News Analysis

Pasca Kasus Sambo, Pengamat Hukum Rodrigo Elias Sebut Polri Harus Berbenah 

Dosen Fakultas Hukum Unsrat ini menilai pembelajaran yang harus ditangkap dari kasus Ferdy Sambo yakni pembenahan di kubu Polri. 

Penulis: Hesly Marentek | Editor: Aldi Ponge
tribunmanado.co.id/Nielton Durado
Pengamat hukum Unsrat Manado Rodrigo Elias. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -- Ferdy Sambo menjadi perhatian publik. Mantan Jendral Bintang Dua ini, diduga menjadi otak pembunuhan berencana terhadap Brigadir J yang merupakan ajudannya.

Masalah pun kian diperparah, tak hanya mantan anak buahnya yang turut jadi tersangka. Namun sejumlah petinggi Polri turut terseret dalam kasus Ferdy Sambo.

Ini pun menuai reaksi dari kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan hingga turut berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Terkait hal ini pun mendapat tanggapan dari Pengamat Hukum Rodrigo Elias.

Dosen Fakultas Hukum Unsrat ini menilai pembelajaran yang harus ditangkap dari kasus Ferdy Sambo yakni pembenahan di kubu Polri. 

Pembenahan Internal yang dimaksud yaitu termasuk dalam gratifikasi atau suap.

"Ini harus jadi momentum untuk pembenahan di internal Polri. Karena bukan lagi rahasia, adanya suap atau gratifikasi ketika penerimaan hingga saat akan menduduki jabatan," sebutnya.

Hal tersebut menurut Dosen Kriminilogi ini, seakan membuat para pejabat dipupuk untuk mencuri.

"Ini perubahan dasar secara internal Polri. Penerimaan hingga proses kenaikan pangkat harusnya tak perlu bayar. Taparus harus berprestasi," ujarnya seraya menambahkan informasi tersebut terus berkembang.

"Berkembang di luar seperti itu. Kebiasaan buruk, Polri jangan tutup mata atau ditutupi. Tapi bagaimana Polri sendiri memberikan contoh," tambahnya.

Dari sisi kriminolgi dia menilai kejahatan tidak hanya datang dari mens rea pelaku saja. Tetapi objek kejahatan itulah yang membuat pelaku melakukan kejahatan.

"Ini kajian dalam konteks kejahatan yang dilakukan oleh FS. Misalnya adanya peluang dari pelaku, seperti APH mendapat setoran dari bandar judi, narkoba, prostitusi," terangnya.

"Kenapa terjadi kejahatan? Misalnya kasus perampokan, jadi bukan perampok saja tapi peran dari korban. Serta adanya peluang dapat bantuan dari aparat," tandas Rodrigo Elias. (hem) 

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved