Media Sosial Twitter

Nasib Twitter yang Kini Milik Elon Musk Terancam Diblokir di Uni Eropa, Kecuali Jika Lakukan Ini

Uni Eropa (UE) dilaporkan mengancam akan melarang Twitter beroperasi di wilayah blok tersebut

Editor: Glendi Manengal
HO
Elon Musk, CEO Tesla Inc dan SpaceX yang kini jadi pemilik Twitter. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Terkait media sosial Twitter yang sedang menjadi sorotan.

Diketahui media sosial Twitter kini dipegang oleh Elon Musk.

Namun semenjak dipegang Elon Musk.

Banyak yang mulai hengkang dari Twitter.

Hal tersebut dikarenakan aturan-aturan baru yang dikeluarkan Twitter.

Bahkan baru-baru ini dikabarnya Twitter terancam tak beroperasi di wilayah Uni Eropa.

Hal tersebut terkait aturan konten dalam Twitter.

Berikut ini penjelasannya.

Baca juga: Kecelakaan Maut di Minut, 2 Kendaraan Bertabrakan, Satu Meninggal, Polisi Ungkap Kronologinya

Baca juga: Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey Siapkan Lahan 2 Ha Bangun Asrama Mahasiswa Nusantara

Uni Eropa (UE) dilaporkan mengancam akan melarang Twitter beroperasi di wilayah blok tersebut, jika pemilik barunya, yakni miliarder Elon Musk tidak mematuhi aturan moderasi konten baru yang ketat.

Peringatan itu disampaikan Komisaris Eropa untuk Pasar Internal Thierry Breton selama melakukan video call dengan Musk pada hari sebelumnya.

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (1/12/2022), Breton, yang bertanggung jawab untuk menerapkan aturan digital UE, mendesak Musk untuk mematuhi daftar aturan.

Termasuk menyingkirkan pendekatan 'sewenang-wenangnya' untuk memulihkan akun pengguna yang telah dilarang, menghentikan disinformasi 'secara agresif' dan menyetujui 'audit independen ekstensif' dari jejaring sosial pada 2023.

Kecuali jika Twitter mengikuti Undang-undang Layanan Digital baru yang diberlakukan Uni Eropa.

Karena jika melanggar, jejaring sosial itu bisa menghadapi larangan atau denda di seluruh Eropa hingga 6 persen dari omzet global.

Musk pun menganggap Undang-undang baru itu 'sangat masuk akal' dan harus diterapkan di manapun di dunia.

Twitter yang didirikan pada 2006 sebagai jejaring sosial untuk bertukar pesan singkat, telah dibeli oleh Musk pada akhir Oktober lalu seharga 44 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Pada November lalu, lebih dari seminggu setelah pengambilalihan, miliarder Afrika Selatan itu mulai memberhentikan pekerja perusahaan tersebut dalam upaya menempatkan Twitter 'di jalur yang sehat'.

Langkah kontroversialnya ini tentunya menimbulkan gelombang kritik publik.

Telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved