Sosok Sersan Hermanu dan Peristiwa Kerusuhan Tanjung Priok 38 Tahun Silam, 12 September 1984

Kisah pilu peristiwa kerusuhan Tanjung 38 tahun lalu dikenang kembali hari ini, Senin 12 September 2022.

Editor: Erlina Langi
(Kompas/Hasanuddin Assegaff)
Sidang pengadilan Peristiwa Tanjung Priok 1984 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan hakim ketua Mahmud SH. Mengadili terdakwa masing-masing SR,SU, AS, MN. Peristiwa pengeroyokan terhadap petugas Babinsa Sersan Hermanu berakibat peristiwa berdarah yang mengguncang Tanah Air. Acara memeriksa saksi-saksi.(Kompas/Hasanuddin Assegaff) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sosok Sersan Hermanu dan peristiwa kerusuhan Tanjung Priok 38 tahun silam, 12 September 1984

Kisah pilu peristiwa kerusuhan Tanjung 38 tahun lalu dikenang kembali hari ini, Senin 12 September 2022.

Peristiwa yang bersejarah ini sulit untuk dilupakan

Sebuah peristiwa keruh yang dikenal dengan istilah Tragedi Tanjung Priok menjadi salah satu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat pada masa Orde Baru.

Begitu banyak korban yang jatuh akibat tragedi ini

Dikutip dari Kompas.com, (13/9/2021), pemerintah menaksir korban tewas sebanyak 33 orang.

Bagaimana sejarah peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984?


Pasca-kerusuhan, beberapa titik dijaga ABRI bersenjata laras panjang di Tanjung Priok, Jakarta Utara pada September 1984. (Don Sabdono) via Kompas.com

Baca juga: Siapa Sangka, Ini Sosok Munir Pejuang Kemanusiaan yang Tewas Diracun yang di Sebut Hacker Bjorka

Kronologi peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984

Dilansir dari Kompas.com, (12/9/2021), pada 1980-an, upaya menerapkan Pancasila sebagai asas tunggal sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintah Orde Baru.

Namun, kebijakan ini menuai protes dari masyarakat.

Salah satu kelompok yang kerap memberi kritik adalah Petisi 50, yang menilai Soeharto mempolitisasi Pancasila.

Petisi 50 sendiri terdiri dari sejumlah tokoh seperti Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, mantan Kapolri Jenderal Purn Hoegeng Imam Santoso, mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, dan eks pemimpin Masyumi Mohammad Nasir.

Masyarakat yang menolak melayangkan kritikan terhadap pemerintah melalui brosur dan spanduk.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved