Sosok Tokoh

Sosok Joki Cilik di Bima, Bekerja Menantang Maut demi Nama Besar Sang Pemilik Kuda

Mereka yang menentang beralasan karena ada praktik eksploitasi. Sebab, joki kuda yang dipacu adalah anak di bawah usia 10 tahun.

Kompas.com/Junaidin
Di tengah pro dan kontra penggunaan joki cilik, ada cerita menarik dari dua mantan joki di Bima. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini kisah Joki Cilik di Bima.

Kabupaten dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) terkenal dengan Pacuan kuda.

Pacuan kuda tersebut kini tengah menjadi sorotan banyak pihak.

Mereka yang menentang beralasan karena ada praktik eksploitasi.

Sebab, joki kuda yang dipacu adalah anak di bawah usia 10 tahun.

Baca juga: Viral Guru Perempuan di Manado Mengaku Jadi Korban Pelecehan, Waspada

Pada sisi lain, pacuan kuda dengan joki cilik ini mendapat dukungan karena alasan tradisi leluhur.

Di tengah pro dan kontra penggunaan joki cilik itu, ada cerita menarik dari dua mantan joki di Bima.

Adalah Rian, kakak kandung dari Muhammad Alfian (6), seorang joki yang tewas akibat terjatuh dari punggung kuda saat latihan di arena pacuan di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima.

Rian mengungkapkan, semenjak menjadi joki pada usia 9 tahun, sudah banyak prestasi yang ditorehkan untuk pemilik kuda.

Bahkan, tidak hanya di NTB, Rian juga pernah meraih juara 1 dalam pacuan kuda di Kupang.

Upah sukarela

Hasil yang diperoleh sebagai joki tidak menentu, sebab besaran upah yang diterima tergantung kerelaan dari pemilik kuda.

Paling rendah biasanya yang diterima Rp 50.000 untuk sekali tunggangan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved