Internasional

Warga Geram hingga Juluki Agra India Kota Bau, Pembangunan Jalan Jadi Penyebabnya

Warga Kota Agra geram karena lingkungan tempat tinggal mereka bau. Pembangunan jalan yang tak kunjung selesai dituding jadi penyebabnya.

Editor: Isvara Savitri
Kompas.comPRASHANT SIKARWAR via BBC INDONESIA
Warga mengatakan walaupun sering dikeluhkan, pemerintah setempat tak pernah mengambil tindakan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Beberapa warga di Kota Agra, india, menamai kompleks perumahan mereka sebagai kawasan selokan atau kota bau.

Julukan tersebut muncul sebagai bentuk protes atas masalah yang dihadapi.

Warga Shahganj dan Jagdishpura menuding pembangunan jalan yang tak kunjung selesai menyebabkan tersumbatnya air.

Pembangunan tersebut juga menyebabkan jalan macet.

Padahal, kota tersebut berada di India Utara yang memiliki objek wisata Taj Mahal.

Namun warga di dua tempat itu mengeluh mereka harus hidup di tengah situasi yang jorok.

Mereka menuduh pemerintah tidak memperbaiki masalah yang mereka hadapi walaupun mereka sudah berulang kali mereka mengajukan keluhan.

Juru bicara politisi India, Baby Rani Maurya, yang di wilayah konstituennya terdapat jalan yang rusak mengatakan pihaknya telah mengambil langkah guna memperbaiki jalan.

"Kami telah menulis surat kepada pemerintah terkait untuk meminta dana tambahan sehingga pembangunan jalan bisa dimulai," katanya.

Namun dalam beberapa hari terakhir, sejumlah warga yang marah memutuskan untuk mengambil tindakan dan membuat nama kota dengan plang hijau dan tulisan putih, sama seperti yang dibuat pemerintah.

Baca juga: Dampak Kehancuran yang Terjadi Jika Senjata Nuklir Meledak

Baca juga: Kabar Terbaru Sulut United: Fokus Latihan Meski Laga Liga 2 Masih Tunda

Mereka memasang nama-nama itu di perempatan jalan dan gedung-gedung.

Navneet Nagar misalnya sekarang disebut "badboo nagar" (kota bau), koloni Mansarovar "kawasan selokan" dan wilayah Panchsheel menjadi "durgandhsheel" (wilayah bau).

Tentu nama-nama ini tidak resmi, namun menjadi bahan pembicaraan di antara 4,4 juta penduduk kota.

Setelah protes itu dilaporkan oleh media setempat, penduduk mengatakan para pejabat mulai mengunjungi kota itu pada Senin (10/10/2022) dan mulai mencabut papan-papan nama.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved