Lifestyle

4 Tradisi Unik Sambut Tahun Baru Islam di Berbagai Daerah di Indonesia, Ada Keliling Kompleks Kraton

Umat Islam akan merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah pada 29 Juli 2022. Berbagai tradisi unik dilakukan di beberapa daerah.

Editor: Isvara Savitri
TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI
Barisan kebo bule memimpin Kirab Malam Satu Suro di Keraton Solo, Kamis (21/9/2017). Berikut 4 tradisi uni di berbagai daerah saat sambut Tahun Baru Islam. 

Uniknya, warga akan berlomba-lomba menyentuh badan kebo bule, bahkan mereka juga berebut untuk mendapatkan kotorannya yang katanya dapat membawa berkah.

Barisan kebo bule memimpin Kirab Malam Satu Suro di Keraton Solo, Kamis (21/9/2017).
Barisan kebo bule memimpin Kirab Malam Satu Suro di Keraton Solo, Kamis (21/9/2017). (TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI)

Mubeng Beteng

Selain di Solo, Kraton Yogyakarta juga punya tradisi unik yaitu Mubeng Beteng.

Tradisi Mubeng Beteng atau Lampah Mubeng adalah tradisi yang dilakukan dengan mengelilingi Kompleks Kraton Yogyakarta.

Selama mengelilingi kraton, mereka melakukannya tanpa tanpa berbicara, bersuara, makan, minum ataupun merokok.

Semua peserta melakukan tapa bisu (tidak berbicara) dan bisa diikuti oleh wisatawan.

Baca juga: Penjelasan Kantor Pertanahan Sitaro Sulawesi Utara Terkait Pengurusan Sertifikat Tanah

Baca juga: Event Paragliding TROI 2022, Sejumlah UMKM di Bolsel Sulawesi Utara Pasarkan Usahanya

Jarak yang ditempuh pun kurang lebih sejauh lima kilometer.

Upacara Tabot

Tabot adalah perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Bengkulu.

Ini dimaksudkan untuk mengenang kepahlawanan serta meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali Abu Thalib.

Upacara ini dipengaruhi dari upacara Karbala di Iran.

Ilustrasi Tahun Baru Islam.
Ilustrasi Tahun Baru Islam. (Tribunnews.com)

Perayaan Tahun Baru Islam ini sudah dilakukan sejak 1685 oleh Syeh Burhanuddin atau dikenal dengan Imam Senggolo.

Mengutip dari pedomanbengkulu.com, Ritual Tabot digelar oleh Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Bengkulu adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Adapun tahapan ritual Tabot sesuai urutan, yakni mengambil tanah, duduk penja, meradai, merajang, arak penja, arak serban, gam atau masa tenang/berkabung dan arak gedang serta tabot terbuang.

Halaman
123
Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved