Kasus Lukas Enembe

Keakraban Firli Bahuri dan Lukas Enembe Bisa Memunculkan Cerita tak Elok di Publik

Kedatangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri ke kediaman Gubernur Papua Lukas Enembe, Kamis (3/11/2022) kemarin menuai polemik.

Editor: Aswin_Lumintang
istimewa
Kedatangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri ke kediaman Gubernur Papua Lukas Enembe, Kamis (3/11/2022) kemarin menuai polemik. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kedatangan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri ke kediaman Gubernur Papua Lukas Enembe, Kamis (3/11/2022) kemarin menuai polemik.

Pasalnya, dalam foto yang beredar di kalangan wartawan, nampak Firli Bahuri sedang berjabat tangan dengan tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pekerjaan atau proyek yang bersumber dari APBD Provinsi Papua itu.

Ketua Indonesia Memanggil (IM57+) Institute, M Praswad Nugraha menilai kedatangan Firli Bahuri ke rumah Lukas Enembe dapat dilihat sebagai intervensi terhadap tugas penyidik yang sedang bertugas.

Ketua KPK Firli Bahuri kunjungi Lukas Enembe di Jayapura, ICW: semacam lelucon yang mengundang tawa
Ketua KPK Firli Bahuri kunjungi Lukas Enembe di Jayapura, ICW: semacam lelucon yang mengundang tawa (Kolase Tribunmanado (HO))

 
Menurutnya, para penyidik KPK yang sedang bertugas akan menjadi sungkan, bahkan kemungkinan menjadi segan dan takut, karena melihat pimpinan KPK bercengkrama dan beramah-tamah dengan tersangka. 

"Bagi publik, melihat drama keakraban Firli dengan Lukas, seperti ada perlakuan khusus dan istimewa oleh pejabat negara terhadap tersangka korupsi. Rasa keadilan di tengah masyarakat akan terciderai. Mengapa bisa calon tersangka diperlakukan seistimewa itu oleh KPK?" kata Praswad dalam pesan tertulis, Jumat (4/11/2022).

"Karena tidak semua rakyat bisa merasakan kehangatan sikap Firli yang sepertinya malah ditujukan untuk calon tersangka korupsi," imbuhnya.

Jika konteksnya terkait strategi penyidikan, Praswad menilai harusnya keramah-tamahan itu dilakukan oleh penyidik.

Hal yang bisa dilakukan penyidik ialah seperti dalam rangka persuasif agar saksi atau tersangka mengakui perbuatan tindak pidana yang dia lakukan. 

"Bukan oleh pimpinan KPK. Atas dasar apa Ketua KPK mengistimewakan Lukas Enembe?" kata mantan penyidik KPK ini.

Baca juga: Terkuak Alasan Maia Estianty Potong Gaji Pinkan Mambo di Duo Ratu, Sangat Boros Kelola Uang

Baca juga: Dilantik Bupati Minsel Sulawesi Utara, Felma Kumtua Tumpaan: Saya Milik Semua Masyarakat Tumpaan

 Praswad lantas mempertanyakan mengapa Lukas Enembe tidak diperlakukan sama dengan para tersangka lain yang mangkir dan tidak bersedia untuk datang meski sudah dipanggil berkali-kali oleh KPK.

Maka dari itu, ia menegaskan apa yang telah dilakukan Firli Bahuri terhadap Lukas Enembe adalah pelanggaran prinsip dan kode etik yang ada di KPK, yaitu dengan tidak memperlakukan setiap warga negara Indonesia secara sama di hadapan hukum.

"Mengapa tidak dikeluarkan surat perintah membawa terhadap Lukas Enembe? Perlakuan ini menjadi preseden buruk bagi penanganan kasus ke depan karena tersangka akan berupaya menggunakan pendekatan yang sama sehingga dapat menjadi bargain dengan pimpinan KPK," katanya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Keakraban Firli Bahuri dengan Lukas, Eks Penyidik KPK: Ada Perlakuan Khusus ke Tersangka Korupsi, https://www.tribunnews.com/nasional/2022/11/04/keakraban-firli-bahuri-dengan-lukas-eks-penyidik-kpk-ada-perlakuan-khusus-ke-tersangka-korupsi.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved