Abrasi Pantai Amurang
Pakar Geoteknik Prof Fabian Manoppo: Pantai Seharusnya Bukan Permukiman
"Melihat fakta yang ada, di wilayah itu seharusnya bukan permukiman. Sempadan pantai tak boleh sembarang bangun."
Penulis: Manuel Mamoto | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Pakar Geoteknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Prof Dr Ir Fabian Manoppo MAgr mengungkapkan, bencana abrasi di Pantai Amurang, Minsel menjadi peringatan kepada pemerintah dan masyarakat.
"Melihat fakta yang ada, di wilayah itu seharusnya bukan permukiman. Sempadan pantai tak boleh sembarang bangun," kata Dekan Fakultas Teknik Unsrat ini kepada Tribunmanado.co.id, Jumat (17/06/2022).
Fabian mengatakan, sesuai aturan yang ada, sempadan pantai tak bisa dijadikan permukiman.
"Aturan menyatakan, 150 meter dari bibir pantai tak boleh ada bangunan," kata Fabian.
Ia menilai, bencana amblasnya pantai di Amurang diperkirakan masalah geologi.
Ke depan, Fabian merekomendasikan tak boleh ada permukiman di area tersebut.
Sementara, untuk sarana seperti jalan dan jembatan perlu kajian matang.
Sebagai gambaran, Fabian mengatakan, area itu masih bisa dibangun jembatan namun butuh biaya lebih besar.
Jika pun dibangun jembatan, sangat tidak efisien karena harus by pass seperti Jembatan Soekarno.
"Panjangnya lebih dari 300 meter. Akan sangat mahal untuk sekelas jalan kabupaten," katanya.
Korban yang Kehilangan Rumah akan Direlokasi
Sementara itu Rombongan BNPB RI berkunjung ke lokasi bencana di Kambiow kelurahan Bitung Kecamatan Amurang, Jumat (17/6/2022).
Rombongan dipmpin oleh Kepala Badan Letjen TNI Suharyanto S.Sos, M.M, didampingi Bupati Minsel Franky Donny Wongkar SH.
Suharyanto mengatakan, dirinya mendapat instruksi dari Presiden untuk lakukan peninjauan lokasi bencana.
Melihat langsung kondisi di lokasi, Suharyanto mengaku kaget.
"Selama ini hanya melihat lewat televisi ternyata di lokasi ini memang parah.
Lokasi bencana sampai saat ini masih belum aman," kata Suharyanto.
Dia juga menambahkan kalau kunjungannya untuk memastikan tahap-tahap bencana berjalan dengan semestinya.
Di mana Minsel saat ini sebagai daerah tanggap darurat bencana selama 14 hari kedepan.
"Sampai saat ini ada 133 KK yang terpaksa mengingsi. Ada 41 rumah yg terbawah air dan sampai tadi pagi masih ada. Total kerugian sekitar 55 miliar rupiah," ujar Suharyanto.
Dia memastikan ada bantuan rumah untuk korban yang rumahnya hanyut.
"Sudah jelas akan dilakukan relokasi dan dibangun rumah buat warga yang kehilangan rumahnya akibat bencana ini.
Masyarakat yang rumahnya hilang akan dipindahkan, sudah disediakan lahan oleh pemerintah," paparnya.
Dia minta agar pemerintah daerah menyiapkan lahan yang tidak bermasalah untuk relokasi nanti.
"Saya mau untuk lokasi relokasi nanti itu clean and clear tidak ada sengketa," pungkasnya.
Selain meninjau lokasi bencana, rombongan juga mengunjungi pos pengungsian yang ada di kelurahan lewet Amurang bertempat di BPU kelurahan Lewet.
Rombongan memberikan bantuan berupa sembako dan barang lainnya termasuk 500 juta rupiah untuk dana bantuan tanggap darurat. (Isak)
• Komentar Ganjar Pranowo soal Namanya yang Masuk Usulan sebagai Salah Satu Capres oleh Nasdem
• Profil Irjen Rudy Sufahriadi, Kapolda Sulteng yang Ditemui Jenderal Andika, Pati Spesialis Terorisme
• Stafsus Bidang Hukum Pemkab Minut Berterima Kasih ke GTI: Pengelolaan Anggaran Tepat Sasaran
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News