk membungkus perbuatan jahatnya dengan kebaikan demi melanggengkan kenyamanan duniawi dan keserakahannya menguasai dunia.

Ahas bukan memilih Tuhan. Dia memilih berlindung kepada raja Asyur. Bahkan dia berani menyerahkan berbagai perkakas Bait Allah yang sudah dikuduskan untuk menjadi upeti kepada raja Asyur, agar dia merasa nyaman hidupnya di dunia.

Dia mengira, manusia dapat menjamin keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan serta kedamaian hidupnya. Padahal itu hanya kehampaan, kesia-siaan dan semu.

Janganlah tinggalkan Tuhan. Jika kita adalah pemimpin, apalagi hamba Tuhan, jangan hidup munafik, pura-pura dan penuh akal bulus. Jauhilah tipu muslihat, karena Tuhan tidak dapat kita bohongi. Bergantunglah pada-Nya dan jangan sia-siakan hidup kita dengan kesenangan sesaat yang menjerumuskan dan menghancurkan hidup kita secara permanen.

Hiduplah tulus dan pasrah penuh kepada Tuhan. Andalkanlah Dia dalam segala hal. Lakukanlah segala kehendak-Nya dan hiduplah dalam ketaatan kepada-Nya, bukan kepalsuan agar kita tidak dihukum-Nya.

Sebagai keluarga dan orang Kristus, hiduplah dalam kasih dan jauhilah kemunafikan dan segala yang jahat. Hiduplah dalam terang Kristus, Dia pasti menyertai dan memberkati kita selamanya. Amin

DOA: Tuhan Yesus, jauhkanlah kami dari kemunafikan dan ketaatan yang palsu. Tapi pakailah kami hidup tulus, benar dan jujur di hadapan-Mu. Berkatilah kami selalu. Amin

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved