Krisis Sri Lanka

Alasan Indonesia Tak Akan Alami Krisis Seperti Sri Lanka, Karena Memiliki Tiga Faktor Ini

Indonesia dinilai tak akan amali krisis seperti sri lanka, ini sejumlah alasannya

Editor: Glendi Manengal
Photo by AFP
Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam demonstrasi anti-pemerintah di luar kantor Presiden di Kolombo pada 9 Juli 2022. - Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa yang terkepung melarikan diri dari kediaman resminya di Kolombo, kata sumber pertahanan utama kepada AFP, sebelum pengunjuk rasa berkumpul untuk menuntut pengunduran dirinya menyerbu menggabungkan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebelumnya diketahui sebuah negara saat ini sedang mengalami krisis.

Negara tersebut yakni Sri Lanka.

Terkait hal tersebut bahkan Indonesia sempat dikaitkan bakal seperti Sri Lanka.

Baca juga: Ingat Irjen Napoleon? Kini Komentari Penembakan Brigadir J: Mari Kita Kembali Jujur

Baca juga: Ingat Ritual Maut di Pantai Payangan? Tewaskan 11 Orang, Kini Pemimpinnya Divonis 3,5 Tahun Penjara

Baca juga: Nekat Ancam Bunuh Mantan karena Hubungan Kandas, Pria Ini Malah Ditangkap Terancam 10 Tahun Penjara

Namun Indonesia justri dinilai tak akan alami krisis seperti Sri Lanka.

Anggota Komisi XI DPR RI Hendrawan Supratikno menilai Indonesia tidak akan masuk dalam situasi krisis berdimensi stagflasi seperti yang terjadi pada Sri Lanka.

Sehingga, ia meyakini krisis yang terjadi di Sri Lanka tidak akan terjadi di Indonesia.

Hendrawan menerangkan, stagflasi artinya kondisi ekonomi yang diwarnai oleh dua penyakit terbesar ekonomi yaitu pengangguran sekaligus inflasi.

"Tetapi, Indonesia agak beruntung karena memiliki tiga kondisi yang jarang dimiliki oleh negara lain yang saat ini krisis," ujar Hendrawan dalam keterangannya, Kamis (14/7/2022).

Hendrawan menjabarkan, faktor pertama adalah pasar domestik di Indonesia sangat besar, ditandai dengan jumlah populasi 270 juta penduduk.

Besarnya penduduk Indonesia tersebut akan menjadi ‘bantalan’ ekonomi ketika pertumbuhan ekonomi dunia melemah. Sebab, pasar yang besar, memberikan peluang kepada industri untuk bergerak atau hidup.

Foto : Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. (India Outlook)

"Meskipun dalam kapasitas industri yang tidak begitu maksimal karena pengaruh ekonomi global tadi," tutur Hendrawan.

Hendrawan menerangkan, faktor kedua adalah Indonesia memiliki produk ekspor komoditas (nonmigas) yang bervariasi di pasar global. Diketahui, ekspor nonmigas ini masih mendominasi total ekspor Indonesia, yakni mencapai 22,84 miliar dolar AS per November 2021.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved