Polisi Manado
Polisi Manado Gelar Rekonstruksi Penembakan Warga di Pandu Pada Malam Hari
Kasus penembakan warga Kelurahan Pandu bernama Raymond Londok oleh anggota Polisi Manado akhirnya digelar rekonstruksi.
Penulis: Nielton Durado | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasus penembakan warga Kelurahan Pandu bernama Raymond Londok oleh anggota Polisi Manado akhirnya digelar rekonstruksi.
Polisi Manado melakukan rekonstruksi ini dimalam hari yakni pada Rabu 27 Juli hingga Kamis 28 Juli 2022 dinihari.
Rekonstruksi yang dilakukan polisi Manado ini dimulai sebanyak 36 adegan.
Rekonstruksi dimulai dari korban melakukan miras bersama teman-temannya.
Saat sudah mabuk, RL kemudian mengancam seorang warga dengan benda tajam.
Sehingga terjadi kejar-kejaran hingga datang anggota kepolisian ke TKP.
Anggota kepolisian ini adalah anggota dari Polsek Bunaken.
Korban juga diketahui sempat melakukan kejar-kejaran dengan polisi hingga terjatuh di selokan.
Tak hanya itu, Raymond juga diketahui mengejar salah satu anggota polisi dengan senjata tajam.
Bahkan anggota polisi yang menembak Raymon sudah memperingatkan korban agar tidak mendekat.
Tapi karena korban menunjukkan gerakan hendak menusuk, polisi ini kemudian melakukan penembakan.
Tepat pada adegan ke 35, Raymond ditembak anggota polisi Polresta Manado hingga tewas.
Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Taufiq Arifin ketika dikonfirmasi mengaku jika pihaknya masih akan melakukan gelar perkara khusus di Polda Sulut.
"kita besok gelar perkara khusus dulu di Polda," kata Arifin singkat.
Sebelumnya diketahui, istri korban penembakan yakni Vanne Warouw membantah jika suaminya membawa senjata tajam saat mendekati polisi.
"Itu bukan sajan ataupun botol seperti yang dikatakan polisi. Tapi vas bunga," kata dia saat ditemui belum lama ini.
Vanne juga mengaku sangat bersedih kehilangan sosok orang yang ia cintai selama ini.
Meskipun ia sadar suaminya banyak kesalahan dan keterbatasan, tetapi menurutnya semua itu tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan sebagai manusia biasa.
Vanne mengungkapan, pada saat penembakan itu terjadi Ia berada di belakang korban dan Ia mengira tembakan polisi itu mengenai kaki korban.
"Saat ditembak, suami saya langsung jatuh ke tanah, jadi sebagai istri mencoba memegang suami saya tetapi polisi tidak mengizinkan dengan alasan mau oleh TKP dulu," ucapnya.
Vanne Warouw dan kelurga sempat berharap korban masih hidup ketika ditembak oleh polisi.
"Karena saya berfikir suami saya masi hidup, jadi saya langsung beranjak dari kerumunan untuk kembali ke rumah dan memberikan informasi kepada kelurga yang lain," ujarnya.
Setelah 1 jam mobil polisi pun datang untuk membawa suaminya ke rumah sakit. (Nie)
Baca juga: Akhirnya Terungkap Fakta Kopda M Sebelum Tewas, Bayar Eksekutor Tembak Istri hingga Tipu Mertua
Baca juga: BREAKING NEWS, 2 Cewek Manado Pelaku Kasus Traficking di Kalteng Diringkus Polda Sulawesi Utara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/suasana-rekonstruksi-penembakan-warga-oleh-anggota-polresta-fgjhgfjgf677978.jpg)