Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kata Pakar Psikologi Forensik Soal Baku Tembak Dua Polisi yang Sebabkan Brigadir J Tewas, Tak Lazim

Pakar Psikologi Forensik menyebutkan tak lazim jika terjadi kasus pelecehan dalam baku tembak di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

Editor: Alpen Martinus
kolase Tribunmanado/ HO
Foto Brigadir J dan keluarga Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo 

TRIBUNMANADO.CO.ID- Pakar Psikologi Forensik pun ikut memberikan pandangan terhadap kasus baku tembak dua polisi yang menyebabkan Brigadir J Tewas.

Ada beberapa hal yang menjadi pokok penilaian mereka.

Mereka pun menemukan hal tak lazim dalam kasus tersebut, termasuk pejelasan terkait dugaan adanya kejahatan seksual.

Baca juga: Tidak Ada Ambulans di Rumah Irjen Ferdy Sambo Usai Penembakan Brigadir J, Ini Tanggapan Humas Polri

Simak video terkait :

Pakar Psikologi Forensik menyebutkan tak lazim jika terjadi kasus pelecehan dalam baku tembak di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

Dengan melihat kondisi di kamar pribadi seorang jenderal bintang dua polisi, pakar berani mengatakan jika memang benar terjadi, Brigadir J dalam kondisi tak normal.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai dugaan pelecehan seksual menjadi salah satu kejahatan yang paling pelik untuk dipecahkan.

Penyebabnya, kata Reza, biasanya kejahatan seksual itu terjadi di tempat tertutup dan sepenuhnya dianggap dikuasai oleh pelaku.

Baca juga: Potret Richard Eliezer Lumiu, Polisi Manado yang Disebut Sosok Bharada E, Dituding Tembak Brigadir J

Ibunda Brigadir J yang tewas baku tembak dengan Bharada E histeris lihat kondisi jasad anaknya.
Ibunda Brigadir J yang tewas baku tembak dengan Bharada E histeris lihat kondisi jasad anaknya. (Kolase Tribunnews.com)

Namun, Reza menilai ada beberapa hal tidak lazim terjadi dalam dugaan pelecehan seksual yang berujung penembakan Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J oleh Bhayangkara Dua (Bharada) E.

Ia berpandangan insiden yang terjadi di rumah Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Inspektur Jenderal Ferdy Sambo itu dilakukan di lokasi yang berpotensi adanya saksi.

Selain itu, rumah tersebut juga dinilai sebagai zona aman yang tidak bisa dikuasai oleh pelaku, terlebih ada kamera pengintai atau CCTV, ada akses calon korban melarikan diri.

"Maka itu sungguh-sungguh pertimbangan memilih lokasi kejahatan yang sangat amat buruk. Ini pemikiran yang spontan muncul di kepala saya usai membaca pemberitaan," ujar Reza dikutip dari Kompas TV dalam Sapa Indonesia Pagi, Kamis (14/7/2022).

Baca juga: Cerita Satpam Kompleks Rumah Ferdy Sambo soal Insiden Maut Tewasnya Brigadir J, Ini Kata Keluarga

Ia memberikan catatan bahwa dugaan pelecehan seksual itu sungguh-sungguh berlangsung di tempat tidak lazim.

Kendati demikian, kata Reza, bukan tidak mungkin kejahatan pelecehan seksual itu bisa terjadi.

"Tetap harus diinvestigasi oleh polisi karena ada saja kemungkinan pelaku kejahatan seksual dalam kondisi mabuk, di bawah pengaruh narkoba, atau terprovokasi eksternal," kata dia.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved