Sosok Sersan Hermanu dan Peristiwa Kerusuhan Tanjung Priok 38 Tahun Silam, 12 September 1984

Kisah pilu peristiwa kerusuhan Tanjung 38 tahun lalu dikenang kembali hari ini, Senin 12 September 2022.

Editor: Erlina Langi
(Kompas/Hasanuddin Assegaff)
Sidang pengadilan Peristiwa Tanjung Priok 1984 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan hakim ketua Mahmud SH. Mengadili terdakwa masing-masing SR,SU, AS, MN. Peristiwa pengeroyokan terhadap petugas Babinsa Sersan Hermanu berakibat peristiwa berdarah yang mengguncang Tanah Air. Acara memeriksa saksi-saksi.(Kompas/Hasanuddin Assegaff) 

Adapun demonstrasi penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal, bersumber pada aksi kekerasan dan penahanan terhadap empat warga, yakni Achmad Sahi, Syafwan Sulaeman, Syarifuddin Rambe, dan Muhammad Nur.

Keempatnya ditahan lantaran terlibat dalam aksi pembakaran sepeda motor Bintara Pembina Desa (Babinsa), Sersan Hermanu, pada 10 September 1984.

Awal mula kejadian

Pembakaran motor bermula dari Sersan Hermanu yang berniat menghapus brosur dan spanduk yang berisi kritik kepada pemerintah pada 7 September 1984.

Dikutip dari Kompas.id, Hermanu mendatangi mushala Assa'addah dan meminta masyarakat untuk mencopotnya.

Keesokan harinya, ia kembali datang dan masih menemukan brosur serta spanduk kritik terhadap pemerintah di dinding mushala.

Ia pun marah dan mengambil pistol sambil muding-nuding warga.

Banyak warga saat itu menceritakan, Hermanu masuk ke musala hingga ke podium tanpa melepas sepatu larsnya.

Warga pun marah dan meminta Hermanu untuk meminta maaf kepada pengurus dan semua umat Islam.

Melihat kondisi semakin tidak kondusif, pada 10 September, pengurus musala bernama Syarifuddin Rambe dan Ahmad Sahi mencari Hermanu untuk menyelesaikan masalah secara damai.

Upaya damai yang gagal

Hermanu datang ditemani Sertu Rahmad, dan bersedia berdialog dengan pengurus mushala.

Namun, ia menolak meminta maaf dengan dalih bahwa dirinya petugas yang berhak menjaga keamanan dan ketertiban.

Desakan warga membuat Hermanu naik pitam. Tetapi, pengurus mushala tetap meminta untuk menyelesaikan masalah tersebut secara damai.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved