Berita Sulut

Efraim Lengkong: Kekuatan Hukum Hanya Diakui 6 Dotu di Tanah ‘Padang Pasir’

Efraim Lengkong: Kekuatan Hukum Hanya Diakui 6 Dotu di Tanah ‘Padang Pasir’, sebutan lahan pintu tol Manado-Bitung di Kelurahan Pateten

Penulis: David_Kusuma | Editor: David_Kusuma
Dok Efraim Lengkong
Efraim Lengkong dan Herry Rumawung 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Lahan pintu tol Manado-Bitung di Kelurahan Pateten, Kota Bitung yang dikenal dengan sebutan tanah 'padang pasir' terus berpolemik.

Lahan yang saat ini telah di bangun jalan Tol Manado-Bitung dengan adanya uang titipan ganti kerugian atau konsinyasi di Pengadilan Negeri Bitung dengan nilai fantastis puluhan miliar membuat 'meja hijau' Pengadilan Negeri Bitung ramai gugatan, saling klaim sebagai pihak yang berhak atas tanah tersebut.

Efraim Lengkong selaku kuasa dan pewaris 6 Dotu Tanjung Merah Kota Bitung, yakni Dotu Hermanus Sompotan, Dotu Jusop Lengkong, Dotu Elias Wullur, Dotu Josop Siby, Dotu Magdalena Roti dan Dotu Habel Ganda angkat bicara terhadap lontaran klaim Frans Mawikere yang mengatakan tanah padang pasir adalah milik dari keturunan Lontoh Elias Sompotan.

"Lucu mendengar apa yang dikatakan Frans Mawikere ini mengenai tanah padang pasir adalah milik mereka. Apalagi dia menjelaskan keturunan anak tertua dari Martha K Sompotan, garis keturunan Lontoh Elias Sompotan yang memiliki 4 orang anak, satu meninggal muda, dan yang hidup dan memiliki keturunan hanya tiga yakni Emor Wolter Sompotan, Jan D Sompotan dan Martha K Sompotan yang tak lain adalah ibu kandungnya, dan mengatakan ada register segala atas nama Lontoh Elias Sompotan," kata Lengkong.

Dijelaskan Lengkong, dalam kekuatan hukum yang diakui hanya keturunan 6 dotu yang sah dan itu sudah beberapa kali dibuktikan oleh almarhum Fien Sompotan, dalam persidangan melawan Merry Sompotan yang mengunakan garis keturunan Lontoh Elias Sompotan.

Terakhir keluar Putusan Kasasi pada tanggal 7 April 2022 dimana hakim menolak permohonan kasasi dari Merry Sompotan dalam perkara No 984 K/Pdt/2022. 

Mengenai register tanah yang diklaim bahwa Frans Mawikere memilikinya, Efraim balik bertanya mengapa register tersebut ada di tangan mereka bukan di kelurahan?

"Saya menduga register itu sengaja dipalsukan dan apa bila dalam persidangan mereka tidak mampu membuktikannya maka saya akan polisikan," tegas Lengkong.

Baca juga: Rio Dondokambey Puji Audrey, Miss Indonesia 2022 Sentil Soal Cinta di Lomba Pidato Kerukunan

Mantan Hukum Tua dan kemudian menjadi Lurah Tanjung Merah Herry Rumawung tak lain merupakan cucu dari Johana Sompotan dari keturunan Dotu Hermanus Sompotan ikut menyatakan keturunan dari Lontoh Elias Sompotan, bukan Sompotan asli Bitung.

"Sompotan laeng kwa dorang (Sompotan lain mereka), coba ngoni pi tanya di Aertembaga (Coba kalian tanya di Aertembaga," ucap Rumawung.

Lanjutnya, sejak dulu di saat almarhum Emor Sompotan masih hidup beliau tidak pernah mencampuri apalagi mendaulat bahwa dirinya adalah titisan darah 6 dotu.

"Saya masih ingat di saat almarhum Emor Sompotan membangun dan mendiami rumah di area Pelabuhan Bitung, kemudian rumah itu digusur dan diusir oleh Jawatan Pelabuhan (Pelindo) karena sebagian tanah tersebut sudah dibayarkan kepada ahli waris 6 dotu bukan kepada ahli waris Lontoh Elias Sompotan," ujar Ruawung.

Baca juga: Sulut United vs PSBS Biak, Jaya Hartono: 3 Poin Harga Mati di Klabat

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved