Sulawesi Utara
Keluh Kesah Distanak Sulawesi Utara, Program Vaksinasi Anjing Cegah Rabies Kerap Dicueki Warga
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulut masih menemui sejumlah tantangan dan kendala memberantas penyakit rabies.
Penulis: Ryo_Noor | Editor: Handhika Dawangi
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Upaya pencegahan lewat pemberian vaksin ke hewan peliharaan, seharusnya jadi langkah terbaik mengatasi penyakit rabies. Namun upaya itu masih jauh panggang dari api.
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulut masih menemui sejumlah tantangan dan kendala memberantas penyakit rabies.
"Rabies itu penanganannya multi sektor harus ada peternakan, kesehatan, masyarakat itu sendiri, kepolisian harus terlibat. Goalnya harus bebas rabies, " ujar drh Hanna Tioho, Kepala Bidang Peternakan Distanak Provinsi Sulut didampingi drh Louise Kumaunang, Analis Kebijakan Muda Distanak Minahasa, Rabu (20/7/2022).
drh Hanna Tioho mengatakan, Program memerangi rabies dengan melakukan vaksinasi terhadap hewan peliharaan.
"95 persen penyakit rabies itu ditularkan dari anjing hanya 3 persen kucing, 2 persen hewan lainnya, " ujar dia kepada tribunmanado.co.id
Vaksin hewan dipasok Kementerian Kesehatan RI ke Provinsi Sulut sebanyak 11.000 botol, jumlah itu tak sebanding dengan populasi anjing di Sulut mencapai 272.000 ekor.
Selain itu dari komunitas pecinta hewan juga melakukan upaya yang signifikan ambil bagian dalam program vaksinasi hewan
Namun, dengan jumlah vaksin hewan yang tersedia, petugas vaksin masih menghadapi tantangan ketika hendak melakukan vaksin ke hewan peliharaan warga. Belum lagi jumlah petugas vaksin yang masih minim.
"Biasa kalau kami turun jemput bola ke desa-desa, jalan umumkan untuk vaksin hewan, hanya segelintir warga yang mau memberikan anjing peliharaannya divaksin, " Kata dia
Kebanyakan, acuh tak acuh, atau menolak vaksin.
"Pengalaman misalnya kita bawa 1000 dosis, paling hanya 200-300 anjing yang divaksin, " ujarnya.
Alasan menolak vaksin pun macam-macam, terkesan kurang percaya vaksinasi ini untuk kebaikan warga sendiri agar terhindar dari penyakit rabies
"Ada yang bilang nanti anjingnya tak mengonggong lagi kalau vaksin, anjing jadi bakado (penyakit kulit), " kata dia.
Masyarakat sebenarnya tahu program ini, dua jenis responnya bahwa peduli atau tidak peduli
"Biasanya kalau ada kasus kematian jadi vir, baru semua angkat bicara, gencar program vaksin. Namun setelah itu tenang kembali. Nanti ada kejadian baru ribut lagi, begitu seterusnya, " ungkap dia.
Masyarakat pun terkesan abai dan menyepelekan gigitan anjing, pikirnya bisa dituntaskan dengan pengobatan tradisional, padahal dampaknya sangat berbahaya, nyawa bisa melayang. (Ryo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dinas-pertanian-dan-peternakan-distanak-provinsi-sulut-5695.jpg)