Kasus Ferdy Sambo

Ketika Brigjen Hendra Kurniawan Takut Tolak Perintah Ferdy Sambo, Bripka RR Malah Berani Menolak

Ketika Brigjen Hendra Kurniawan tak berani tolak perintah Ferdy Sambo. Berbeda dengan Bripka RR yang tetap tak mengindahkan permintaan sang jenderal.

Penulis: Frandi Piring | Editor: Frandi Piring
Tribunnews.com
Brigjen Hendra Kurniawan dan Bripka RR. Brigjen Hendra Kurniawan Takut Tolak Perintah Ferdy Sambo, Bripka RR Malah Berani Menolak. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ketika seorang jenderal bintang satu Polri tak kuasa dan berani menolak perintah Ferdy Sambo (FS), mantan Kadiv Propam Polri dalam kasus kematian Brigadir J.

Dikarenakan status Ferdy Sambo yang mengemban jabatan khusus 'Polisinya Polisi' di institusi Polri, membuat Brigjen Hendra Kurniawan tak kuasa menolak perintah Pak FS.

Berbeda dengan terdakwa Bripka RR yang dengan berani tetap menolak perintah Ferdy Sambo di TKP pembunuhan Brigadir J.

Hal itu disampaikan kuasa hukum Brigjen Hendra Kurniawan, Henry Yosodiningrat, dengan mengatakan mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo merupakan polisinya polisi.

"Siapa yang berani membantah perintah Sambo gitu loh. Kadiv Propam, Kadiv Propam itu polisinya polisi," kata Henry di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2022), seperti yang dikutip dari Tribunnews.com.

Henry menuturkan meski ada puluhan jendral bintang dua di Mabes Polri, namun jabatan Kadiv Propam hanya diisi satu orang.

"Jadi kalau di Mabes Polri itu ada berapa puluh bintang dua, hanya satu Kadiv Propam yah," ujarnya.

Henry menyebut kliennya hanya melakukan atas perintah dari suami Putri Candrawathi tersebut.

"Ya poinnya semuanya sesuai dengan perintah. Perintah dari mana? Ferdy Sambo," ucap dia.

Lanjut Henry, ia mengungkapkan Ferdy Sambo sendiri telah mengakui jika anak buahnya melaksanakan perintahnya.

"Perintahnya itu seakan-akan mereka menerima perintah itu apa yang disampaikan Ferdy Sambo adalah peristiwa sebenarnya," ungkapnya.

Diketahui, dalam perkara ini ada tujuh anggota polri yang ditetapkan sebagai terdakwa melakukan perintangan penyidikan

atau obstraction of justice tewasnya Brigadir J dengan menghancurkan dan menghilangkan barang bukti termasuk CCTV.

Mereka adalah Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan; Agus Nurpatria; Chuck Putranto; Irfan Widianto; Arif Rahman Arifin; dan Baiquni Wibowo.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved