Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Dugaan Pelanggaran HAM Muncul dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Berikut Poin-poin KontraS

Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan diduga turut melanggar HAM. Berikut beberapa poin yang disampaikan KontraS.

Editor: Isvara Savitri
Surya.co.id
Suporter Arema FC, Aremania membopong korban kericuhan sepakbola saat laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, diduga ada pelanggaran hak asasi manusia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Seperti diketahui, kericuhan di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) menewaskan sekitar 129 orang.

"Atas peristiwa tersebut kami menilai telah terjadi dugaan pelanggaran hukum dan HAM," ujar Koordinator KontraS, Fatia Maulidiyanti, dalam keterangan tertulis, Minggu (2/10/2022).

Fatia menyampaikan, setidaknya ada empat alasan peristiwa itu disebut melanggar hukum dan HAM.

Pertama, aparat TNI Polri yang mengamankan laga telah melanggar undang-undang karena melakukan tindak kekerasan terhadap para suporter.

Baca juga: Sosok Devi Ratnasari, Korban Tewas Bersama Suami di Stadion Kanjuruhan Malang, Baru Pertama Nonton

Baca juga: Warga Pinsel Bolaang Mongondow Selatan Sulawesi Utara Gotong Royong Perbaiki Jembatan Menuju Pasar

"Tindakan sewenang-wenang TNI-Polri dengan melakukan tindak kekerasan jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap Pasal 170 dan 351 KUHP," kata dia.

Kedua, aparat kepolisian melanggar prinsip penggunaan kekuatan dalam tindakan melepas tembakan gas air mata ke arah tribun penonton.

Aturan yang dilanggar oleh para aparat ini yakni Pasal 2 Ayat 2 Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian.

Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai
Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai kericuhan penonton yang terjadi seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 bertajuk derbi Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam.

"Tindakan nirkemanusiaan tersebut telah melanggar terhadap prinsip-prinsip yang diatur, yakni prinsip proporsionalitas, prinsip nesesitas dan prinsip alasan yang kuat," kata Fatia.

Ketiga, tindakan yang dilakukan aparat polisi menyalahi prosedur tetap pengendalian massa dalam Pasal 7 Ayat (1) huruf a, b dan e Perkapolri Nomor 6 Tahun 2006.

Keempat, polisi yang membawa senjata gas air mata melanggar ketentuan dari Federasi Sepakbola Internasional (FIFA).

Baca juga: Ketua Asprov PSSI Sulawesi Utara Ikut Arahan Pemerintah: Pertandingan Sepak Bola Dihentikan

Baca juga: Renungan Khotbah Pdt Gilbert Lumoindong, 2 Samuel 23:5 - Keluarga, Bagian Kedua

"Dalam Article 19 point b ditegaskan bahwa: “No firearms or crowd control gas shall be carried or used.” Bahwa penggunaan senjata gas air mata telah dilarang oleh FIFA, bahkan tidak diperbolehkan dibawa dalam rangka mengamankan pertandingan sepak bola," ujar Fatia.

Sebelumnya, laga derbi Jawa Timur antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan berakhir rusuh.

Dilaporkan, 129 orang tewas dalam kerusuhan Kanjuruhan.

Wali Kota Malang Sutiaji saat datang melayat ke rumah duka korban tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya di lanjutan Liga 1 2022-2023
Wali Kota Malang Sutiaji saat datang melayat ke rumah duka korban tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya di lanjutan Liga 1 2022-2023 (Surabaya.Tribunnews.com/Kukuh Kurniawan)

Dua korban di antaranya merupakan anggota Polri.(*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kontras Duga Ada Pelanggaran Hukum dan HAM dalam Tragedi Kanjuruhan".

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved