Sitaro Sulawesi Utara

Bank Indonesia Gelar Sosialisasi Uang Rupiah Logam Sebagai Alat Pembayaran yang Sah di Sitaro

Uang rupiah logam merupakan alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penulis: Octavian Hermanses | Editor: Chintya Rantung
Vian Hermanses/tribunmanado.co.id
Jalannya diskusi dalam kegiatan sosialisasi uang logam sebagai alat pembayatan yang sah 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Uang rupiah logam merupakan alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dimana penggunaan mata uang rupiah termasuk dalam bentuk logam telah diatur dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang.

Hal ini pun disosialisasikan pihak Bank Indonesia terkait Cinta Bangga Paham (CBP) Uang Rupiah Logam Sebagai Alat Pembayaran Sah kepada jajaran pemerintah kelurahan kampung dan para pengusaha di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

Sosialisasi dan edukasi yang berlangsung Kamis (28/7/2022) di Restorant Narwastu di Kelurahan Tarorane Kecamatan Siau Timur itu juga menghadirkan para pimpinan Bank yang ada di Kabupaten Sitaro.

Fransco Tentua, Kepala Seksi Layanan Kas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara mengatakan, sosialisasi digelar karena adanya fenomena keengganan bahkan penolakan penggunaan uang logam di Kabupaten Sitaro.

"Karena pertimbangan kita, kita dengan dari masyarakat bahwa di Siau itu uang logam sama sekali tidak digunakan. Sementara kita dari Bank Indonesia, kita tahu bahwa uang logam dan uang kertas itu sebagai alat pembayaran yang sah," tetang Fransco.

Dengan dilaksanakannya sosialisasi dan edukasi ini, Bank Indoensia berharap agar semua pihak, baik pengusaha dan masyarakat dapat menerima uang logam dalam setiap transaksi keuangan.

"Tujuan dan harapan kita setidaknya semua masyarakat maupun pelaku usaha dapat menerima logam itu untuk transaksi. Jangan cuma kertas, tapi logam juga," ujarnya.

Menurut Fransco, keengganan dalam penggunaan uang logam bisa menimbulkan inflasi serta dampak siginifkan terhadap masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah.

"Pembelian dari satu barang dengan harga seribu dua ratus atau seribu lima ratus akan menjadi naik, tidak akan turun. Jadi berdampak negatif bagi masyarakat kecil. Tanpa sadar sudah jadi inflasi," terangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved