Profil Tokoh

Sosok Kombes Sumy Hastry Purwanti yang Bongkar Hasil Autopsi Brigadir J, Pernah Tangani Kasus Besar

Simak profil dan jejak karier dari sosok Kombes Sumy Hastry Purwanti yang ternyata pernah menangani kasus-kasus besar ini.

Editor: Tirza Ponto
KOMPAS/ P RADITYA MAHENDRA YASA
Sosok Kombes Pol Dr. dr. Sumi Hastry Purwanti yang Bongkar Hasil Autopsi Brigadir J, Pernah Tangani Kasus Besar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Baru-baru ini nama Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti kembali menuai sorotan usai membongkar hasil autopsi Brigadir J yang pertama.

Polwan ahli forensik pertama di Asia mengaku prihatin saat jenazah Brigadir J dilakukan autopsi ulang.

Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti meyakini bahwa para junior-juniornya yang mengerjakan autopsi pertama sudah bekerja dengan baik dan benar.

Baca juga: Akhirnya Polwan Ahli Forensik Angkat Suara dan Beberkan Hasil Autopsi Brigadir J, Jelaskan Soal Luka

Sosok Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti
Sosok Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti

Luka-luka yang beredar di publik itu merupakan luka saat proses autopsi dan pasca autopsi.

Lantas, siapakah sosok Kombes Pol Dr. dr. Sumi Hastry Purwanti?

Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti merupakan polwan yang terlibat dalam proses identifikasi jasad atau korban tewas.

Wanita kelahiran 23 Agustus 1970 ini merupakan seorang perwira menengah Polri yang sejak 1 Juni 2021 mengemban amanat sebagai Kabid Dokkes Polda Jateng.

Dikutip dari Kompas.com, Sumy Hastry kerap kali mendapat tugas dalam kasus atau insiden besar, di antaranya Bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta (2004), kecelakaan pesawat Mandala di Medan (2005), dan bom Bali II (2005).

Kemudian, ia juga menangani bencana gempa bumi Yogyakarta (2006), bom Hotel JW Marriott, Jakarta (2009).

Ia juga melakukan identifikasi jenazah teroris Noordin M Top (2009), gempa bumi Padang, Sumatera Barat (2009), dan kecelakaan pesawat Sukhoi SSJ-100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat (2012).

Bahkan, perwira polisi ini juga pernah dua bulan penuh bertugas mengidentifikasi korban pesawat AirAsia QZ 8501 pada tahun 2015.

Bahkan, dirinya ikut serta terjun dalam proses autopsi jasad Tuti dan Amalia, ibu serta anak korban pembunuhan di Subang, Jawa Barat tahun 2021.

Sumi mengatakan, diperlukan ketelitian yang tinggi dan kesabaran dalam menentukan akurasi identitas jenazah.

”Saya lebih memilih tidak mengidentifikasi jenazah dibandingkan melakukan identifikasi yang salah,” kata dia.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved