Internasional

Sri Lanka Bangkrut, Menular ke Laos hingga Pakistan, Bagaimana dengan Indonesia?

Krisis ekonomi Sri Lanka mulai dirasakan di beberapa negara dengan penghasilan rendah. Beberapa di antaranya adalah Laos, Myanmar, hingga Pakistan.

Editor: Isvara Savitri
Photo by AFP
Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam demonstrasi anti-pemerintah di luar kantor Presiden di Kolombo pada 9 Juli 2022. - Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa yang terkepung melarikan diri dari kediaman resminya di Kolombo, kata sumber pertahanan utama kepada AFP, sebelum pengunjuk rasa berkumpul untuk menuntut pengunduran dirinya menyerbu menggabungkan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Krisis ekonomi terus melanda negara-negara dunia.

Tak hanya Sri Lanka, krisis ekonomi sudah merambat ke beberapa negara berpenghasilan rendah.

Beberapa di antaranya adalah Laos, Myanmar, hingga Pakistan.

Mereka pun juga sudah di ambang kebangkrutan.

Pasalnya, harga makanan dan bahan bakar sudah melonjak.

Laporan bertajuk Crisis Response Group yang dirilis PBB pada bulan lalu menyebut lebih dari separuh negara termiskin di dunia terlilit utang dan berisiko tinggi dalam kesulitan.

Laos sebagai negara kecil yang terkurung daratan di Asia Tenggara ini sebetulnya mencatat pertumbuhan ekonomi tercepat sebelum pandemi Covid-19.

Tetapi sejak pandemi, utangnya melompat persis seperti yang dialami Sri Lanka.

Laos juga terpaksa mengemis restrukturisasi utang bernilai miliaran dolar AS, cadangan devisa Laos tersisa hanya kurang dari dua bulan impor.

Mata uangnya pun jatuh 30 persen yang memperburuk kesengsaraan negara itu.

Baca juga: Cara Membuat Sapi Lada Hitam Empuk, Gunakan Daging Has Dalam

Baca juga: Perkuat Konsolidasi Kader, DPD Partai Golkar Bolmut Sulawesi Utara Lantik Pengurus Kecamatan

Sementara Myanmar setelah aksi kudeta militer pada Februari 2021 terhadap pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi turut memengaruhi kondisi perekonomian negara.

Myanmar dihujani sanksi dari negara Barat seperti penarikan bisnis secara besar-besaran.

Ekonomi Myanmar terkontraksi minus 18 persen pada tahun lalu dan diperkirakan tidak tumbuh pada tahun ini.

Lebih dari 700 ribu orang melarikan diri atau diusir dari rumah mereka karena konflik bersenjata dan kekerasan politik yang terjadi.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved